Keluarga besar

1022 Kata
Setelah diberi penjelasan seperti itu dari Dion, membuat Keysa sedikit tenang dan ia juga percaya, jika pun seseorang memiliki sifat yang tidak terlalu welcome, lama-kelamaan juga kalau sudah mengenal pasti akan baik. Sehingga, kini Keysa memilih untuk percaya dengan Dion. Ia tak ada kata protes sama sekali yang keluar dari mulutnya dan mengikuti saja apa kata tadi Dion itu. Cukup lama bagi Dion untuk menggerakkan mobilnya, supaya segera sampai di rumahnya. Sampai akhirnya, Dion tiba di depan rumahnya dengan pagar yang masih tertutup, lalu ia membunyikan klakson satu kali dan membuat pagar tersebut terbuka. Bukan karena otomatis, tapi memang ada yang membukakannya. Yaitu, satpam dari rumahnya itu. Dan ternyata memang benar, di parkiran rumah milik Dion, itu sudah banyak sekali mobil-mobil yang terparkir. Bukan dari mobil milik orang tua Dion, tetapi keluarga besar dari laki-laki tersebut. "Duh, kok gue rasanya deg-degan banget ya? Gimana kalau gue sekarang pulang aja?" tanya Keysa, dengan raut wajah yang memang sudah mencirikan jika dirinya itu sangat percaya diri sekali dan ingin segera keluar dari dalam mobil, lalu melangkah pergi meninggalkan rumah milik Dion. Namun, Dion langsung melihat ke arah Keysa dan mengedipkan kedua matanya, lalu berucap, "Tenang, tarik napas dulu, terus buang! Keluarga besar gue itu enggak galak kok, gak jahat juga. Semuanya itu baik, percaya deh! Nanti kalau lo emang gak betah sama mereka, lo bisa langsung ngomong ke gue, buat segera pulang." Dan mendapat tawaran seperti itu dari Dion, tentu saja langsung membuat Keysa merasa senang dan cukup lega, untuk memastikannya, Keysa kembali bertanya, "Seriusan ya? Nanti kalau gue ngerasa nggak nyaman, di situ lo harus tanggung jawab, langsung anterin gue balik kosan!" Tentu dengan sangat mudah sekali, Dion langsung menganggukkan kepalanya, lalu menjawab, "Iya, cuma nganterin lo ke kosan mah enggak ada masalah! Santai aja, lagian masih di daerah Jakarta kok." Dan Keysa langsung menganggukkan kepalanya, setuju akan apa yang diucapkan oleh laki-laki di sampingnya itu. Sampai akhirnya Dion berucap, "Ya udah, ayo turun ngapain bengong!" Tak ada sahutan dari Keysa, perempuan tersebut memilih untuk langsung membuka sealt belt yang masih menempel di tubuh, lalu tangan kirinya bergerak untuk membuka pintu mobil. Turun dari mobil milik Dion, merapikan pakaian yang ia kenakan terlebih dahulu, memantaskan dirinya di kaca milik mobil. "Udah cantik kok, enggak usah dandan terus! Mentang-mentang mau ketemu sama calon keluarga besar, terus harus perfect gitu penampilannya?" tanya Dion, sembari menatap ke arah Keysa yang masih saja berkutat dengan kaca mobil. "Ya udah sih, yang namanya cewek itu udah kodratnya buat ngaca, karena perempuan itu suka dan sangat bangga kalau dibilang cantik. Paham?" sahut Keysa, yang tak mau kalah dari Dion. "Dih, kalo terus-terusan ngaca, kan nanti bisa-bisa kamu itu ditemani sama makhluk halus, loh! Enggak baik," ucap Dion, yang membuat Keysa langsung merinding dan memilih untuk melangkahkan kakinya terlebih dahulu, ke arah pintu utama milik rumah dari Dion. "Loh bukannya nyaut, malah mainnya nyelonong gitu aja! Emang bener yah, lo itu enggak ada sapan satunya sama sekali!" seru Dion, dengan suara yang lumayan ia tinggikan, karena langkah kaki Keysa itu sudah terlebih dahulu di depannya. Tak ada sahutan yang dikeluarkan oleh Keysa, perempuan tersebut memilih untuk menjulurkan lidahnya keluar dari mulut dan terus melangkahkan kakinya, hingga tepat di depan pintu. Namun, setelah itu ia tak berani untuk bertindak, hanya berdiri di depan pintu, sembari menunggu Dion yang tengah melangkahkan kaki menuju ke arahnya. "Kenapa berhenti? Tadi itu kayak udah yakin banget gitu ninggalin gue? Kenapa pas udah di depan pintu malah diam?" ledek Dion, sembari menahan rasa ingin ketawa. "Ya elah! Ya suka-suka gue, lah! Mau gue lanjut kek, berhenti kek, mau gue diem gak ada urusannya sih sama lo!" protes Keysa, dengan nada yang tak bersahabat sama sekali. Dan dari pada ia menyahuti perempuan di depannya yang menyebalkan itu, sehingga nanti akan mendapatkan kecurigaan dari mamanya. Maka Dion memilih untuk melangkahkan kakinya terlebih dahulu, untuk masuk ke dalam rumah. Diikuti dengan Keysa, yang tanpa rasa berdosa dan bersalah. "Tuh, kan! Emang dasarnya sih lo itu gak berani! Bilang aja takut buat masuk!" cibir Dion, sembari terus menggerakkan kakinya untuk segera masuk ke dalam ruang tamu. "Berisik, deh! Jangan ngajak ribut di sini, ini itu rumah lo bisa-bisa kita terbongkar rahasianya!" protes Keysa, lalu ia berpura-pura untuk tak terjadi apa-apa. Melangkahkan kaki mereka, dan tak terasa sudah berada di ruang tamu. "Nah! Akhirnya, nih yang ditunggu-tunggu itu datang juga! Kenapa lama banget sih datangnya?" Reta langsung berdiri dari posisi duduknya dan menghampiri Dion. Mendapat pertanyaan seperti itu, Dion juga langsung menghampiri mamanya yang juga tengah berjalan ke arahnya, lalu meraih tangan kanan dari Reta dan mencium punggung tangan tersebut. "Hehe, maaf, Ma. Yah sendirilah kota jakarta itu gimana macetnya, jadi ya harus sabar-sabar." Apa yang dilakukan oleh Dion tersebut, membuat Keysa juga terinspirasi. Sehingga ia mendekat ke arah Reta dan melakukan apa yang tadi dilakukan juga oleh Bimo, membuat Reta langsung mengulas senyum dan berucap, "Ini, nih menantu saya. Sopan santu, baik, cantik, sempurna deh pokoknya." Setelah Keysa diperkenalkan oleh Reta, yaitu mama dari Dion. Maka semua keluarga besar Dion langsung menerima jika Keysa yang menjadi kekasih. Mereka semua juga langsung memberi beberapa pertanyaan yang sangat banyak, dan detik itu juga Keysa menjadi topik utama, juga menjadi salah satu orang yang diberi banyak pertanyaan. Ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh Dion, keluarga besarnya itu sangat welcome dan ramah sekali, membuat dirinya bahkan sangat nyaman di tengah-tengah mereka semua. Cukup ramai, apalagi ada beberapa anak kecil di situ, membuat Keysa langsung teringat akan adiknya yang berada di kampung. "Gimana keluarga besar gue? Mereka itu baik-baik, kan? Enggak sejahat atau seseorang yang lo bayangin?" tanya Dion, saat mereka berdua tengah berada di meja makan, karena tadi dipersilahkan oleh Reta untuk makan dan mengisi perut terlebih dahulu. Mendapat pertanyaan yang seperti itu dari Dion, tentu saja membuat Keysa langsung mengeluarkan senyumannya, tapi itu lebih tepatnya adalah senyuman malu, karena Keysa sudah berfikir ke hal yang negatif dan menjawab, "Hehe yang namanya orang takut, semuanya juga bakal jadi negatif. Enggak mungkin kalau orang takut tuh bisa berfikir positif!" Dan Dion memilih untuk langsung menganggukkan kepalanya, tak mengurusi apa yang diucapkan oleh Keysa itu, lalu tangan kanannya juga kembali memasukkan makanan ke dalam mulut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN