Penolakan?

1026 Kata
"Udah, jangan marah-marah terus! Nanti cepet tua, loh! Padahal umurnya kan masih muda, masa iya cuma gara-gara marah terus, jadi kelihatan kek udah tua," ujar Dion. Bukannya menenangkan Keysa, justru membuat perempuan tersebut semakin kesal. "Bodo amat, lagian semua orang juga bakalan tua kok," sahut Keysa, dengan tangan yang memilih untuk membuka tas yang ia bawa dan meraih ponsel miliknya itu. "Enggak sopan, Sayang!" tegur Dion, lalu tanpa izin sama sekali, Dion kembali melakukan hal yang waktu itu pernah ia lakukan. Yaitu, meraih ponsel yang tengah dipegang. Kalau waktu itu langsung disimpan, tetapi kali ini justru berbeda, karena Dion justru melihat apa yang tengah Keysa lihat tadi. Kedua matanya menangkap nama seseorang yang sangat familier, itu ia temukan di aplikasi berwarna hijau. Segera Dion melihat foto profil yang dimiliki oleh orang tersebut. "Kamu ada hubungan lagi sama orang ini?" tanya Dion memastikan. Yang dibahas oleh Dion dan juga Keysa saat ini adalah laki-laki yang bernama Dion. Mendapat pertanyaan yang seperti itu dari Dion, membuat Keysa langsung mengerutkan keningnya. Sadar jika apa yang dilakukan olehnya itu berlebihan, Dion segera berdeham dan menunjukkan sifat biasa saja. Kalau yang tadi, Dion itu menunjukkan raut wajah tengah cemburu. "Jangan bilang kamu itu cemburu sama Dion?" tanya Keysa, sembari melempar tatapan menelisik. Dion langsung menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Enak aja kalau ngomong! Enggak mungkin banget dong kalau saya cemburu sama orang itu." "Bagus, dong! Lagian, kita kan cuma sepasang kekasih pura-pura!" timpal Keysa, dengan seulas senyum yang langsung ia tampilkan. "Atau jangan-jangan ...." Tangan kanan Keysa langsung menunjuk ke wajah DIon, dengan kedua alis yang ia naik turunkan. Dion langsung meraih tangan kanan milik Keysa. "Apa? Katanya kalau suuzon itu enggak boleh? Kamu mau bilang apaan?" "Jangan-jangan kamu udah punya rasa sama saya?" sahut Keysa, dengan wajah yang sengaja didekatkan dengan wajah milik Dion. "Eits! Jangan ngeluarin alibi! Dari ciri-ciri yang tadi kamu tunjukkin tadi, itu udah nunjukin semuanya," cegah Keysa, dengan tangan kirinya yang sangat cepat untuk menyentuh bibir milik Dion. "Nih, saya mau ngendarain mobil," ujar Dion, yang tiba-tiba saja menyerahkan ponsel milik Keysa, yang tadi ia raih itu. Keysa langsung menggelengkan kepala, Sembari melihat ke arah Dion dengan tatapan menggoda. "Enggak apa-apa kok kalau kamu itu emang benar dan udah suka sama saya, enggak masalah sama sekali. Bahkan, saya merasa bangga banget!" ucap Keysa lagi, perempuan itu memang sangat suka sekali jika Dion menguapkan amarahnya. Bukan takut yang ia rasakan, jika Dion sudah marah, tetapi justru lucu. Entah mengapa, rasanya ingin sekali tertawa, tetapi akan lain halnya jika mereka berdua berada di ruang lingkup kantor. Maka, hawa dingin selalu menyelimuti Dion. "Jadi orang jangan terlalu percaya diri, nggak baik! Orang saya gak suka kok sama kamu, ngapain dibilang suka! bahkan dipaksa harus jujur, orang saya mah udah jujur!" sahut Dion, tapi Keysa justru mengedikkan kedua bahunya. Perempuan itu tidak percaya, jika laki-laki yang tengah berada di sampingnya tidak suka kepada dirinya. "Oh iya, nyokap saya mau kamu itu datang ke rumah saya lagi," ucap Dion tiba-tiba, membuat Keysa langsung membulatkan matanya dan mengernyitkan dahinya heran. "Ada acara lagi ya? Kok suruh datang ke rumah kamu lagi?" tanya Keysa. "Nggak tahu tuh, katanya sih mau bahas hubungan kita lebih lanjut lagi. Kayaknya bakal bahas tentang pernikahan, deh!" sahut Dion, sembari melirik sekilas ke arah Keysa. Supaya tahu bagaimana reaksi perempuan itu. Di dalam bayangan Keysa, yang namanya nikah itu belibet. Bukan perkara yang sangat mudah buat menjalankan kehidupan sesudah berumah tangga, banyak rintangan dan cobaan yang harus dilalui oleh kedua pasangan. Apalagi, Keysa baru mengenal laki-laki yang berada di sampingnya itu. Sangat tidak mungkin jika laki-laki itu yang akan menjadi suaminya kelak. "Kata mama, coba diskusikan dulu sama kamu. Eum ... saya harus diskusi sama kamu, biar bisa nentuin hari apa, dan kapan kamu bisa ke rumah saya. Nanti nyokap gue bakal meluangkan waktu buat bisa ngobrol sama kita berdua," tutur Dion, menyampaikan apa yang tadi diutarakan oleh Reta. Meskipun, pada kenyataannya yang memiliki usulan seperti itu adalah Dion, karena dirinya memang sudah memiliki rasa lebih pada Keysa. Namun, untuk mengutarakan hal itu secara langsung, pada perempuan yang ada di sampingnya sangatlah tidak mungkin sekali. "Aduh gimana ya, memangnya kamu enggak ada niatan gitu buat nyari perempuan yang lain? Atau saya aja yang nyariin perempuan lain buat kamu, kalau kamu emang benar-benar gak bisa buat nyari cewek?" tanya Keysa, dengan pandangan yang sudah sangat frustrasi. Dion dengan sangat tegas, langsung menggelengkan kepala. "Enggak, saya gak mau nyari perempuan lain lagi, karena setiap saya bawa perempuan pasti mama langsung nolak, dan kalau mama saya udah setuju. Berarti itu emang yang terbaik buat saya." "Dan masalahnya, kamu itu langsung disetujui sama mama saya. Tanpa ada apa pun itu! Pasti udah masuk kriteria mama saya, dan saya udah percaya sepenuhnya pada mama," sambung Dion, yang membuat Keysa bertambah heran. "Ya ampun! Kalau masalahnya kayak gitu doang, kamu coba nyari yang kayak saya lagi. Perempuan di luaran sana itu banyak! bukan cuma saya! Apalagi saya itu masih butuh waktu buat menempuh pendidikan kuliah. Masih panjang banget deh! Yang namanya nikah, itu nggak sembarangan loh!" "Dan, saya itu nggak bakal nikah sama laki-laki yang baru saja saya kenal, apalagi sifatnya harus dipahami dulu," tutur Keysa, sembari melirik ke arah Dion. "Kamu itu belum tahu tentang saya, kamu belum tahu gimana sikap yang aslinya saya. Meskipun, kadang saya nyebelin, tapi banyak sekali kok perempuan yang meminta perlindungan pada saya." "Saya tahu batasan, saya tahu norma, saya tahu bagaimana cara memperlakukan wanita," ujar Dion, yang mulai menceritakan apa yang ada pada dirinya. "Nah! Kalau semua itu udah lengkap ada di diri kamu sendiri, harusnya kamu itu lebih gampang dong buat dapetin wanita! Apalagi, kata kamu ituh banyak banget perempuan-perempuan yang minta perlindungan sama kamu." "Kenapa enggak salah satunya aja kamu ambil, dan jadiin istri kamu?" usul Keysa, dengan sangat percaya diri, seraya menaik turunkan alis yang ia punya. "Jalani aja dulu, meskipun saya juga belum sepenuhnya jatuh cinta sama kamu, tapi saya ingin seiring berjalannya waktu. Rasa cinta itu bakalan hadir dengan sendirinya, dan saya nggak akan pernah menyia-nyiakan pilihan mama itu." "Kalau kata mama itu yang terbaik, maka saya juga bakalan percaya," ucap Dion apa adanya, membuat Keysa terdiam dan bingung juga harus mengutarakan apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN