Tanpa mandi

1036 Kata
Namun, meskipun Keysa memiliki selintas dapat memanfaatkan keadaan, tetapi pada akhirnya Keysa tetap menjawab, "Enggak kok, saya enggak merasa keberatan sama sekali. Justru banyak hal-hal baru yang saya dapat di perusahaan punya kamu itu." "Seriusan kek gitu? Berarti saya enggak salah dong nempatin kamu di situ?" tanya Dion lagi, yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Kiara, "Oh iya, katanya kamu itu mau ngerjain tugas kuliah?" tanya Dion, saat dirinya ingat akan ucapan Kiara yang waktu itu minta membungkus makanan. Supaya dapat mengerjakan tugas. Mendapat pertanyaan seperti itu dari laki-laki yang saat ini berada di depannya, membuat Kiara langsung menepuk dahinya secara pelan, lalu tanpa ada ucapan sama sekali Kiara langsung melangkahkan kaki menuju ke tempat di mana ia menaruh semua tugas kuliah. "Mana, coba saya liat!" titah Dion, sembari menyodorkan tangan kanannya. "Sebentar, saya cari dulu yang mana," jawab Kiara, dengan kedua tangan dan juga pandangan yang tetap fokus pada misi pencarian tugas kuliah tersebut. "Nih, ada beberapa tugas yang harus saya kerjain, mana jawabannya itu panjang-panjang banget. Soalnya juga rumit banget!" ujar Kiara, sembari menyerahkan beberapa tugas yang ia punya. "Gue bantu ngasih jawaban dan lo tinggal ngerjainnya aja. Biar cepet selesai," sahut Dion, lalu meraih salah satu tugas yang ditunjukkan dan mereka berdua pun mulai bekerja sama untuk mengerjakan tugas tersebut. Sampai akhirnya Kiara menghembuskan napas dan berucap, "Yeay! Makasih banyak ya, akhirnya selesai juga!" "Okey, sama-sama. Sekarang saya mau pulang dulu, udah malem banget. Haha, gak sadar sama jam gara-gara fokus ngerjain soal kek gitu," sahut Dion, lalu mengeluarkan tawa kecilnya, yang langsung diikuti juga oleh Kiara. Perempuan tersebut menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Ya udah, hati-hati di jalan ya!" Dion menganggukkan kepalanya dan berdiri dari posisi duduknya tadi, supaya cepat untuk keluar dari indekos Kiara dan melangkahkan kaki mendekat ke arah motor miliknya yang terparkir di luar halaman indekos yang ditempati oleh kekasih pura-pura tersebut . Tak ada ucapan lagi setelah Kiara mengeluarkan jawaban itu, karena perempuan tersebut memilih untuk sibuk dengan kegiatannya. Yaitu membereskan semua peralatan makan dan juga membersihkan semuanya, karena sebentar lagi dirinya juga akan tertidur. Kiara membiarkan Dion langsung keluar dari indekos dan menyalakan mesin motor, hingga suara dari mesin tersebut sudah menghilang dari pendengarannya. Itu menandakan jika Dion memang sudah benar-benar pergi dari halaman indekos. Setelah semuanya selesai dibereskan, dan juga dibersihkan. Kini saatnya untuk Kiara merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan segera memejamkan mata untuk merilekskan tubuh dan juga pikirannya, karena untuk hari ini banyak sekali beban untuk dirinya itu. Namun, dalam tidurnya pun Kiara sampai tak tenang, karena ada satu tugas lagi yang belum terselesaikan. Yaitu bagaimana melatih dirinya untuk presentasi dengan kolega baru yang bekerjasama dengan perusahaan milik Dion, bahkan makalahnya pun sudah diserahkan pada dirinya dan Kiara sudah menerima tanggung jawab tersebut. Sehingga perempuan itu memilih untuk duduk kembali dan membuka makalah itu, membaca berulang kali, serta mempraktekkan bagaimana caranya mempresentasikan nanti. Itu hanya dilatih sebanyak satu kali. Saat dirinya benar-benar mengantuk sekali, barulah perempuan tersebut langsung merebahkan tubuhnya lagi dan memejamkan mata. Tanpa aba-aba atau menunggu beberapa lama, perempuan tersebut sudah benar-benar lelap dan masuk ke dalam alam mimpi. Hingga ketukan di pintu sudah terdengar sangat jelas di telinganya, sembari suara yang berangsur-angsur masuk kedalam pendengaran. "Bangun, Ra! Udah siang!" teriak seseorang dari luar indekosnya, yang sudah dapat dipastikan oleh Kiara, jika itu adalah Dion. Menggeliat sebentar, lalu mengucek kedua mata miliknya dan membuka mata dengan sangat sempurna. Tanpa kegiatan lain lagi, ia langsung berdiri dari posisi tidurnya, berjalan membuka pintu indekosnya itu, lalu bertanya, "Apa sih? Saya belum selesai buat tidur, kenapa harus diketuk-ketuk kayak gitu? Bahkan suruh bangun pula!" "Astaga, kamu kemasukan apa ngigau sih?Jam segini belum selesai tidur? Makanya langsung liat jam, gih! Sekarang itu udah jam delapan pagi! Masa ia masih belum selesai belum tidur? Bahkan sampai saya yang bangunin kau tidur aja kamu malah protes?" seru Dion, sembari menggelengkan kepala, dengan yang kedua tangannya yang ia lipat di depan d**a. "Ya ampun! Lagian suruh siapa jam segini udah bangun?" sahut Kiara lagi, dengan wajah yang ia tempelkan pada dinding pintu. Mencirikan sekali, jika perempuan itu memang masih mengantuk, dan seakan tidak kuat untuk membuka mata. "Tugas kuliah kamu mau dikumpulin kapan? Kalau tentang perusahaan saya mah santai aja, tugas kuliah kamu tuh yang jadi masalah!" ujar Dion, yang mengingatkan kewajiban Kiara, yaitu sebagai mahasiswa. "Oh iya, saya lupa tentang itu, Pak! Tunggu bentar ya, saya enggak usah mandi lagi, deh! Bentar, bentar ya. Saya mau ganti pakaian aja, terus pakai minyak wangi, terus pakai bedak juga!" seru Kiara, lalu segera masuk ke dalam indekosnya lagi, tak lupa dengan menutup pintu dan segera mencari pakaian yang sekiranya pantas untuk dipakai. Sedangkan reaksi dari Dion yang mendapati perempuan seperti itu hanya menggelengkan kepala, sembari mengusap dadanya. berkali-kali ia mengucapkan kata sabar, karena baru pertama kali juga mendapatkan perempuan yang aneh seperti Kiara. Tak berapa lama kemudian, pintu tersebut kembali terbuka dan Kiara muncul dengan wajah yang dibuat sedemikian rupa, supaya terlihat lebih fresh. Tak lupa dengan senyuman yang juga tampil di bibirnya. "Hai! Maaf ya nunggunya lama. Yuk, saya udah siap!" Namun, Dion yang heran dengan tampilan Kiara pun langsung mencekal tangan kanan perempuan itu dan bertanya, "Kamu serius enggak mandi dulu? Seriusan cuma ganti baju aja, terus dikasih parfum yang banyak?" Mendapat pertanyaan seperti itu, tentu saja membuat Kiara langsung meringis dan mengeluarkan cengiran andalannya. Menggaruk kepala bagian belakang, lalu menjawab, "Ya ... kayak gimana lagi, waktunya udah mepet banget, Pak! Kalau saya nyempetin buat mandi, bisa-bisa saya telat semuanya. Udah yuk, ah!" Setelah mendapat jawaban seperti itu, Dion pun tak ada protes sama sekali. Laki-laki itu hanya langsung melangkahkan kaki mendekat ke arah mobilnya dan duduk ditempat biasa ia duduk, karena hari ini Dion kembali mengenakan mobil. "Keknya saya lebih setuju pakai mobil, deh! Daripada pake motor," ujar Kiara, saat dirinya baru saja masuk ke dalam mobil milik laki-laki yang ada di sampingnya itu. "Kenapa kayak gitu? Katanya waktu kemarin itu kata kamu enakan naik motor daripada naik mobil?" tanya Dion, dengan membulatkan kedua matanya. "Eum ... sebenarnya itu, karena kamu kalau naik motor gak biasa aja, buat saya jantungan dan buat saya stres, juga buat saya takut! Bener-bener takut banget, bahkan sampai parno!" jawab Kiara yang, mengekspresikan bagaimana saat ia naik motor bersama dengan Dion.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN