“Kantornya ini? Kok kek restoran ya?” tanya Keysa polos, saat Dion menghentikan mobil tepat di depan salah satu restoran yang kebetulan sudah buka.
“Ya bukanlah! Lo mau sarapan dulu enggak sih?” jawab Dion, yang diberi pertanyaan pada akhir kalimatnya.
Keysa menganggukkan kepalanya, sambil menahan malu karena sudah berucap seperti itu tadi. “Kok tumben lo baik? Sering-sering coba kek gini!”
“Dasar! Udah yuk ah, turun!” Dion keluar dari mobil terlebih dulu, lalu diikuti dengan Keysa yang juga keluar dari mobil dan masih saja menatap restoran yang ada di depannya itu, tanpa menginjakkan kakinya di lantai itu.
“Ayo, masuk!” titah Dion, pada Keysa yang sibuk berdecak kagum dan juga tak menyangka jika ia akan memasuki restoran ini.
Tak ada gerakan tubuh yang ditunjukkan oleh Keysa, membuat Dion dengan sangat terpaksa menarik pelan tangan kanan Keysa, sehingga mereka bisa masuk ke dalam restoran.
“Pilih aja makanan apa yang lo pengen,” ucap Dion meninggalkan Keysa pada meja untuk tempat orang memesan makanan, sedangkan dirinya memilih untuk melangkahkan kakinya membuat kopi sendiri yang di mana peralatannya sudah tersedia.
“Selamat pagi, Mbak! Mau makan dengan menu apa?” sapa pegawai restoran yang ada di situ, dengan diakhiri sebuah pertanyaan.
Keysa meringis bingung, karena semua makanan yang ada di situ semua namanya sangatlah asing. “Eum ..., Mbak kalau ini itu apa ya? Bentuknya kek gimana?” tanya Keysa, dengan tangan yang menunjuk pada menu makanan yang terdiri dari nasi dengan chicken berlumur saus tiram dan bertabur wijen.
“Yang ini, Mbak? Bentuknya seperti ini,” jawab pegawai tersebut, lalu mengeluarkan makanan tersebut yang telah jadi sedari tadi.
Keysa menatap makanan yang disodorkannya, lalu memilih untuk menganggukkan kepalanya dan berkata, “Saya ini aja ya, Mbak. Satu.” Pegawai tersebut langsung mengangguk dan segera menyiapkan makanan yang diinginkan Keysa.
“Udah pesan?” tanya Dion, saat menyadari langkah Keysa yang mendekat ke arahnya.
Keysa menganggukkan kepala sebagai jawabannya, lalu bertanya pada Dion, “Itu kopi? Cara buatnya gimana?”
“Lo mau kopi juga?” tanya Dion heran, lalu melangkahkan kakinya menuju ke salah satu meja yang masih kosong.
“Enggak. Gue Cuma nanya doang, karena baru kali ini ngeliat alat kek gini,” jawab Keysa, setelah menggelengkan kepalanya tadi.
Keysa juga ikut duduk di depan Dion, lalu kembali bertanya, “Lo enggak pesan makanan?”
Dion menggelengkan kepala, lalu menyeruput kopi yang sudah dibuatnya sendiri tadi. “Perut gue enggak bersahabat kalau makan pagi.”
“Aneh,” gumam Keysa, yang masih terdengar oleh Dion. Namun, laki-laki itu hanya mengedikkan bahunya acuh dan melanjutkan lagi kegiatannya menyeruput kopi.
Tiba-tiba saja pegawai restoran datang dengan nampan yang membawa pesanan milik Keysa tadi, sambil berucap, “Ini, Mbak pesanannya.”
Keysa mengangguk dan tersenyum ramah saat menerima makanan yang dipesannya tadi. Menatap makanan yang ada di depannya penuh dengan decak kagum, ia tidak akan pernah menyangka jika suatu saat akan bisa menikmati makanan restoran mewah ini.
“Cepet dimakan! Jangan buang-buang waktu! Kita harus sampai sebelum jam delapan!” titah Dion, serta menjelaskan alasan mengapa ia menyuruh Keysa.
Dengan cepat Keysa menganggukkan kepalanya, lalu perlahan memasukkan satu sendok makanan tersebut ke dalam mulutnya. “Hm ... enak! Lo mau enggak?” tawar Keysa, sembari menggeser piringnya supaya lebih dekat dengan Dion.
Namun, Dion segera menggelengkan kepala, tanda bahwa ia menolak tawaran yang diajukan oleh Keysa. “Enggak usah, makasih!”
Keysa mengangguk, toh sebenarnya ia hanya ingin basa-basi dengan orang yang akan membayar makanan yang nanti dihabiskannya nanti. Melanjutkan kembali kegiatan makannya, hingga piring tersebut bersih tak bersisa.
“Udah kenyang?” tanya Dion untuk memastikan.
“Alhamdulillah!” jawab Keysa, lalu mengusap bibirnya dengan tisu yang sudah tersedia di depan matanya.
“Yuk lanjut jalan lagi!” ajak Dion, yang langsung membuat Keysa heran, lalu bersuara, “Bentar coba dong! Gue baru aja selesai makan. Masa iya main langsung pergi aja, perut gue enggak enak nih!”
Terdengar hembusan napas kasar dari mulut dan juga hidung milik Dion, ia kembali duduk di kursi yang tadi, lalu menghabiskan kopi yang tersisa tinggal sedikit.
“Yuk!” ajak Keysa, saat sedari tadi ia tak mendapatkan raut wajah bersahabat dari Dion.
Dengan sangat semangat, Dion segera bangkit dan melangkah menuju ke kasir dan membayar total makanan yang sudah dihabiskan dengan uang pas, lalu keluar dari restoran mendekati mobil miliknya yang terparkir rapi di sebelah sana.
Segera masuk ke dalam mobil, diikuti dengan Keysa yang melakukan hal sama seperti Dion, lalu mobil pun perlahan digerakkan oleh Dion, hingga meninggalkan halaman restoran tadi. Tak ada yang memilih untuk memulai percakapan, pun dengan Keysa yang tengah fokus dengan benda pipih yang sedari tadi ia pegang tersebut.
Sampai akhirnya, mobil milik Dion terhenti dan langsung berucap, “Ayo turun!”
Keysa masih bingung, seraya menatap ke arah sekitarnya, tampak bangunan yang sangat besar dengan tinggi menjulang ke atas. “Kita udah sampai?” tanya Keysa heran dan anggukan di kepala sebagai jawabannya.
“Ayo!” ajak Dion lagi, sebelum menutup pintu mobil dan merapikan setelan jas yang dikenakannya. Keysa perlahan turun dari mobil milik Dion, matanya menatap penuh kekaguman. Bahkan, ia sendiri tak bisa menyangka jika bisa melihat kantor yang semegah ini.
“Udah! Enggak usah liat kek gitu. Lo pasti takjub, kan?” tebak Dion yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Keysa secara tanpa sadar.
“Eh! Ini beneran punya lo?” tanya Keysa penuh selidik, karena jika ini milik laki-laki yang ada di depannya, pasti orang tersebut tajir melintir!
Dion melangkah mendekat ke arah Keysa, menyentil dahi milik Keysa dengan pelan, lalu menjawab, “Ya iyalah! Ini punya gue!”
“Ish! Sialan lo!” rintih Keysa saat tersadar dari rasa kagumnya itu, tetapi dahinya merasakan sakit.
Bukannya meminta maaf, Dion justru dengan sangat entengnya tertawa terbahak-bahak. “Muka lo lucu kalau kek gini!”
“Dih! Enggak punya rasa salah banget sih lo!” sentak Keysa, lalu menyempatkan diri untuk menyentil pipi kanan Dion, mumpung mangsanya itu tengah tertawa dengan mata yang ditutup.
Merasakan panas yang berada di pipi, Dion langsung membelalakkan matanya? Tetapi di depannya sudah tak ada siapa-siapa lagi. Namun, saat dirinya menengok ke belakang, terlihat Keysa yang tengah berlari dengan menjulurkan lidah.
Hal itu meyakinkan Dion bahwa tadi adalah perbuatan Keysa. “Eh! Tunggu!” teriak Dion yang sama sekali tak digubris oleh Keysa.
Terus saja berlari, sampai akhirnya ada sebuah mobil yang hampir saja akan menabrak tubuh Keysa, untung saja Dion mempercepat langkah kakinya dan dengan sigap menarik lengan milik Keysa, hingga tertarik ke arahnya dan selamat dari mobil yang akan menabraknya.
Dengan napas yang masih menderu, akibat kaget dan juga syok, Keysa sempat untuk berucap, “Huft! Terima kasih ya!”