Saling berusaha

1019 Kata
"Nanti juga lama kelamaan bakalan luluh kok, batu yang keras aja bisa luluh karena tetesan air hujan," ucap Dion, yang membuat Keysa langsung melempar tatapan heran pada laki-laki tersebut. Bisa-bisanya Dion dengan sangat mudah mengutarakan hal seperti itu, padahal jauh di dalam hatinya tak ada keinginan sama sekali untuk menuju ke jenjang yang lebih serius dengan Keysa. Namun, Dion selalu menerapkan di dalam hatinya itu jika takdir ada di tangan Yang Maha Kuasa, dan kita sebagai umat hanya bisa melaksanakan semua yang sudah dicatat saja. "Enggak percaya? Kita liat aja nanti, bagaimana takdir berbicara buat perjalanan kita berdua ke depannya!" ujar Dion, tetapi terdengar seperti menantang dan apa yang diucapkannya itu akan terjadi. "Jangan ngaco! Dengerin saya sekali lagi ya, kalau gue enggak bakalan punya perasaan yang lebih buat kamu! Sekalipun kamu itu udah ngasih perhatian yang lebih ke saya!" sahut Keysa pada akhirnya, setelah sedari tadi perempuan itu hanya diam dan mendengarkan. Tak ada sahutan yang diutarakan oleh Dion, laki-laki itu hanya melirik ke arah perempuan yang ada di sampingnya dan mengulas senyum. Misterius sekali. Keduanya sama-sama saling melangkahkan kaki terus hingga tiba di parkiran, tetapi saat tangan milik Keysa akan meraih helm justru langsung ditahan oleh Dion. "Biar gue aja yang masangin helm ini ke kepala lo!" ujar Dion menjelaskan apa yang ia lakukan tersebut. Membuat Keysa hanya diam dan membiarkan Dion melanjutkan niatnya itu. Memasangkan helm tersebut pada kepalanya. Ada rasa aneh yang menggelayuti hati, tetapi Keysa memilih untuk menepis rasa tersebut. "Udah?" tanya Keysa, yang mencoba untuk mengusir rasa nervous. Sebenarnya Dion memang sudah sedari tadi menyelesaikan niatnya itu, tetapi yang namanya laki-laki memang tidak akan pernah jauh dari kata menyebalkan. Sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh Dion, tatapan mata laki-laki itu terus saja melihat ke arah Keysa, dengan kedua tangan yang tetap saja berada di leher. Menyadari akan kejahilan yang tengah dilakukan oleh Dion, Keysa pun buru-buru menepis kedua tangan Dion, supaya cepat terlepas dari helm yang sudah dikenakan pada kepalanya. "Dasar cowok, nyari kesempatan dalam kesempitan!" ujar Keysa, dengan nada bicara yang terdengar sangat sinis. "Loh, tadi itu bukan nyari kesempatan dalam kesempatan, tapi ...." Dion sengaja untuk tak melanjutkan kata-katanya itu, ia ingin tahu reaksi apa yang ditunjukkan oleh perempuan di depannya saat ini. Ternyata reaksi yang ditunjukkan oleh Keysa justru ingin tahu. "Tapi apa? Kenapa enggak dilanjut?" "Ceilah! Penasaran, ya?" goda Dion, sembari mencubit pelan puncak hidung milik perempuan yang berada di depannya saat ini. Buru-buru Keysa menepis tangan milik laki-laki Dion, lalu berucap, "Udah, ah, ayo pulang!" "Ciee! Hayo, jangan bawa perasaan loh ya!" goda Dion lagi, yang kini membuat Keysa sudah cukup sabar, hingga perempuan tersebut memilih untuk langsung mencubit pinggang pria tersebut. "Aww! Sakit tau, Sayang!" rintih Dion, tetapi tak digubris sama sekali oleh Keysa, karena perempuan itu memilih untuk terus mencubit pinggang tersebut. "Suruh siapa godain saya terus, ya ini balasannya! Harus diterima dengan lapang d**a, dong!" sahut Keysa, sembari melempar tatapan tak bersahabat sama sekali. Berbeda dengan Keysa yang menunjukkan tatapan seperti itu, Dion justru menunjukkan raut wajah yang tengah meminta belas kasih, tetapi Keysa justru sama sekali tak menggubris raut wajah yang seperti itu. "Haduh! Ya udah iya, janji deh enggak bakal kek gitu lagi!" ujar Dion, dengan dua jari yang membentuk huruf V. Setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Dion, membuat Keysa pun memutuskan untuk segera melepas tangan kanannya yang tengah mencubit pinggang Dion dengan cukup keras itu. "Ah! Yang namanya cewek emang ngeselin ya!" ungkap Dion, lalu segera meraih helm yang akan ia kenakan dan langsung naik ke atas motor kesayangannya itu. Tak ada sahutan sama sekali yang keluar dari mulut Keysa, karena perempuan itu memang sudah cukup lelah untuk bertengkar dengan laki-laki menyebalkan itu. Sehingga ia memilih untuk membiarkan apa yang sudah diucapkan oleh Dion tadi. "Tumben gak komentar sama apa yang tadi saya ucapin?" tanya Dion, sembari melempar tatapan aneh pada perempuan yang masih berada di sampingnya itu. "Pengen banget ya gue komentar tentang apa yang tadi lo ucapin?" jawab Keysa, sembari melihat wajah Dion penuh dengan selidik. Namun, tangan Dion justru mengusap wajah Keysa dan berucap, "Udah, ayo naik!" "Ciee! Pindah pembicaraan!" sindir Keysa, atau lebih tepatnya itu adalah menggoda Dion. "Ayo, Sayang! Naik ke atas, buang-buang waktu aja tau gak!" tegur Dion, sembari melihat ke arah pergelangan tangan yang terdapat jam. "Iya, Sayang! Tunggu bentar ya, karena buat naik ke atas motor juga butuh tenaga dan juga keberanian!" jawab Keysa, dengan panggilan yang juga 'Sayang'. Saat sudah naik ke atas motor, kedua tangan Keysa sengaja digerakkan untuk memeluk pinggang laki-laki di depannya saat ini. Apa yang dilakukan oleh Keysa memang sangat sengaja, karena tujuannya memang untuk membuat laki-laki tersebut jatuh cinta dengan dirinya. Namun, anehnya itu bukan membuat laki-laki menyebalkan jatuh cinta, justru Keysa yang merasa getaran yang sangat aneh. "Masa iya cuma pelukan aja udah enggak karuan degup jantungnya?" tegur Dion, sembari menahan tawa, karena dirinya itu tahu jika perempuan di belakangnya itu tengah berusaha untuk mengontrol detak jantung. "Kalau ngomong itu jangan ngelantur!" sahut Keysa, yang memilih untuk tak mengaku sama sekali. "Enggak usah bohong, Sayang. Saya itu tau, orang d**a kamu itu deket kok sama punggung punya saya!" ungkap Dion, yang tentu saja membuat Keysa langsung diam, lalu menarik dirinya sedikit menjauh dari tubuh Dion. Malu? Tentu saja langsung dirasakan oleh Keysa, karena bagaimanapun juga dirinya masih memiliki rasa malu. "Kenapa posisinya enggak kek tadi?" tanya Dion, yang kembali menggoda perempuan di belakangnya itu, bahkan ia sama sekali tak menggerakkan kendaraan miliknya itu sama sekali. Membuat Keysa segera menyahut, "Kalau dari tadi kegiatannya kek gini terus, kira-kira kapan ya sampai di tempat tujuan?" "Tujuan? Ke mana sih tujuannya? Berakhir ke pelaminan?" jawab Dion, yang membuat Keysa benar-benar merasa sangat kesal. "Bisa stop gombal dulu, enggak? Sekarang cepetan pulang!" protes Keysa, dengan suara yang sedikit meninggi. Tentu saja ia tak terima dengan keberadaan mereka yang terus saja di parkiran perusahaan, apalagi banyak sekali karyawan kantor yang sedari tadi melihat ke arahnya dan juga Dion. Itu tentu saja membuat Keysa merasa sangat tak enak sekali. Namun, sepertinya laki-laki yang berada di depannya itu tak memiliki rasa yang sama. Terlihat dari wajah yang sangat bodo amat itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN