Hari pertama kerja

1004 Kata
“Memang! Karena jabatan lo sebagai asisten Pak Dion. Asal lo tau ya, baru pertama kali ini Pak Dion merekrut asisten buat dirinya sendiri,” ucap salah satu perempuan yang sedikit lebih berumur dari yang lainnya. Mendengar penuturan yang seperti itu, membuat Keysa sedikit bingung sekaligus heran. "Seriusan? Jadi selama ini, dia sendirian?" Friska dan yang lainnya menganggukkan kepala mantap. "Pak Dion itu orangnya bener-bener cekatan. Kinerjanya bangus banget. Maklumlah, atasan." "Makanya, kalau ada karyawan yang ketahuan malas, langsung dikeluarin," timpal yang lain. "Ya udah deh, kalau gitu gue balik kerja," pamit salah satu di antara mereka, yang langsung diikuti yang lain. Saat Friska juga akan melangkah pergi meninggalkan Keysa, langkah kakinya langsung terhenti. "Eh! Lo sendiri gimana? Kerjanya di dalam ruangan situ, atau gimana?" Keysa hanya mengedikkan bahunya, karena dirinya memang benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan. "Gue enggak tau, cuma disuruh berbaur sama karyawan di sini. Katanya biar enggak asing sama karyawan yang ada di sini," ujar Keysa yang langsung ditanggapi anggukan kepala oleh Friska. "Eum ... kalau gitu, lo ikut gue sekarang, yuk!" ajak Friska, lalu tanpa izin langsung menggandeng tangan Keysa dan menuju ke tempat di mana dirinya bekerja. Setelah sampai di meja milik Friska, dengan cekatan Friska mengambil satu kursi yang nganggur, membawanya di samping kursi miliknya. "Ini tempat kerja gue, nanti kalau udah resmi jadi asisten Pak Dion, jangan lupa sama gue," ucap Friska, dengan nada bicara yang bercanda. "Pasti dong. Enggak mungkin gue ngelupain lo!" sahut Keysa, dengan pandangan mata yang menelisik seluruh sudut ruangan kantor ini. "Lo ada hubungan khusus ya sama Pak Dion?" tanya Friska, dengan tangan yang fokus mengetik pada keyboard komputer. Mendengar pertanyaan tersebut, membuat Keysa bingung apa yang harus ia jawab. "E-enggak kok. Kita enggak ada hubungan apa-apa." "Bohong!" sarkas Friska yang berhasil membuat Keysa diam, sembari memainkan jari-jari tangannya "Mohon maaf, apakah anda yang bernama Keysa?" tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba saja datang menghampiri Keysa. Dengan ragu, Keysa menganggukkan kepala dan menjawab, "Iya. Saya sendiri, ada apa?" "Anda dipanggil oleh pak Dion," jawab laki-laki itu, lalu langsung melenggang pergi dari depan Keysa dan Friska. "Gue pergi ya, Friska! Thanks udah mau jadi temen gue," pamit Keysa, lalu melangkahkan kaki pergi menuju ke ruangan milik Dion, tentunya setelah mendapat jawaban dari Friska. Mengetuk pintu ruangan milik Dion terlebih dulu, setelah terdengar sahutan dari dalam, barulah Keysa membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut. "Berbaur sama karyawan lain aja lamanya kebangetan," cibir Dion, yang berhasil membuat Keysa kembali kesal. "Tiap orang punya cara masing-masing," jawab Keysa, lalu duduk tanpa disuruh. "Kata siapa duduk?" tanya Dion, dengan wajah yang dipenuhi dengan tanya. Keysa tak menjawab, ia hanya mengedikkan bahunya. Antara tidak tahu jawabannya, atau malas untuk meladeni pertanyaan tak bermutu yang keluar dari mulut Dion. "Sudah tahu tugas seorang asisten pribadi?" tanya Dion, sambil menatap wajah Keysa dan tangan yang mengetuk meja. Keysa menganggukkan kepalanya mantap. "Sudah, Pak." "Sebutkan!" titah Dion, yang membuat Keysa langsung menyebutkan semua tugas-tugas menjadi seorang personal assisten. Untung saja, Keysa sudah melakukan persiapan terlebih dulu sebelum masuk ke dalam ruangan Dion, ia menyempatkan diri untuk mencari di google tentang tugas-tugas seorang asisten. "Bagus. Dari mana bisa tahu?" tanya Dion, dengan mata yang sengaja untuk menyipit. "Google," jawab Keysa dengan sangat bangganya, hingga membentuk sebuah senyuman. "Bangga?" Dengan sangat semangat ia menganggukkan kepalanya, lalu menjawab, "Tentu dong!" "Kenapa harus dari google?" "Karena google adalah pusatnya informasi." Dion menganggukkan kepala, sepertinya ia sudah kehabisan jawaban untuk berdebat. "Mau mulai kerja kapan? Sekarang atau besok?" "Sekarang bisa kok, Pak. Lagian tidak ada jam kampus, sangat tak mungkin jika saya berleha." "Ya sudah, ini semua jadwal yang dulu saya buat. Silakan diperbarui, kamu harus tahu siapa kolega-kolega yang nanti bakalan meeting," perintah Dion, ia memberikan buku kecil yang berisi seluruh jadwal kerjanya. Semua sudah dicatat rapi di buku tersebut, apalagi dengan tulisan yang sangat bagus. Untung saja, Keysa juga memiliki tulisan yang cukup memuaskan, tak terlalu jelek untuk dipandang. Keysa menganggukkan kepalanya, mulai hari itu juga dirinya resmi bekerja satu kantor dengan Dion, laki-laki yang dulunya sangat ia benci. Namun, sekarang justru keadaan semakin menyatukan keduanya. "Tunda dulu, kita istirahat, yuk!" ajak Dion, yang langsung membuat gerakan tangan kanan Keysa yang tengah menulis langsung terhenti. "Sudah istirahat, Pak?" tanya Keysa yang masih belum percaya. Dion mengangguk, lalu berdiri dan merapikan jas yang ia kenakan, melangkahkan kaki terlebih dulu ke luar dari ruangan. Diikuti dengan Keysa yang juga buru-buru keluar dari dalam ruangan dan segera menyejajarkan langkah kakinya dengan Dion. "Kalau masih belum ada yang kamu paham, bisa tanya ke saya," ucap Dion tiba-tiba, saat mereka baru saja keluar dari bangunan yang seluruhnya dipenuhi dengan pendingin ruangan. "Enak ya? Udaranya asri?" tanya Dion, yang tengah menghirup dalam-dalam aroma angin yang berhembus, dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Mendapati Dion yang seperti itu, membuat Keysa sedikit terpana. Karena sesungguhnya Dion memang sangatlah tampan. "Udah. Jangan ngeliatin terus, nanti suka," ucap Keysa yang langsung malu setelah berucap seperti itu. Keysa gelagapan, langsung menyembunyikan wajahnya dengan cara menunduk. Karena ia sangat yakin, jika saat ini pipinya pasti tengah memerah. "Oh iya, Pak--" Keysa tak melanjutkan ucapannya, karena tangan milik Dion yang berada di mulutnya. "Kalau lagi di luar kantor, enggak usah formal. Panggil sayang juga boleh," ujar Dion, yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya. "Lo kenapa sih nyebelin?" tanya Keysa, dengan bibir yang dikerucutkan. Dion berhenti tepat di depan Keysa, lalu menjawab, "Kamu tahu? Orang yang selalu dibilang nyebelin, ngeselin, atau sejenisnya. Itu adalah orang yang selalu dikangenin. Bener enggak?" "Enggak!" sahut Keysa, lalu melanjutkan langkahnya lagi menuju ke mana pun, yang terpenting menghindari tatapan mengintimidasi yang diberikan oleh Dion. "Mobilnya di sini, Sayang!" panggil Dion, yang membuat langkah kaki Keysa terhenti dan perlahan melihat ke belakang, di mana terdapat Dion yang tengah tersenyum menampakkan deretan giginya yang sangat putih dan bersih itu. "Dasar nyebelin!" teriak Keysa, dengan kedua tangan yang mengepal, lalu dengan sangat terpaksa ia membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kaki kembali ke arah Dion yang tengah tertawa. "Enggak usah ketawa! Jelek!" hina Keysa, yang langsung membuat Dion membulatkan matanya seketika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN