Coba saja kalau Keysa tak mencubit laki-laki yang saat ini tengah bersamanya, pasti Dion tak akan pernah melajukan kendaraan miliknya, untung saja perempuan itu memiliki pikiran untuk mencubit keras pinggang laki-laki tersebut.
"Ternyata kamu itu ganas juga ya? Bahkan enggak punya rasa kasihan sama sekali!" ucap Dion, yang tentu saja membuat Keysa tak terima.
"Sayang, kalau sebelum ngomong, diharapkan ngaca dulu ya! Takutnya malah apa yang tadi kamu omongin itu ada pada diri kamu sendiri!" sahut Keysa, tetapi Dion justru memilih untuk tak membalas ucapan yang terlontar dari mulut Keysa tersebut.
"Loh, ini kan bukan jalan ke kosan punya saya!" Protes Keysa, setelah dirinya melihat beberapa pemandangan yang sangat asing di penglihatannya itu.
Mendapat protes yang seperti itu, membuat Dion langsung mengulas senyum, lalu menjawab, "Emang bukan rute jalan ke kosan kamu, tapi kita mau ke salah satu restoran dulu!"
"Haduh! Buang-buang waktu, deh! Saya itu mau ngerjain tugas mata kuliah yang belum selesai," prtes Keysa lagi, membuat Dion harus memelankan laju motor miliknya terlebih dulu.
"Kamu punya sikap semangat itu boleh, tetapi ingat sama kesehatan juga, jangan karena rasa semangat yang kamu punya, buat kamu jadi lupa sama rutinitas sehari-hari kamu sendiri," ujar Dion, yang membuat Keysa tertegun beberapa detik, karena perempuan tersebut kembali mendengar perhatian yang keluar dari mulut milik laki-laki yang biasanya itu bertingkah sangat menyebalkan.
"Kenapa enggak ada sahutan? Bener, kan apa yang saya omong tadi?" tanya Dion, sembari melirik ke arah kaca spion, yang memang sengaja diarahkan ke wajah kekasih pura-pura itu.
"Oh iya! Tentang peraturan kita berdua, itu gimana?" tanya Keysa, setelah beberapa saat memilih untuk terdiam.
Dion diam sebentar, apa harus ia membuat hal seperti itu? Bahkan, ia sendiri juga sudah mulai yakin dengan perempuan di belakangnya itu, karena setiap apa yang menjadi pilihan mamanya itu, sudah dapat dipastikan akan sempurna.
Dan Keysa memang perempuan pertama yang langsung mendapat restu dari kedua orang tua Dion. "Kita enggak usah buat kek gitu lagi!"
Jawaban Dion yang seperti itu, membuat Keysa langsung membulatkan kedua matanya, tetapi ia juga sedikit lega. Entah apa arti dari rasa lega itu. "Kenapa malah jadinya enggak usah buat kek gitu?"
"Bukannya waktu dulu kamu itu setuju kalau kita buat surat perjanjian kek gitu?" tanya Keysa lagi, yang menunjukkan dirinya itu memang tak setuju atas apa yang menjadi jawaban Dion tadi.
"Takdir enggak ada yang tahu loh, Key!" sahut Dion, yang membuat Keysa bertambah heran, bahkan perempuan tersebut langsung menautkan kedua alis miliknya itu.
"Takdir? Sebentar! Jangan bilang kalau kamu itu punya harapan kalau kita bisa bersama?" tanya Keysa, sembari melempar tatapan yang penuh selidik.
Tak ada jawaban yang dikeluarkan oleh Dion, sampai laki-laki itu menghentikan laju motornya dan membelokkan arah, menuju ke parkiran yang sudah disediakan oleh salah satu restoran yang dipilih olehnya.
Saat motor milik Dion sudah berhenti, detik itu juga Keysa langsung turun dari atas motor tersebut. Tanpa menunggu perintah sama sekali, setelah Keysa sudah turun, barulah Dion melepas kunci motor terlebih dulu dan ikut turun.
Melepaskan helm terlebih dulu, karena memang sangat tak mungkin sekali jika masuk ke dalam restoran, dengan keadaan dirinya yang masih mengenakan helm itu.
"Maksa banget ya jadi orang," desis Keysa, sembari melepas helm juga yang masih ia kenakan.
"Daripada kamu, protes aja terus!" balas Dion, melempar tatapan tajam, tetapi bibirnya itu menandakan jika dirinya tengah berusaha untuk menahan tawa.
Mereka berdua sama-sama tak mengeluarkan pembicaraan sama sekali, setelah perbincangan mereka di parkiran tadi. Sampai akhirnya, keduanya duduk di salah satu meja dan datang waiters membawa buku makanan.
"Saya pesan makanan ini ya, Mbak, tapi tolong dibungkus saja," ucap Keysa, sembari menunjukkan makanan yang tengah ingin ia makan pada waiters tersebut dan tentu dengan sangat senang hati, ia mencatat apa yang Keysa mau.
Namun, berbeda halnya dengan Dion, laki-laki itu justru menatap Keysa dengan tatapan yang penuh tanya. "Kok?"
"Kenapa? Kan saya juga udah bilang, kalau mau makan di kosan," jawab Keysa menerangkan, karena perempuan itu memang sudah paham tentang apa yang menjadi pertanyaan dari Dion barusan.
"Ya udah, kalau gitu dibungkus semua aja, Mbak. Saya pesan makanan yang ini ya," sahut Dion, lalu mengembuskan napasnya.
Sedangkan waiters yang tak memahami apa pun, sehingga ia hanya bertugas untuk mencatat makanan apa yang akan dipesan, lalu berucap, "Kalau begitu, tunggu sebentar ya. Nanti silahkan dibayar sebelah sana!" Sembari menunjuk ke arah kasir, tempat pembayaran apa pun.
Dion hanya melempar tatapan malas pada perempuan di depannya itu, padahal jika ia tau kekasih pura-pura tersebut akan mengerjakan soal kampus, maka ia juga dengan senang hati akan membantu. Namun, ternyata Keysa justru memiliki pemikiran yang berbeda.
"Kenapa sih ngeliatnya kek gitu banget? Enggak suka kalau makanannya itu dibungkus? Ya udah, kamu makan di sini aja," tanya Keysa, yang merasa risih sedari tadi mendapat tatapan seperti itu terus dari Dion.
"Saya sebel sama kamu!" ungkap Dion, lalu memilih untuk merogoh saku jas yang dikenakan untuk memainkan ponsel miliknya.
Namun, karena Keysa belum mendapat lanjutan dari perkataan Dion barusan, dengan sangat beraninya perempuan itu langsung mengambil ponsel tersebut dan memasukkan ke dalam tas miliknya.
"Sebel kenapa? Gara-gara saya pesan dan minta dibungkus?" tanya Keysa, dengan tatapan yang terkunci pada manik mata milik Dion.
"Iya." Sesingkat itu jawaban yang dikeluarkan oleh Dion, membuat Keysa tak dapat mengucapkan apa pun lagi.
"Kenapa sih enggak bilang dulu kalau kamu mau dibungkus? Padahal saya kan pengennya kita makan di sini?" tanya Dion, yang tengah mengutarakan keinginannya.
"Loh, kan saya itu udah bilang kalau saya maunya itu langsung pulang ke rumah, tapi kamu maksa saya buat ke sini," sahut Keysa, yang juga mengutarakan apa yang ia inginkan.
Dion langsung mengibaskan tangan kanannya, lalu berdiri dari posisi duduknya tadi dan melangkahkan kaki menuju ke tempat kasir, berdiri tepat di situ, karena sudah dipanggil oleh petugas kasir tersebut.
Mendapat perlakuan Dion yang seperti itu, membuat Keysa justru merasa sangat bersalah sekali. Namun, ini semua sudah terjadi, lagipula apa pun yang menjadi pilihan, pasti akan ada konsekuensi tersendiri.
Sama halnya dengan sesuatu yang dipilih oleh Keysa, perempuan itu langsung memiliki niat untuk membuat Dion nyaman ketika mereka sampai di indekos nanti. Apa pun nanti, yang terpenting ia dapat membuat hati laki-laki tersebut mencair.