Sesuatu nanti besok

1006 Kata
"Ma, Keysa mau pulang dulu, lagian udah sore juga. Jadi takut nanti pas nyampe di kosan malah jadinya malam, kan gak baik kalau perempuan itu pulangnya malem-malem," ucap Dion, yang kini tengah meminta izin pada mamanya supaya dapat memulangkan Keysa terlebih dulu, meskipun semua keluarga besarnya masih berada di sini. Bahkan, rencananya itu akan menginap. "Oh gitu, ya udah. Sayang, nanti jangan lupa ya besok ke sini lagi jam sembilan atau jam sepuluh, kamu nanti lebih baik izin saja dulu sama Dion, nggak berangkat buat kerjanya! Dion juga jangan masuk ke kantor, nanti Mama ada sesuatu yang harus diomongin dulu," sahut Reta, yang membuat Dion dan juga Keysa saling berpandangan, lalu kembali menatap ke arah Reta lagi. "Kalau boleh tahu, Tante, yang bakal dibicarain itu tentang apa ya?" tanya Keysa dulu, karena ia takut jika akan membicarakan hal-hal tentang hubungannya dengan Dion, lalu menuju ke jenjang pernikahan. Mendapat pertanyaan seperti itu dari calon menantunya, membuat Reta langsung mengulas senyum dan mengusap puncak kepala Keysa dengan lembut, lalu menjawab, "Pokoknya ada, nanti besok bakal Tante kasih tahu semuanya, secara jelas juga!" Dan Keysa hanya dapat menganggukkan kepalanya canggung, karena ia juga tak mungkin memaksa Reta untuk jujur sekarang dan mengutarakannya saat ini juga. "Ya udah, Ma. Nanti besok Keysa ke sini, dan juga besok aku nggak berangkat buat kerja ya, Mas," ucap Keysa, lalu menatap wajah Dion, dengan sangat serius. Panggilannya pun sengaja ia ubah, supaya terlihat seperti sangat romantis sekali. Dion yang mengerti pun juga langsung menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Iya, aku izinin kamu enggak masuk kerja, lagipula ini juga akan pasti tentang perjalanan cinta kita. Iya kan, Ma?" "Udah, deh, Dion! Kamu tuh enggak usah ngulik-ngulik Mama terus, Kamu mah nanti perlahan-lahan itu juga bakalan kebuka semua! Udah, ah, nanti besok juga Mama pasti kasih tau kok sama kalian!" sahut Reta, ternyata yang benar-benar tak ingin jika rencananya itu terbongkar. Karena mendengar mamanya yang memang tidak ingin membuka rahasia tentang nanti besok, maka Dion pun memilih untuk menganggukkan kepalanya, lalu berucap, "Ya udah, Ma, kalau kayak gitu Dion mau nganterin Keysa pulang dulu ya, Ma>" Reta pun langsung menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Ya udah iya. Hati-hati ya Dion, dan, Sayang jangan lupa nanti besok ya!" "Siap, Tante," jawab Keysa, lalu meraih tangan kanan milik Reta dan mengecup punggung tangan tersebut. Setelah itu mengulas senyum dan melangkahkan kaki untuk segera keluar dari ruang tamu itu, tentu setelah mereka berpamitan pada keluarga besar dari Dion. Keduanya sama-sama menahan penasaran dan tidak ingin bertukar pikiran, saat masih berada di dalam rumah milik Dion. Sampai akhirnya Dion dan Keysa sudah masuk ke dalam mobil milik Dion, dan Keysa langsung membalikkan tubuhnya untuk menatap wajah Dion. "Nyokap lo, mau ngomongin apa sih? Sampe-sampe dibilang ngomong sekarang ajang nggak mau?" tanya Keysa terlebih dahulu, yang tentu dijawab gelengan kepala, diiringi dengan bahu yang digerakkan ke atas, lalu kembali turun ke bawah. "Gue takut, nih kalau kek gitu!" ujar Keysa, saat mendapat cobaan yang seperti itu dari Dion. Dion tak menggubris ucapan Keysa terlebih dahulu, lebih memilih untuk menyalakan mesin mobil dan perlahan menggerakkan mobil miliknya itu, supaya cepat keluar dari halaman rumah. Setelah beberapa meter saja mobil itu berjalan, baru Dion berucap, "Ngapain harus takut sih? Palingan juga nanti itu ngomongin tentang hubungan kita berdua." Dan Keysa langsung mengernyitkan dahinya. "Hubungan kita berdua? Kita? Memangnya kita punya hubungan apa, sih? Kok lo juga tenang banget ya? Kek nggak ada beban gitu?" Dion kembali mengedikkan kedua bahunya, lalu menjawab, "Kenapa harus dijadiin beban? Tinggal nanti besok datang ke situ aja, tenang gue jemput lo kok ke kosan. Terus kita ke rumah gue sama-sama, deh!" Mendengar jawaban Dion yang benar-benar santai seperti itu, membuat Keysa sangat kesal dan gemas. Namun, ia melampiaskannya itu dengan kedua telapak tangan yang terkepal, lalu memutar bola matanya malas. "Aneh gue sama jawaban lo! Jangan-jangan lo jatuh cinta beneran deh sama gue?" "Kalau emang gue jatuh cinta beneran sama lo, gimana?" Pertanyaan Dion yang langsung keluar seperti itu, membuat Keysa menatap wajah Dion tanpa mengedipkan mata sama sekali. "Ngaco lo!" sahut Keysa, lalu mengalihkan pandangannya, memilih untuk melihat ke arah jalan sekaligus membunyikan raut wajah yang sedikit senang karena mendengar ucapan laki-laki di sampingnya itu. "Gue serius. Kalau gue beneran suka sama lo, gimana?" jawab Dion, yang sama sekali tak digubris oleh Keysa. Dion menyadari akan hal itu, tetapi ia lebih memilih untuk diam saja dan juga membiarkan perempuan tersebut sibuk dengan kegiatan melihat-lihat ke arah jalan. Lagian, ia berucap seperti bukanlah sungguh-sungguh, hanya menguji bagaimana reaksi dari perempuan yang ada di sampingnya itu. "Enggak ada jawaban? Berarti gue boleh dong buat berjuang dapetin hati lo?" ujar Dion, yang mampu membuat Keysa langsung menoleh, dengan kedua mata yang membulat sangat sempurna. "Sembarangan! Gue belum jawab sama sekali!" protes Keysa, sembari melempar tatapan aneh pada Dion. Laki-laki itu memilih untuk mengedikkan kedua bahunya dan menjawab, "Masalahnya itu, gue enggak butuh jawaban dari lo sama sekali!" "Dih! Pantes aja enggak ada cewek yang suka sama lo, ternyata ini penyebabnya. Keras kepala!" ujar Keysa, dan kali ini membuat Dion yang langsung menatap perempuan itu tak terima. "Kenapa? Enggak suka dibilang keras kepala? Padahal kenyataannya kan emang gitu!" tanya Keysa terlebih dulu, sebelum Dion mengeluarkan satu kata pun. "Dasar perempuan menyebalkan!" desis Dion, tetapi masih dapat terdengar oleh Keysa. "Kalau ngomong ati-ati! Segini gue menggemaskan," protes Keysa, yang tak terima dibilang seperti itu. Lelah jika harus menjawab perdebatan seperti itu, Dion pun akhirnya lebih memilih untuk bungkam dan memfokuskan dirinya pada rute menuju ke indekos milik perempuan yang ada di sampingnya itu. Karena tak ada jawaban yang dilontarkan oleh Dion, Keysa pun berniat untuk mengambil ponsel miliknya, tetapi ia langsung mengingat jika ponsel miliknya belum diisi apa pun. "Eh, ponsel gue tuh masih ada di mobil ini, kan? Mana?" tanya Keysa, dengan tangan kanan yang sudah berada tepat di depan wajah. Mendengar pertanyaan Keysa yang seperti itu, membuat Dion memilih untuk segera menepikan mobil miliknya, dan tangan kanannya merogoh bagian tempat duduk bagian bawah, karena ia sengaja meletakkan ponsel tersebut di situ. "Nih! Masih utuh, kan?" ujar Dion, sembari menyerahkan ponsel tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN