“Udah! Sana pulang ah!” usir Keysa, yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Dion, dengan raut wajah yang sangat pasrah.
Dion melangkahkan kakinya keluar dari indekos Alya, lalu kembali menengok dan bertanya, “Enggak ada kata hati-hati, kah?”
“Ogah! Udah sana pulang!” jawab Keysa dengan suara yang sedikit keras.
“Iya, Sayang. Ini juga mau pulang,” jawab Dion sengaja menggoda Keysa.
Sedangkan Keysa, ia berusaha setengah mati untuk tidak sama sekali termakan rayuan laki-laki yang ada di depannya ini.
Meskipun, Keysa sama sekali tak mengantarkan dirinya sama sekali hingga ke pintu indekos. Namun, Dion tetap membunyikan klakson satu kali, sebagai pertanda akan berangkat.
Bukannya tidak mau menghormati atau apa pun, tetapi Keysa sedang menjaga jarak hati dengan hati. Takut saja ia akan terbawa perasaan dan akhirnya ia juga yang akan ditinggalkan.
Seperginya suara mobil Dion di pendengarannya, barulah Keysa keluar dari dalam indekos dan menatap bayangan Dion dengannya beberapa detik yang lalu.
Oh, tidak! Apa jangan-jangan Keysa sudah merasakan jatuh cinta dengan Dion? Jika itu benar, mau ditaruh di mana mukanya?
Menepis semua pikirannya tentang Dion, dan juga segala sesuatu tentangnya. Keysa lebih memilih untuk masuk ke dalam indekos, dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tersebut.
Memejamkan mata, merilekskan pikiran dari segala beban. Meskipun dengan cara seperti ini, sama sekali tak ada beban yang terangkat. Namun, setidaknya ia berusaha untuk mencari jalan keluar untuk semua beban yang sedang dirasakan itu.
“Tugas! Astaga! Tugasnya belum kelar!” Keysa langsung berdiri dari posisi tidurnya itu, lalu mengambil laptop dan mulai menyalakannya.
Mencari pulpen dan juga buku yang tengah diperlukan. Tak lupa juga ponsel yang selalu ia bawa ke mana-mana, lalu kembali duduk di samping laptopnya. Membuka tugas yang sebentar lagi akan selesai, tetapi tadi dikacaukan oleh rencana Dion yang mengajaknya bertemu.
Ada untungnya juga sih, karena Dion, perut Keysa mungkin bisa bertahan dua sampai tiga hari. Karena, memang makanan yang masuk benar-benar banyak.
Baru setengah jalan mengerjakan tugas, bunyi nada dering telepon langsung membuyarkan konsentrasi. Mengambil ponsel yang berada di atas buku, melihat nomor tidak dikenal yang tertera di layar ponsel, membuat Keysa semakin bingung.
Namun, ia tetap saja mengangkat panggilan tersebut. “Halo?”
“Ini Keysa, kan?” Pertanyaan tersebut membuat Keysa bertambah pusing, sekaligus penasaran dengan orang yang ada di balik suara ini.
“I-iya saya, Keysa. Maaf, ini siapa ya?” jawab Keysa ragu. Karena di zaman sekarang marak terjadi kejahatan, salah satunya adalah lewat ponsel seperti ini. Yaitu, dengan modus bicara biasa tetapi menghipnotis.
“Ini Tante, Sayang! Orang tua Dion,” ucap Reta memperkenalkan dirinya karena terdengar dari suara Keysa yang sedikit ragu.
Keysa menghembuskan napasnya lega, karena ternyata bukan orang jahat yang barusan meneleponnya. “Oh, Tante! Keysa kira siapa, udah deg-degan sebenarnya sih.”
Hanya ada suara tawa kecil yang terdengar dari seberang telepon. Dengan berani, Keysa pun bertanya, “Eum ... ada apa ya, Tante? Kok tumben telepon?”
“Gini, Key. Tante tuh mau ngajak kamu buat jalan-jalan ke mall. Kamu bisa atau enggak?” jawab Reta, yang langsung membuat Keysa bingung, pasalnya sekarang itu sudah hampir Magrib.
“Ke mall? Jalan-jalan, Tante?” tanya Keysa mengulangi ajakan Reta tadi. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut orang tua Dion tersebut, hanya anggukan kepala yang tentu saja tak terlihat oleh Keysa.
“Sekarang?” tanya Keysa heran. Bukannya menjawab, Reta justru tertawa kecil di seberang telepon.
Menghembuskan napas pelan terlebih dulu, barulah Reta menjawab, “Ya ampun, Sayang! Tante tuh tau kalau kamu anak baik-baik, jadi enggak akan mungkin mau kalau keluar jam segini. Iya, kan?”
“Makanya rencana Tante sih besok, kamu bisa?” sambung Reta diakhiri dengan pertanyaan.
“Gimana ya, Tan, masalahnya besok tuh Keysa udah ada janji sama Dion,” ucap Keysa, tetapi ia langsung menyesali ucapannya tadi. Karena, pasti Reta akan sangat senang mendengarnya.
Dan ternyata dugaan Keysa benar, Reta terlihat sangat senang bahkan hampir tak dapat berkata-kata. Namun, akhirnya ia tetap menjawab, “Sama Dion, Sayang? Ya udah, hati-hati ya di jalannya nanti.”
“Tante matiin dulu ya teleponnya,” sambung Reta dengan senyuman yang masih saja belum luntur.
Keysa langsung menautkan kedua alisnya heran. Maksudnya apa coba? Padahal nanti besok itu bukan ingin jalan-jalan, tapi melamar pekerjaan. Keysa menggelengkan kepalanya, lalu memilih untuk kembali meletakkan ponselnya di samping laptop, lalu ia fokus pada tugas yang akan dikerjakannya.
Alasan mengapa Reta bisa sangat senang dengan Keysa? Karena terlihat dari cara berpakaian, berbicara, dan yang lainnya lagi. Maka dari itu, ia akan memberikan restu untuk mereka berdua dengan sangat mudah, berbeda dengan beberapa calon Dion yang sebelum-sebelumnya.
“Assalamualaikum!” seru Dion, saat memasuki rumahnya.
“Wa'alaikumussalam, Nak!” jawab Reta, lalu dengan segera ia menghampiri anak semata wayangnya itu.
Melihat kedatangan Reta yang mendekat ke arahnya, Dion langsung mengambil tangan Reta dan mencium punggung tangannya.
“Besok mau pergi ke mana sih sama Keysa?” tanya Reta langsung pada inti pembahasan.
Hal itu membuat Dion langsung menatap wajah orang yang melahirkannya itu dengan tatapan bingung. “Pergi? Sama Keysa? Kata siapa?” tanya Dion berpura-pura.
Reta mengibaskan tangan kanannya dan kembali berucap, “Udah deh, ah! Mama juga dulu pernah muda. Memangnya mau jalan-jalan ke mana sih?”
“Mama tuh ngomong apaan sih? Kata siapa terus tuh?” tanya Dion, lalu menghempaskan tubuhnya pada sofa yang terdapat di ruang televisi.
“Kata Keysa. Tadi barusan Mama telepon dia, niatnya sih mau ngajak pergi jalan-jalan ke mall, tapi dia enggak bisa. Katanya udah ada janji sama kamu, mau pergi ke mana sih?” ujar Reta, yang diakhiri dengan pertanyaan.
Dion bingung harus menjawab apa, karena nanti besok dirinya dengan Keysa sama sekali tak ada rencana untuk pergi ke tempat wisata.
“Ciee! Mama kepo nih?” goda Dion, padahal itu adalah salah satu alibinya.
Mendengar jawaban Dion yang seperti itu, Reta buru-buru mencubit pinggang anaknya, lalu menjawab, “Yee! Gini-gini juga Mama pernah muda tau!”
Dion tertawa sumbang, lalu berucap, “Udah ah, Ma. Dion mau langsung istirahat, capek semua badannya.” Reta menganggukkan kepala sebagai jawabannya, Dion pun segera melangkahkan kaki menuju ke kamar miliknya. Sebelum nanti Reta akan berubah pikiran.
Melihat anaknya yang sudah masuk ke dalam kamar, Reta kembali bingung apa yang akan dilakukannya saat ini. Akhirnya ia memutuskan untuk memilih menonton acara televisi yang menayangkan berita.
Belum ada setengah jam Reta menonton televisi, keadaannya kini berbalik, justru televisi yang menontonnya tengah tertidur. Hingga Prawira pulang dari tempat kerja, barulah Reta mengerjapkan mata dan terduduk dengan posisi menyender ke suami yang sangat ia cintai itu.