Suatu perjanjian

1023 Kata
"Udah, nggak usah dibahas! Paham?" putus Dion, lalu ia segera memakai sealt bealt pada tubuhnya itu, dan mulai menyalakan mesin mobil, supaya segera sampai pada tujuan. Belum juga dapat kesempatan untuk menjawab ucapan dari Dion, tiba-tiba saja terdengar bunyi suara nada dering telepon yang mencirikan, jika ada telepon yang masuk dan itu bersumber dari telepon milik Dion. "Key, tolong dong liatin dulu siapa yang nelpon!" perintah Dion, yang tentu saja langsung disetujui oleh Keysa, karena ia juga tahu jika laki-laki di sampingnya itu tengah fokus, untuk menyetir. Jadi, sangat tidak mungkin sekali, jika harus mengangkat telepon yang tiba-tiba saja masuk seperti ini. "Dari mama lo," ucap Keysa, dan memberitahu saat nama yang terpampang di layar ponsel, memanglah nama dari mama milik Dion. "Tolong angkatin dulu bisa enggak? Soalnya saya lagi fokus, nih! Enggak mungkin juga, kan kalau lagi nyetir, terus saya angkat telepon. Kalau ada kejadian apa-apa, kan takut!" perintah Dion, dengan kepala yang sama sekali tak melihat ke arah Keysa itu, karena laki-laki tersebut sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh mamanya itu. "Jadi gue yang ngomong, nih? Enggak lo aja? Nanti gue deketin aja ponselnya ke mulut lo!" ucap Keysa, dengan raut wajah yang sedikit bingung, karena ia juga masih berasa seperti tidak siap jika harus mengangkat telepon dari orang yang sedikit berarti. "Iya, Key! Iya lo yang jawab, lo yang ngomong sama mama dulu. Soalnya gue itu nggak bisa kalau ngomong ini itu, apalagi gue itu nyetir mobil. Jadi, gak mungkin banget kalau gue juga yang harus bagi konsentrasi, antara ngobrol sama mama saat di jalan. Oke?" Dan tanggapan dari Keysa, hanyalah embusan napas, lalu tangannya itu bergerak untuk menggeser tombol hijau dan meletakkan ponsel milik Dion mendekat ke telinganya. "Halo, Dion! Ya ampun! Angkat telepon dari mamanya aja lama banget! Kenapa, sih sibuk banget? Oh iya, kamu sekarang lagi ada sama Keysa nggak?" Suara dari Reta, selaku mama dari Dion itu langsung terdengar di telinga Keysa. Dan bodohnya lagi, Keysa itu tidak mengeraskan suara panggilan teleponnya, sehingga yang menjawab pun harus otaknya sendiri. Ia berpikir terlebih dulu, sembari menggaruk tengkuknya yang sebenarnya itu tak gatal. Perempuan tersebut pun memutuskan untuk menjawab, "Assalamu'alaikum, Tante! Ini Keysa, Dion lagi nyetir mobil soalnya, jadi nggak mungkin banget kalau nerima telepon." "Oh, ya ampun, Sayang! Kalian sekarang lagi ada di mana?" tanya Reta, dengan suara yang sangat lembut sekali, sehingga membuat Keysa tersenyum mendengarnya. "Hehe, lagi ada di jalan, Tante! Sebentar lagi kayaknya sampai ya, Mas?" tanya Keysa, yang selalu berpura-pura untuk memanggil Dion, dengan panggilan 'Mas' supaya lebih sopan juga. "Mau ke kosannya kamu ya? Jangan dulu, suruh aja Dion langsung ke rumahnya Dion sendiri gitu ya! Nanti sekalian kamu juga sini, makan bareng sama keluarga besar. Soalnya lagi ada kumpulan di sini!" titah Reta, yang membuat Keysa justru semakin bingung dan tak enak. Seakan dirinya juga sudah masuk ke dalam keluarga Dion, padahal jika semua tahu mungkin akan marah besar. "Oh iya, baik, Tante! Nanti Keysa omongin sama Mas Don dan itu kata Mas Dion juga setuju, Tante. Soalnya, Mas Dion ngangguk aja," ucap Keysa, lalu setelah berucap seperti itu ia langsung menggigit bibir bawahnya, karena takut jika ia salah berbicara. "Ya udah, hati-hati ya, Nak! Tante tunggu di sini, cepetan sampai! Assalamu'alaikum!" ucap Reta, untuk mengakhiri sambungan telepon yang diawali olehnya itu. Keysa menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Iya, Tante. Wa'alaikumussalam, terima kasih ya!" Setelah itu, sambungan telepon pun terputus. Keysa menyerahkan kembali ponsel milik Dion dan diletakkan ke tempat asal yang tadi ia ambil. "Mama bilang apa? Tadi kok kayaknya serius banget sih?" tanya Dion, setelah Keysa meletakkan ponsel miliknya kembali di tempat asal, yang tadi perempuan tersebut ambil. "Katanya, kita pulang jangan ke kosan gue, tapi ke rumahnya lo! Soalnya ada keluarga besar lo yang datang, jadi kita di sana nanti makan-makan," jelas Keysa, yang membuat Dion langsung menganggukkan kepalanya. Namun, beberapa detik kemudian ia langsung tersadar dan mengusap wajahnya. "Ya ampun, Key! Kalau sampai bener keluarga besar gue datang, itu berarti lo bakal dikenalin sama mereka. Soalnya mama sama ayah pasti sudah ngasih tahu ke mereka, makanya mereka datang." Seketika wajah milik Keysa langsung pucat pasi dan ia bertanya, "Seriusan kaya gitu? Ya ampun! Mana gue belum siap lagi buat ketemu keluarga besar lo, kan kita itu cuma pura-pura tadi, kok malah kayak gini sih? Lo parah sumpah, apa mesti pura-pura sakit aja ya?" Mendengar ucapan, atau lebih tepatnya adalah usulan yang diutarakan oleh Keysa, tentu saja membuat Dion langsung menyentil dahi milik Keysa pelan, lalu berujar, "lo itu aneh ya! Kalau lagi khawatir atau parno. Kan tadi gue udah bilang, santai aja. Enggak mungkin banget kalau tiba-tiba sakit, itu kek gak masuk akal banget gitu!" "Dan kalau pun lo buat alasan sakit, mereka itu bahkan tetep kekeh ketemu sama kamu. Mungkin mereka bakal nyusul ke kosan lo," sambung Dion, yang kembali membuat Keysa merasa khawatir dan juga tak tenang hatinya. "Ya ampun, kok seram banget ya? Gue itu nggak pernah lo bayangin kayak gini! Gue itu masih pengen fokus sama kuliah masa sih gue harus dipertemukan sama keluarga besar lo! Eum ... saya mundur aja ya, dari perjanjian kayak gini. Enggak apa-apa deh saya ga kerja lagi juga!" Permintaan Keysa yang seperti itu, tentu saja tak langsung dikabulkan oleh Dion. Laki-laki itu langsung mencekal tangan milik Keysa dan berucap, "Enak aja, itu kan sudah kesepakatan kita, dulu sama-sama kita udah sepakat, kalau setuju sama apa yang menjadi pasangan pura-pura, dan gue juga bakalan ngasih kerjaan sama kamu! Itu perjanjian, loh!" "Jadi, nggak bisa semudah itu buat lari dari tanggung jawab, meskipun surat perjanjian itu belum sempet gue bikin, tapi kita itu udah perjanjian lisan dan perjanjian segalanya, yang namanya janji itu, kalau diingkari ati-ati loh!" ancam Dion, pada akhir kalimatnya yang membuat Keysa memilih diam dan tak mengeluarkan suara sama sekali, karena detak jantung yang terus saja berdetak lebih kencang. Itu sudah mewakili perasaannya saat ini. Dion kembali menghembuskan napasnya, lalu ia kembali berucap, "Enggak usah takut, deh, sama keluarga besar gue, mereka semua itu baik-baik kok! Enggak kayak yang ada di pikiran lo, semuanya baik-baik, welcome juga kok! Orangnya juga ramah-ramah, banyak ngomong terus juga gampang berbaur. Jadi, santai ajalah mereka itu cuma mau tahu lo!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN