Di saat semuanya tengah tertidur, mengumpulkan tenaga untuk hari esok kembali melanjutkan aktivitas. Lain halnya dengan Keysa, yang masih saja berkutat dengan laptop jadul miliknya yang selalu menemani di mana pun berada.
Menguap? Tentu sudah berkali-kali. Namun, yang namanya tanggung jawab, tetap saja harus dikerjakan. Keysa berusaha sekuat tenaga untuk tetap terjaga. Persetan dengan nanti siang ia akan merasa sangat kantuk.
Saat tugas-tugasnya telah selesai, barulah Keysa bisa tenang. Ia menutup laptop miliknya, menyimpan di samping tempat ia akan tertidur.
Berdiri terlebih dulu untuk mengecek pintu dan juga jendela takut ada yang belum terkunci. Namun, ternyata semuanya sudah beres. Pintu yang memang sudah sedari tadi terkunci, begitu juga dengan jendela.
Akhirnya Keysa memilih untuk segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, tak butuh waktu lama untuk Keysa terlelap dan bisa tidur yang nyenyak. Bahkan, saat ia baru saja terlentang di atas tempat tidur, rasa kantuk langsung menyerang matanya.
-
Hari ini yang dirasakan oleh hati Dion adalah sangat senang, jangan tanya kenapa? Karena sudah pasti jawabannya adalah Keysa.
“Pagi, Ma! Yah!” sapa Dion, sambil membenarkan jas yang tengah dikenakannya.
Reta langsung melihat ke arah Dion dan menautkan kedua alisnya heran. “Ekhem! Yang mau ada acara sama pujaan hati, beda aja auranya.”
Dion dan juga Prawira yang mendengar ucapan Reta, langsung saling bertatapan, sampai akhirnya Reta kembali berucap, “Kamu Dion! Enggak usah pura-pura gitu ah!”
Setelah mendengar penjelasan dari Reta kali ini, barulah Prawira menganggukkan kepalanya paham, lalu bertanya, “Sama yang itu, Ma? Siapa tuh namanya?”
Reta langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias, lalu menjawab, “Keysa, Yah namanya.”
“Oh iya, Keysa,” sahut Prawira, dengan tangan yang tengah sibuk mengoles rotinya dengan selai yang sudah disediakan.
“Udah ah! Sarapan, yuk!” ajak Dion yang tengah berusaha mengalihkan pembicaraan.
Prawira langsung mengernyit mendengar ucapan Dion yang seperti itu, lalu ia pub menyahut, “Wah! Dion lagi salah tingkah tuh, Ma. Sampai-sampai enggak sadar kalau kita itu lagi sarapan.”
Tanggapan yang diberikan oleh Reta justru mengedikkan bahunya, lalu menjawab, “Emang gitu sih, Yah, kalau lagi terlalu senang tuh!” Prawira menanggapi hanya dengan ketawa tertahan, apalagi saat melihat Dion yang tak bisa berkata apa pun.
Dion mengambil dua lembar roti tawar, lalu meletakkannya di atas piring, perlahan mulai mengoleskan selai coklat di atas roti tersebut. “Eum ... Ayah sama Mama beneran setuju kalau Dion sama Keysa?”
Prawira dan juga Dion langsung saling berpandangan saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut anak semata wayangnya itu, lalu dengan kompak mereka menganggukkan kepala dengan kompak.
Tentu saja Dion langsung tersenyum melihat jawaban tersebut. Banyak harapan yang harus ia wujudkan, ia harus bisa mendapatkan hati seorang Keysa Anastasya.
“Ya udah, Ma, Yah, Dion berangkat dulu,” pamit Dion, setelah mulutnya dibersihkan menggunakan tisu, lalu mencium punggung tangan Reta dan juga Prawira bergantian.
“Hati-hati di jalan ya, Nak!” pesan Reta yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Dion.
Setelah itu, Dion segera melangkahkan kakinya menuju ke luar rumah, lalu mengeluarkan mobil miliknya dari bagasi. Perjalanannya pun dimulai, perjuangan seorang Dion Prawira untuk mendapatkan hati Keysa Anastasya.
Tujuan utama Dion bukanlah kantor miliknya, tetapi justru indekos yang ditempati oleh Keysa. Saat sampai di depan pintu indekos, Dion langsung turun dari mobil, lalu berjalan menuju ke pintu dan mengetuk pintu indekos tersebut.
“Keysa!” panggil Dion, dengan suara yang sedikit dikeraskan.
Pertama, kedua tak didengar oleh Keysa. Namun, pada saat panggilan yang ketiga, Dion sengaja untuk mengeraskan suaranya. Sehingga Keysa langsung tersadar dari tidurnya. Menatap ke kanan dan juga kiri, mengumpulkan kesadaran terlebih dulu sebelum akhirnya berjalan untuk membuka pintu.
“Astaga! Ternyata lo! Gue kira siapa!” sentak Keysa, saat pintu sudah terbuka dan menampakkan Dion yang tengah tersenyum sok manis.
“Lo jam segini masih tidur, Key?” tanya Dion, sembari melepas sepatu yang dipakainya, lalu melangkah masuk ke dalam indekos Keysa.
“Memangnya kenapa?” tanya Keysa balik, yang kembali tertidur dengan posisi menyamping.
Dion menggelengkan kepalanya melihat tingkah Keysa yang seperti itu, ia duduk di samping Keysa, lalu menjawab, “Enggak apa-apa, Cuma enggak baik aja kalau bangunnya siang. Apalagi sekarang udah jam tujuh lebih.” Sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Keysa terbangun dari posisinya tadi, menggeliat sedikit, lalu berucap, “Gue tuh tadi malem lembur ngerjain tugas tuh!” Keysa langsung menunjukkan buku yang masih berserakan, dengan laptop dan juga ponsel yang ada di samping tempat tidurnya.
“Berasa kek bukan lagi ada di kamar cewek,” gumam Dion, yang masih bisa terdengar oleh Keysa.
“Sembarangan! Gue ini cewek tulen ya!” sentak Keysa lagi, lalu mengambil karet yang dipergunakan untuk rambut dan mengikat rambutnya asal.
“Masa sih,” tanya Dion berusaha menggoda Keysa.
Yang diberi pertanyaan justru menatap sinis pada Dion, lalu menjawab, “Ya iyalah! Buktinya gue masih suka sama cowok!”
“Sama gue?” tanya Dion cepat, dengan kedua alis yang digerakkan naik dan turun.
“Ogah! Amit-amit!” jawab Keysa langsung, lalu kembali tertidur dengan muka yang ia tutup dengan bantal .
Dion tertawa kecil melihat sikap Keysa yang seperti itu. Baginya, hal tersebut sudah mampu membuatnya tertawa, sejenak melepas beban yang ada di bahu dan juga pikirannya.
“Lo lupa hari ini mau kerja?” tanya Dion, yang langsung membuat Keysa menyingkirkan bantal yang sedari tadi menutup wajahnya.
“Astaga! Iya, gue lupa!” pekik Keysa, lalu langsung berdiri dan membuka kardus yang berisi perlengkapannya untuk mencari baju yang akan dikenakan nanti. Melangkah menuju ke kamar mandi.
Namun, kembali berbalik menghampiri Dion, lalu berucap, “Lo keluar dulu gih! Gue siap-siap! Enggak lama kok.”
Dion mengangguk pasrah, ia pun berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari dalam indekos Keysa. Dion memilih untuk kembali masuk ke dalam mobilnya, sambil membuka email yang masuk.
Ternyata benar, tak butuh waktu lama untuk Keysa melaksanakan kegiatan mandinya. Tidak lebih dari 10 menit, Keysa sudah keluar dari ruangannya dengan penampilan yang sangat rapi dan juga formal.
“Lebay lo! Orang atasan lo itu gue! Ngapain coba pake baju formal kek gitu?” tanya Dion, saat Keysa sudah duduk di kursi mobil yang ada di sampingnya.
Keysa langsung mengernyit mendengar pertanyaan Dion yang seperti itu. “Lo aja pake pakaian formal, masa iya gue pake kolor,” jawab Keysa dengan sangat kesal.
“Eh! Iya yah, tapi ngomong-ngomong gue enggak pernah tuh liat lo pake kolor;” celetuk Dion, yang langsung mendapat sentilan di kepalanya. Siapa lagi kalau bukan karena ulah Keysa?
“Udah cepetan jalan!” titah Keysa, yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Dion.