"Ayo pulang! Udah selesai semuanya juga, kan?" ajak Dion, yang langsung mendapat anggukan kepala dari Keysa, meskipun di dalam hatinya itu masih memiliki rasa tak enak pada laki-laki yang saat ini berada di sampingnya.
"Kamu marah ya?" tanya Keysa, karena terlihat dari raut wajah Dion yang sama sekali tak bersahabat sedari tadi.
"Kalau emang saya marah, emangnya kamu mau bujuk saya?" tanya Dion, dengan tatapan mata yang berpusat pada wajah milik Keysa.
Namun, jawaban yang dikeluarkan oleh Keysa itu justru gelengan di kepala. Itu tentu saja membuat Dion harus menghembuskan napasnya, ia kira akan dimanja jika menjawab seperti itu, tetapi ternyata pada kenyataannya itu tidak.
"Saya minta maaf ya sama kamu, tapi seriusan deh, tugas saya itu masih banyak banget," ucap Keysa, dengan kedua tangan yang meraih lengan milik Dion, lalu tersenyum.
"Kan saya bisa bantu kamu nanti," sahut Dion, dengan pandangan yang kembali melihat ke depan.
Karena mereka berdua memang tengah melangkahkan kaki menuju keluar dari restoran, dengan Dion yang membawa bungkusan berisi makanan yang mereka pesan tadi.
"Saya bisa kok ngerjain sendiri, cuma butuh waktu aja," ucap Keysa yang tak terima, jika dirinya itu dicap sebagai mahasiswa yang tak paham akan tugas yang diberikan.
"Bukan gitu maksudnya, saya mau supaya kamu lebih cepat aja gitu ngerjainnya," sahut Dion yang paham apa maksud dari perempuan tersebut.
Tak ada sahutan yang keluar dari mulut Keysa, perempuan tersebut memilih untuk diam dan berpikir bagaimana nanti setelah mereka sampai di indekos.
"Ayo, naik!" titah Dion, yang langsung dituruti oleh Keysa. Tentunya setelah mereka berdua sudah mengenakan helm.
Percakapan? Sepertinya mereka berdua sama-sama mengedepankan rasa gengsi untuk memulai sebuah obrolan. Sehingga lebih memilih saling diam dan sangat tak disangka, sudah tiba di depan indekos.
"Loh, ikut masuk juga?" tanya Keysa, dengan nada bercanda.
Namun, ternyata yang ditangkap oleh Dion adalah lain. "Kenapa? Enggak boleh lagi? Atau takut nanti enggak bisa buat ngerjain tugasnya?" tanya Dion, dengan tatapan yang terfokus pada kedua bola mata milik Keysa.
"Saya bercanda, Sayang! Masa iya gitu aja marah, sih? Nanti gantengnya ilang, loh!" sahut Keysa, lalu menggandeng lengan milik Dion dan menempelkan kepalanya pada lengan tersebut.
Ternyata yang tercipta itu perasaan nyaman, tetapi sayangnya ini hanyalah pura-pura. Sama halnya dengan hubungan mereka berdua yang sekedar bohong semata, hanya untuk mengundur waktu pernikahan yang akan terjadi pada kehidupan Dion.
"Manja! Kenapa sikapnya jadi berubah kek gitu?" tanya Dion, sembari melirik sekilas ke arah perempuan yang tengah menempelkan kepala pada lengan miliknya itu.
"Kata sebagian orang, sifat manja itu adalah salah satu cara untuk membuat sebuah hubungan bisa bertahan lebih lama," sahut Keysa, yang semakin mengeratkan perlakuannya itu.
"Memangnya kita punya hubungan?" tanya Dion sarkas, yang membuat Keysa harus sadar.
Namun, perempuan tersebut memilih untuk tak menampilkan wajah sedih. "Punya dong, hubungan pura-pura. Bener, kan?" Dengan senyuman yang langsung terukir di bibir manisnya itu.
"Ayo dibuka, gih! Saya udah laper!" titah Dion, yang membuat Keysa harus melepas kedua tangan yang sedari tadi memeluk lengan miliknya itu.
Bergerak untuk membuka tas yang ia kenakan, lalu mencari kunci indekos. "Yuk, masuk! Jangan malu-malu, soalnya kosan saya juga enggak terlalu mewah kok!"
"Dih, siapa juga yang malu-malu?" sahut Dion, yang tengah membuka sepatu miliknya itu, supaya bisa segera masuk ke dalam indekos milik Keysa itu.
Tak ada sahutan yang dikeluarkan oleh Keysa, justru perempuan tersebut sudah terlebih dulu masuk ke dalam indekos yang biasa ia tempati.
Melangkah lebih dalam lagi, hingga ke ruangan yang disebut dengan dapur. Meskipun kecil, tetapi cukup untuk meletakkan beberapa barang yang memang dibutuhkan.
"Ngapain sih sibuk banget? Sini makan dulu!" protes Dion, saat melihat Keysa keluar dari arah dapur.
Mendapat ucapan protes yang dilayangkan oleh Dion, membuat Keysa langsung menganggukkan kepala dan melangkahkan kaki mendekat ke arah Dion.
"Kenapa nggak makan aja duluan sih? Kenapa harus nunggu saya buat makan itu?" tanya Keysa, setelah ia duduk di depan Dion dan membuat laki-laki tersebut mengernyitkan dahinya.
"Memangnya kenapa, sih? Dari tadi kamu itu nyuruh saya buat makan duluan terus, nggak mau makan bareng sama saya? Kalau gitu saya pulang aja!" sahut Dion yang sedikit tak suka, dengan ucapan yang sedari tadi dilontarkan oleh perempuan di depannya ini.
"Bukan gitu, maksud saya itu kalau kamu emang udah merasa lapar banget, ya silahkan makan duluan aja juga saya enggak masalah. Daripada nunggu saya, buat nyuruh saya buat cepat-cepat makan, kan?" jelas Keysa, yang justru membuat Dion semakin heran.
Lalu tangan laki-laki itu langsung membuka salah satu bungkus makanan yang sudah disiapkan oleh restoran tadi, dan memasukkan satu suap ke dalam mulut.
Karena semuanya emang sudah disediakan oleh restoran tersebut, dari mulai gelas untuk menampung minuman yang dipesan oleh mereka berdua, sampai-sampai sendok pun sudah disediakan. Jadi mereka berdua sudah tidak usah repot-repot lagi untuk menyiapkan segalanya.
Melihat Dion yang membuka makanan dan juga sudah memasukkan ke dalam mulut, membuat Keysa juga ikut melakukan hal yang sama. Perempuan tersebut membuka bungkus makanan yang satunya lagi, dan mulai memakan makanan tersebut.
Hingga makanan itu selesai, tak ada ucapan apa pun yang keluar dari mulut mereka berdua. Masing-masing saling diam dan menikmati rasa dari makanan itu, tetapi berbeda dengan Dion yang hari ini justru moodnya itu tidak membaik, karena entah mengapa sikap dari Keysa setelah pulang dari kantor. Itu seakan membuatnya tak merasa nyaman.
"Saya mau nanya sama kamu, boleh?" tanya Dion, yang membuat Keysa langsung mengernyitkan dahinya, karena saat ini ia belum selesai untuk melahap makanan yang ada di depannya itu.
"Mau nanya apa emangnya? Kalau saya bisa, saya bangkalan jawab sebisa mungkin. Kalau nggak bisa, ya ... kemungkinan saya bakal jawab," sahut Keysa, yang membuat Dion menatap wajah perempuan di depannya itu.
"Kamu kerja di perusahaan saya itu tertekan nggak sih?" pertanyaan dari Dion yang seperti itu, membuat Keysa bingung dan bimbang apa yang harus ia jawab.
"Entar dulu deh, kenapa jadi nanya kaya gitu sih? Memangnya saya kelihatan kek terpaksa banget ya? Kaya tertekan banget kerja di perusahaan kamu itu?" bukannya menjawab, Keysa justru berbalik nanya.
"Saya nggak pernah merhatiin sikap kamu, saya juga enggak pernah merhatiin wajah kamu. Maka dari itu saya nanya, kamu itu merasa tertekan nggak kerja sama perusahaan saya? Kalau merasa tertekan saya bakalan ngasih kerjaan yang lebih ringan lagi!" jelas Dion, yang membuat Keysa seakan mendapat lowongan pekerjaan yang lebih mudah lagi, dan mungkin ini adalah jalan hidupnya untuk dipermudah.