“Ceroboh!” desis Dion yang langsung mendapat tatapan tajam dari Keysa.
Segera menarik tubuhnya dari pelukan Dion, merapikan pakaian yang dikenakannya, lalu berdeham sebentar menetralkan rasa gugup yang tiba-tiba saja melanda.
“Udah yuk! Masuk ke kantor!” ajak Dion yang berjalan kikuk mendahului Keysa.
“Eh! Tungguin!” Dengan segera Keysa menyusul langkah Dion yang tertinggal baru beberapa langkah saja.
Dion tersenyum, setidaknya ia akan memiliki kesempatan lebih untuk bisa selalu lebih dekat dengan wanita yang sudah menempati hatinya saat ini. “Cepetan! Jalan kok kek siput!”
“Berisik banget sih lo! Enggak tau sih jadi gue gimana! Mana sekarang lagi pake sepatu high heels ,” gerutu Keysa yang membuat Dion menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Keysa yang tengah kesusahan.
“Kenapa jalannya berhenti?” tanya Keysa dengan tatapan heran, tetapi ia terus melanjutkan langkahnya lagi hingga tepat di samping Dion, barulah ia berhenti.
Menatap manik mata Keysa terlebih dulu, lalu tangannya meraih tangan kiri milik Keysa dan digandengkan pada lengannya. Perlakuannya membuat Keysa benar-benar heran dan tak dapat mengeluarkan kata-kata sama sekali.
“Yuk, jalan!” titah Dion, tetapi Keysa masih diam di tempat. Ia sama sekali tak bergerak dari tempat yang tadi, membuat Dion kembali mengernyitkan dahinya.
“Kenapa? Jangan mikir yang aneh-aneh! Katanya tadi lo susah buat jalan,” jelas Dion, yang langsung menyadarkan Keysa dari perasaan yang hampir saja akan tumbuh di dalam hatinya.
Keysa mengangguk, lalu berjalan terlebih dulu. Tanpa melepas gandengan tangan milik Dion. Masuk ke dalam kantor, Dion dan juga Keysa langsung mendapat banyak pasang mata yang menatap dengan bertanya-tanya.
“Pagi, Pak!” sapa salah satu karyawan dengan sangat ramah, dan berlalu setelah mendapat senyuman dari Dion.
“Lo beneran pemilik perusahaan ini?” tanya Keysa yang masih saja tak percaya dengan ucapan Dion waktu itu, mereka terus saja melangkah menuju ke ruangan milik Dion.
Menaiki lift terlebih dulu, lalu memencet nomor yang akan membawa menuju ke lantai lima. Tempat di mana ruangan pribadinya berada. Tak membutuhkan waktu yang sangat lama, hingga lift tersebut berbunyi dan pintu langsung terbuka.
Tak ada perkataan yang keluar dari mulut Keysa, sedari tadi ia hanya diam dan menatap kagum dengan semua keadaan sekitar kantor milik Dion itu. Setibanya di depan ruangan yang masih tertutup, Dion mengambil kunci yang berada di dalam tas yang ia bawa di sebelah tangan kiri.
Membuka ruangan tersebut dan mempersilakan Keysa untuk masuk ke dalam ruangannya itu. “Yuk, masuk!” menghidupkan pendingin ruangan yang terdapat di ruangan tersebut, lalu melepas jas yang dikenakannya terlebih dulu, dan duduk di kursi miliknya.
“Sudahlah! Tidak usah ada interview lagi! Gue tau lo kek gimana, dan gue percaya sama lo. Jadi, mulai hari ini lo resmi jadi asisten pribadi gue,” ucap Dion, pada Keysa yang masih betah dengan posisi berdirinya dan menatap Dion.
“Semudah itu?” tanya Keysa tak percaya. Mengapa tak sedari tadi ia meminta pekerjaan pada laki-laki yang ada di sampingnya ini?
Dion menyatukan kedua tangannya di atas meja, lalu bertanya, “Memangnya kenapa? Kamu keberatan?”
“Ya bukan gitu sih! Gue enggak nyangka aja gitu, ternyata semudah itu orang yang mau kerja,” jawab Keysa, sembari duduk di kursi yang berada di seberang Dion.
Berdeham sebentar, lalu berucap, “Kamu tidak paham dengan sopan santun berbicara? Bagaimana caranya jika tengah berbicara dengan seorang atasan.”
Mulut Keysa langsung tak dapat terbuka, saat mendengar ucapan Dion yang seperti itu, sebenarnya kesal dengan sikap Dion yang tiba-tiba saja formal seperti itu, tetapi ia juga langsung tersadar jika apa yang Dion katakan memang benar.
“Maaf, Pak,” ucap Keysa akhirnya, lalu menundukkan kepalanya.
“Kamu tahu tugas seorang asisten direktur utama itu apa?” tanya Dion, sambil menatap Keysa dengan tatapan yang sangat serius.
Keysa menggelengkan kepalanya pelan. Karena ia melanjutkan kuliahnya pada bidang akuntansi. Jadi ia akan paham tentang jurnal dan cara membuatnya. Bukan dalam hal seperti ini.
“Silakan keluar terlebih dulu, berbaur dengan karyawan-karyawan lain yang ada di luar, supaya mereka tidak merasa asing dengan kehadiran kamu di sini!” titah Dion disertai penjelasan yang langsung mendapat anggukan kepala dari Keysa.
Dengan langkah yang sangat berat, Keysa perlahan keluar dari ruangan Dion tersebut dan menutup pintunya kembali. Menatap perempuan dan juga laki-laki yang banyak berlalu lalang, semuanya serba sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Membuat Keysa bingung harus mulai dari mana dulu ia memperkenalkan diri?
Sampai pada akhirnya, ada seorang perempuan dengan hijab yang sangat panjang berhenti dan menatap Keysa dengan tatapan penuh selidik, lalu berucap, “Hay! Gue Friska.” Sambil mengulurkan tangan kanannya.
Dengan ragu, Keysa menjabat tangan perempuan yang bernama Friska tersebut, dan menjawab, “Gue Keysa.” Lalu melepas jabatan tangannya.
“Oh iya! Lo ngapain ya ada di depan ruangannya Pak Dion?” tanya Friska yang langsung membuat Keysa bingung harus menjawab apa, karena ia sangat tak percaya diri jika menjawab yang sebenarnya.
“Eum, gue asistennya Pak Dion,” jawab Keysa pada akhirnya, disertai dengan senyuman yang tersungging dari bibir.
Friska langsung menaikkan satu alisnya dan kembali bertanya, “Asisten? Asistennya Pak Dion?”
“Iya. Gue asistennya Pak Dion. Memangnya kenapa sih, kok aneh banget?” tanya Keysa balik, karena mata Friska menatapnya penuh dengan selidik.
“Gue salut sih sama lo! Punya hubungan khusus ya?” Mendengar pertanyaan yang terlontar lagi dari Friska, Keysa langsung kaget, mengapa perempuan yang di depannya ini bisa menduga hal yang seperti ini?
Bukanya menjawab, Friska justru memegang tangan Keysa dan berucap, “Ikut gue yuk! Bentar.”
“Eh! Ke mana?” tanya Keysa bingung, tetapi ia mengikuti langkah kaki Friska.
“Guys! Kumpul dulu deh bentar! Tapi jangan berisik!” perintah Friska, perlahan semua teman-temannya langsung berkumpul dengan posisi memutar, sedangkan Keysa dan Friska berada di tengah.
“Ada apa sih, Friska?” tanya perempuan yang berpakaian sangat seksi dan warna bibir yang menyala.
Friska menatap seluruh temannya satu persatu. “Kalian pasti enggak akan percaya sama apa yang bakalan gue kasih tau.”
Ucapan Friska yang seperti itu, justru membuat semuanya semakin penasaran. Bahkan, ada yang sampai duduk mengambil kursi supaya lebih resmi mendengarkannya.
“Nih! Cewek yang sekarang ada di depan kalian, asistennya Pak Dion!” ujar Friska memberitahu. Dan ternyata memang benar, semuanya langsung memasang muka seperti Friska tadi.
Hal itu menambah kadar kebingungan Keysa, ada apa ini sebenarnya? Seperti ada rahasia besar yang tersimpan dari sosok seorang Dion Prawira.
“Eh, bentar! Kalian semua tuh kenapa sih? Memangnya aneh banget ya, kalau gue jadi asisten Pak Dion?” tanya Keysa bingung. Ia sama sekali tak mengerti dengan semuanya.