Sia-sia

1036 Kata
"Kamu tunggu dulu bentar di sini ya, saya mau masuk. Nanti saya cuma ngasih tugas ini doang kok, abis itu langsung pulang lagi! Soalnya enggak ada jam kelas juga, nanti jam kelasnya itu lusa," ujar Keysa, dengan sangat panjang lebar. Sebelum dirinya keluar dari dalam mobil milik Dion. Dion hanya menganggukkan kepalanya, dan menjawab, "Iya, iya. Saya nungguin di sini, dan saya harap kamu nggak bakal lama-lama. Soalnya yang namanya nungguin itu nggak enak loh!" "Yaelah, udah jadi b***k cinta! Apa-apa aja disangkutkan soal atas nama cinta, nunggu, kepastian, sama rasa!" protes Keysa terlebih dahulu, lalu tangan kirinya langsung bergerak untuk membuka pintu mobil dan dia benar-benar keluar dari mobil milik Dion tersebut. Perempuan yang seperti itu memang benar-benar langka sekali, dan jarang untuk ditemukan. Maka Dion hanya dapat mengulas senyum dan menggelengkan kepalanya saja. Saat mendapati sikap Keysa seperti itu. Namun, dia suka. Sembari menunggu kedatangan Keysa lagi, Dion memilih untuk meraih ponselnya yang berada di saku jas, lalu memencet nomor milik Reta--orang tua dari Dion. Untuk melakukan panggilan, karena masih ada beberapa pertanyaan yang belum sempat terjawab oleh Reta, tentu saja itu adalah tentang Keysa. Hanya butuh beberapa detik saja, sampai panggilan yang ditujukan oleh Dion itu terangkat. Setelah panggilan tersebut terangkat, barulah Dion pun bertanya, "Mama ada waktu nggak, buat dengerin pertanyaan Dion?" "Eum ... pertanyaannya banyak apa nggak? Kalau banyak, tanya nanti aja deh! Tapi kalau sedikit nggak apa-apa. Memangnya, mau nanya apa sih?" jawab Reta, yang diberi sedikit pertanyaan lagi olehnya itu. "Mama beneran yakin ya sama Keysa? Kalau emang beneran yakin, gimana kalau dilanjut aja, Ma, secepatnya! Ke jenjang pernikahan?" ujar Dion, yang mulai memberikan pendapatnya itu. Di seberang sana, Reta justru terkejut dengan apa yang tadi diucapkan oleh Dion. Seakan mimpi, tetapi sebenarnya ini adalah nyata. "Anaknya Mama benar-benar ingin menikahi perempuan yang namanya Keysa itu? Kamu serius, Nak, nikahnya mau dipercepat? Udah yakin kamu sama Keysa?" "Kalau mama yakin, Dion juga pasti bakalan yakin. Soalnya apa yang udah jadi keputusan Mama, itu pasti yang terbaik," jawab Dion, dengan sangat tegas dan juga jelas. "Ya udah, nanti kapan ya? Mama belum ada waktu sih, nanti lusa aja gimana? Keysa diajak lagi ke rumah, terus kita rundingan buat nentuin jadwal. Kapan keluarga Keysa itu menemui keluarga kita," ujar Reta, sembari menggerakkan tangan kanannya untuk melihat kalender dan juga agenda yang dia punya. Karena Reta memang bukanlah perempuan yang berleha, banyak sekali tugas yang harus ia kerjakan. "Aduh, Ma, jangan lusa. Kayaknya kalau lusa, Keysa nggak bisa, soalnya dia itu ada jam kuliah katanya. Tadi baru aja diucapin, sekarang aja Dion lagi ada di kampusnya Keysa buat nyerahin tugasnya dia," jawab Dion, sembari mengetuk setir mobilnya. "Ya udah, besoknya lagi gimana? Coba nanti tanyain dulu ya sama Keysa, gimana baiknya aja. Terserah kalian diatur aja dulu, nanti kalau udah ketemu jadwal yang pasnya, kabari mama aja!" putus Reta, yang tak ingin ambil pusing. Dion menganggukkan kepalanya, lalu ia pun menjawab, "Ya udah, Ma, nanti Dion tanyain dulu ke Keysa. Gimana baiknya, dan gimana enaknya!" sahut Dion pada akhirnya. Setelah mendapat jawaban dari Reta tadi, Dion langsung menutup panggilan tersebut, dan kembali bergelut dengan pikirannya. Apakah keputusan yang ia ambil, ini sudah benar atau tidak? Karena jika salah sedikit saja melangkah, ini sudah menjadi masa depannya. Kepala Dion langsung diletakkan pada setir mobil, memikirkan matang-matang keputusan apa yang akan diambil. Namun, 100 persen ia percaya sekali, dengan orang tuanya itu. Karena, jika Reta mengambil keputusan, pasti sudah dipikirkan sangat matang sekali, dari segi mana pun. "Oke, keknya saya mau bener-bener harus milih, kalau perempuan itu yang bakal jadi kekasih saya, sekaligus istri saya," ucap Dion, yang mengakhiri perdebatannya dengan pikiran. Tanpa disadari oleh Dion, sedari tadi Keysa sudah mengetuk kaca mobil berkali-kali, tetapi laki-laki itu sama sekali tak menggubris. Karena tengah sibuk dengan pikirannya, tentang keputusan apa yang akan diambil. "Dion! Astaga, bukain pintunya! Kamu mah suka banget sama yang namanya bengong, kenapa sih!" teriak Keysa, dengan nada bicara penuh semangat, yang masih saja membara. Untung saja, laki-laki itu langsung tersadar dan menengok ke arah kaca mobil, lalu meringis karena menahan malu, dan buru-buru tangannya bergerak untuk membuka pintu mobil tersebut. "Eh, maaf ya! Tadi saya itu terlalu fokus sama pikiran saya, jadi nggak dengerin kamu." "Udah biasa juga sih, sama kamu kayak gitu! Jadi nggak bakalan aneh, santai aja!" sahut Keysa, lalu ia langsung duduk di tempatnya yang tadi. "Ih, kok malah bilangnya gitu sih? Kan padahal saya itu serius enggak terlalu dengerin apa yang kamu lakuin tadi. Sumpah deh!" jelas Dion, dengan tangan kanan yang membentuk huruf V. "Udahlah! Kita ke kantor kamu aja cepetan! Katanya kan ada meeting tuh, sama kolega baru kamu!" ujar Keysa, sembari mengingatkan lagi pada Dion perihal hal itu. "Loh, meeting nya bukan besok, tapi diundur!" sahut Dion yang membuat keisha langsung bu latihan matanya seketika dan mengerjakan dahinya "Loh, kalau meeting nya diundur, terus kapan dong? Udah capek loh, ngapalin makalah yang udah kamu kasih waktu itu," tanya Keysa, dengan nada bicara yang benar-benar bingung dan menggelengkan kepala terus-terusan. "Nanti meeting nya itu diundur lusa, bukan besok. Kamu, makanya jadi orang itu banyak nanya, supaya nggak sesat di jalan. Kalau ada yang kurang pas itu nanya, jangan diem!" sahut Dion, sembari menahan tawa. Sebenarnya, itu adalah kesalahan dirinya sendiri, karena tak ada niat sama sekali untuk memberitahukan hal itu pada Keysa. Karena di sini adalah dirinya yang menjadi atasan, maka tidak akan pernah ada yang namanya salah. Semua selalu benar. "Ya ampun, jadi kalau begini apa yang saya lakuin dari tadi malem? Saya begadang dan akhirnya saya bangun kesiangan, itu semua sia-sia?" tanya Keysa, seraya menggelengkan kepalanya tak percaya. Sedangkan Dion dengan sangat mudahnya ia mengedikkan kedua bahu, lalu menjawab, "Ya ... mungkin sia-sia, eh! Enggak sia-sia juga sih, kan nanti lusa itu jadwal buat meeting. Seenggaknya itu kan kamu udah hafal, jadi satu latihan lagi kamu. Biar lebih lancar" Tanggapan dari Keysa masih saja menggelengkan kepalanya, kali ini dengan tangan kanan yang bergerak memijit kedua pelipisnya, "Pusing saya, udah males juga. Enggak ada mood kalau udah kayak gini." "Kalau tahu meeting nya buat besok, saya nggak bakal repot-repot buat begadang, dan nahan rasa ngantuk saya itu buat baca makalah bolak-balik," gerutu Keysa, tapi masih mengembuskan napas. mencirikan jika dirinya itu masih memiliki kesabaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN