"Sembarangan! Segini ganteng," balas Dion, dengan satu mata yang digerakkan sangat genit.
Sedangkan Keysa yang melihat seperti itu, hanya menunjukkan wajah yang berpura-pura ingin muntah.
"Haha! Santai dong tuh muka!" tegur Dion, sambil mencubit pelan hidung milik Keysa.
"Sakit tau, Dion!" sentak Keysa, sambil mengusap-usap hidung miliknya itu.
"Apaan? Orang gue tadi nyubit enggak keras kok," bantah Dion, tak setuju dengan ucapan yang keluar dari mulut Keysa tadi. "Kek gini nih!" Dion kembali mencubit hidung milik Keysa, sebagai perumpamaan katanya.
Namun, Keysa mengartikan lain. Perempuan itu tak terima diperlakukan seperti tadi, membuatnya langsung memilih untuk mencubit keras perut laki-laki yang ada di depannya. Cukup keras sekali cubitan itu, sampai-sampai Dion langsung meringis dan mengusap-usap perut miliknya itu.
"Enak? Sakit? Atau mau nambah?" tanya Keysa, dengan wajah yang sangat tak bersahabat lagi, dan juga tubuh yang bersandar pada badan mobil.
Bukannya menjawab, Dion justru melangkahkan kakinya untuk lebih dekat dengan Keysa, memajukan wajahnya lagi hingga sangat-sangat dekat dengan perempuan yang saat ini berada pada pantulan bola matanya. Hembusan napas yang sudah terasa, membuat Keysa langsung memilih untuk memejamkan mata, tak ingin melihat apa yang akan terjadi setelah ini.
"Jangan senderan di situ! Lebih baik di pundak saya," celetuk Dion, yang saat itu juga langsung membuat Keysa membuka mata dan membulat dengan sempurna.
Tanpa mengucapkan kata apa pun, Keysa langsung mendorong pelan tubuh Dion, membereskan baju yang ia kenakan dan berucap, "Maaf, tadi terlalu dekat."
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Dion, hanya tatapannya saja yang tak lepas dari wajah Keysa, hal itu tentu saja membuat Keysa langsung salah tingkah sendiri.
"Eum ... gimana sih! Katanya tadi mau istirahat?" tanya Keysa, yang sudah mencoba untuk menjauh dari posisi Dion saat ini, lalu menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal itu.
"Ya udah, ayo! Dari tadi liatin gue terus, sih!" Dion langsung memasukkan tangan kanannya pada saku celana, meraih kunci mobil yang memang berada di situ.
Keysa hanya mengedikkan bahunya saja, dengan bibir yang mengoceh tanpa suara. Muak dengan laki-laki yang terlihat di pandangannya itu, tetapi orang itu yang sudah membuatnya bekerja seperti saat ini, meskipun masih terhitung dalam satu hari.
Tanpa bersuara sama sekali, Keysa langsung menggerakkan tangan kanan untuk membuka pintu mobil milik atasannya itu, masuk ke dalam dengan wajah datar dan memilih untuk memainkan ponsel yang baru saja ia ambil dari dalam tas.
"Enggak sopan! Kalau ada orang di sampingnya, ajak ngobrol!" tegur Dion, lalu tanpa permisi lagi, ia langsung mengambil ponsel milik Keysa itu.
Apa yang dilakukan Dion yang seperti itu tentu saja membuat Keysa sedikit terkejut dan langsung membulatkan matanya dengan sempurna.
"Justru lo yang gak sopan tahu enggak, sih?" sentak Keysa, lalu ia berusaha untuk kembali mengambil ponsel miliknya, yang sudah berada pada genggaman tangan kanan milik Dion.
Tentu saja hal itu tak semudah apa yang dibayangkan oleh Keysa, karena Dion justru langsung menjauhkan ponsel tersebut dari usaha Keysa, yang ingin meraih ponsel miliknya kembali.
"Dibilangin itu, ngeyel banget sih! Kalau ada orang di samping lo, itu bukan main ponsel, tapi diajak ngobrol," ujar Dion, sembari menempatkan ponsel milik Kiara di belakang tubuhnya.
"Ya elah! Ya udah balikin ponsel milik gue! Janji deh gak bakal dimainin lagi!" pinta Keysa, dengan raut wajah yang memasang sedih. Bahkan terlihat seperti merana.
"Enggak akan gue balikin lagi ponselnya, dan selama istirahat, lo itu harus terbiasa tanpa ponsel," ujar Dion, lalu meletakkan ponsel milik Keysa di bawah kakinya, dan memilih untuk langsung menyalakan mesin kendaraan roda empatnya, bersiap untuk melajukan mobil miliknya.
Terima tak terima, mau tak mau, tapi Dion saat ini adalah atasan dari Keysa. Jadi, jika melanggar sedikit atau mengeluarkan protes, itu akan mengancam karir yang sedang dimiliki. Apalagi di saat seperti ini, ia membutuhkan biaya untuk meneruskan kuliahnya, jadi Keysa memilih untuk diam, tetapi di dalam hati ia benar-benar kesal.
"Wajahnya gak usah ditekuk kek gitu! kalau pada dasarnya jelek tetep aja jelek!" ledek Dion, sembari menyipitkan mata sebelah kirinya, karena sedari tadi Keysa menunjukkan wajah yang selalu sedih dan juga cemberut.
Di mana-mana yang namanya perempuan itu selalu ingin diberi ucapan yang sweet, tapi Keysa justru mendapat ucapan yang seperti itu.
Tentu saja membuat Keysa semakin kesal, dengan laki-laki yang berada di sampingnya itu, tetapi mulut miliknya tak ingin mengutarakan apa pun. Hanya ada suara radio yang berada di dalam mobil tersebut.
Sadar akan keheningan yang tercipta di tengah-tengah mereka, Dion langsung memilih untuk mematikan radio tersebut dan menolehkan kepala, pandangannya berpusat ke wajah milik Keysa.
Pandangan yang dilemparkan oleh Dion tersebut, tentu saja membuat keysa sedikit takut. Ia pun memilih untuk menoleh dan pandangannya ke arah kaca mobil, sehingga Kiara dapat melihat beberapa kendaraan yang berlalu lalang.
Karena tak ada reaksi apa pun yang ditunjukkan oleh Keysa, Dion pun memilih untuk mengangkat bahunya dan membiarkan perempuan yang ada di sampingnya itu sibuk dengan kegiatan melamun. Memperhatikan beberapa kendaraan yang melintas, dan juga mungkin melihat orang yang mengendarai kendaraan tersebut.
"Kita mau istirahat di mana sih? Kok perasaan dari tadi gak sampai-sampai?" tanya Keysa, saat dirinya tersadar jika sudah hampir satu jam, Dion tak menghentikan sama sekali kendaraan yang dikemudikannya itu.
Bukannya menjawab, Dion justru menghentikan mobil miliknya dan berhenti ke tepi jalan, melempar tatapan sinis pada perempuan yang berada di sampingnya itu, yang akhirnya membuka suara juga. "Harusnya itu dari tadi nanya kek gitu! Supaya gue tahu kita itu sebenarnya mau pergi ke tempat mana?"
"Jawaban yang konyol tahu gak? Gue kira yang ngatur tempatnya itu lo, bukan gue! Tau gitu mah, gak usah ikut sama lo lagi!" protes Keysa, dengan wajah yang benar-benar sangat tak bersahabat sekali, karena ia tak paham dengan pola pikir yang dimiliki oleh laki-laki di sampingnya itu.
"Loh siapa yang bilang kayak gitu? Gue kan cuma ngajak buat istirahat, bukan gue juga yang nentuin tempat kita berdua buat istirahat," ujar Dion menjelaskan.
Penjelasan Dion yang seperti itu, bukannya membuat Keysa tenang, tetapi justru frustrasi. Sangat-sangat frustrasi, sampai-sampai ia mengusap wajahnya dengan sangat kasar menggunakan kedua tangannya itu. "Kenapa gak dari awal bilangnya? Nanti gue juga bisa kali nyariin tempat buat makan, kalau sekarang kita itu udah buang waktu sampai satu jam, nyadar enggak sih?"
Dengan tampang tak berdosa sama sekali, Dion justru mengedikkan kedua bahunya. Menunjukkan raut wajah yang benar-benar bodo amat, lalu ia menjawab, "Ya gue juga gak kepikiran sampai ke situ, suruh siapa dari tadi lo diem aja?"