Farah?

1018 Kata
Tangan kanan milik Keysa langsung bergerak menyentuh dahi Dion. "Kamu baik-baik aja, kan? Kalau bercanda jangan keterlaluan kek gini ya!" Dion langsung meraih tangan kanan milik Keysa, menatap manik mata milik perempuan yang bernama Keysa itu, lalu menggenggam dengan sedikit kencang. "Saya baik-baik aja kok, lebih baik lagi kalau kamu itu setuju," jawab Dion, lalu mengulas senyum yang biasa ia tunjukkan. Keysa menggelengkan kepalanya. "Impian saya itu masih banyak banget yang belum kesampaian, bahkan saya juga belum membahagiakan orang tua saya. Saya belum lihat mereka tersenyum." "Saya enggak setuju, kalau harus cepet-cepet nikah," putus Keysa, lalu menarik tangan kanannya yang tadi dipegang oleh Dion. "Ini kemauan mama," ujar Dion, yang mengeluarkan alibi. Keysa langsung mengulas senyum dan menjawab, "Kalau gitu, silahkan cari perempuan lain lagi ya. Di mana kamu bisa ngajak dia buat cepet-cepet nikah, kan enak juga. Satu frekuensi." "Lagian, kita itu kan kekasih pura-pura. Jujur aja tentang semua ini ke mama kamu," sambung Keysa, lalu membuang pandangan. Menjadi melihat ke arah depan. "Kamu enggak ada perasaan apa pun yang dirasain selama ini?" tanya Dion, seraya mulai menggerakkan mobil miliknya itu. Supaya segera meninggalkan halaman kampus, yang menjadi tempat menuntut ilmu dari kekasih pura-pura nya itu. "Bentar. Ini kenapa dari tadi bahasnya tentang perasaan terus, sih?" tanya Keysa, dengan sangat heran dan juga tak dapat dimengerti. "Memangnya salah ya? Kan saya nanya kek gitu itu bener, semua orang juga pasti bakalan punya rasa, kan?" sahut Dion. Keysa melihat ke arah laki-laki di sampingnya itu, rasa aneh langsung masuk di dalam hati. Mengapa harus dihadapkan dengan situasi seperti ini? Padahal, kuliah yang ia jalani saja masih cukup panjang sekali waktunya. "Jangan dipikirin, gimana tadi tugasnya?" tegur Dion, sembari membunyikan klakson sebentar. "Bener kok," jawab Keysa. Singkat. "Kamu di kampus enggak ada temen?" tanya Dion, karena selalu saja mendapati Keysa yang tidak sibuk ke mana-mana. Bahkan, perempuan yang menjadi kekasih pura-pura itu memilih untuk bekerja. "Ada, cuma beberapa. Itu juga enggak terlalu deket, karena ya masing-masing pasti punya kesibukan tersendiri," jawab Keysa, lalu mengulas senyum. "Memangnya kenapa nanyain hal kek gitu?" Kini gantian Keysa yang mengutarakan pertanyaan. "Beda sama masa kuliah saya dulu, saya selalu aja main ke sana, ke mari. Pokoknya enggak pernah diem, deh!" tutur Dion, dengan ingatan yang mulai melayang menuju ke masa-masa dirinya kuliah. Keysa hanya mengulas senyum, perempuan tersebut tak terlalu tertarik dengan pembicaraan yang seperti ini. "Kapan punya waktu luang, Key?" tanya Dion lagi, untuk memecahkan keheningan. Keysa menoleh. "Mungkin hari minggu. Kan semuanya libur tuh, di kantor kami juga libur, kan?" Dion menganggukkan kepalanya, ia bahkan tidak ingat jika perempuan di sampingnya itu ternyata adalah karyawan, lebih tepatnya menjadi asisten pribadinya. "Kenapa, sih? Kok nanya tentang libur?" tanya Keysa, dengan raut wajah yang sangat mencirikan jika dirinya saat ini memang tengah bingung. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Dion, Keysa juga tak berniat untuk menegur laki-laki tersebut. Sampai akhirnya, Dio mengentikan laju kendaraan roda empatnya itu. Tak ada perintah yang keluar dari mulut sama sekali, keysa juga langsung keluar dari dalam mobil tersebut. Merapikan pakaian yang ia kenakan terlebih dulu, dengan tas yang berada di lengan sebelah kiri, sedangkan tangan kanan yang menggenggam makalah meeting. "Yuk, masuk!" ajak Dion, yang tentu saja langsung dijawab anggukan kepala oleh Keysa. Dion merapikan jas yaang ia kenakan, melangkahkan kakinya duluan, dengan Keysa yang berada di belakang. Melihat cara berjalan Dion dan juga sifatnya yang sangat ramah pada seluruh karyawan yang berada di situ, membuat Keysa merasakan hal yang aneh. Namun, perempuan itu tak memilih mengartikan jika rasa itu adalah rasa cinta. "Jalannya di samping saya aja coba!" "Enggak enak sama karyawan yang lainnya, Pak," jawab Keysa, dengan langkah kaki yang tetap pada posisi di belakang Dion. "Lanjutkan kerjaan yang tadi ya! Nanti kalau saya butuh kamu, saya bakalan hubungi kamu," ucap Dion, lalu ia melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam ruangan yang biasa ia miliki. Keysa menghembuskan napasnya pelan, lalu ia mulai menyalakan komputer yang sudah berada di depan pandangannya itu. Baru saja Dion akan fokus pada tugas yang akan ia kerjaan, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Laki-laki itu langsung meraih ponselnya yang sudah berada di atas meja, melihat siapa yang menghubunginya. Saat Dion tahu siapa yang menghubunginya, di saat jam kerja, dengan sangat terpaksa sekali, ia mengangkat telepon itu. "Dion, tolongin aku!" pinta seseorang perempuan, dengan suara yang terdengar sangat takut dan juga kecil sekali. "Minta tolong apa? Kamu baik-baik aja?" tanya Dion, dengan nada suara, yang mulai terdengar sangat khawatir sekali. "Tolongin aku, Dion! Aku takut," lirih perempuan tersebut, membuat Dion heran dan langsung mengernyitkan dahinya. "Kamu kenapa, Farah? Kamu baik-baik aja?" tanya Dion, yang kini memilih untuk berdiri dari posisinya yang tadi duduk. Bagaimanapun juga, perempuan yang saat ini tengah menghubunginya itu adalah seseorang yang berarti sekali di dalam hidupnya. "Kamu sekarang lagi ada di mana?" tanya Dion pada akhirnya, karena sedari tadi ia tak mendengarkan suara apa pun. Dion harus menunggu cukup lama untuk mendengar jawaban yang aan keluar dari perempuan tersebut. Sampai akhirnya, perempuan yang tengah melakukan panggilan dengan Dion. Detik itu juga, Dion memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana, lalu segera membuka pintu ruangannya dan melangkahkan kaki menuju keluar dari kantor. l Melihat Dion yang keluar dari ruangannya, membuat Keysa heran dan mengernyitkan dahi heran, tetapi tak ada niatan juga untuk menegur sang atasan. "Kenapa ya? Kok tumben enggak ngasih tau saya?" gumam Keysa, tetapi persetan akan hal itu. Keysa memilih untuk melanjutkan pekerjaannya lagi. Dengan langkah yang sangat tergesa, akhirnya Dion pun sampai di depan mobil miliknya. Tanpa membuang waktu, Dion segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam kendaraan tersebut. Pikirannya melayang, memikirkan bagaimana keadaan perempuan yang pernah berada di dalam hatinya itu. Rasa cinta yang pernah tumbuh juga masih tersisa di dalam hati. Namun, karena cinta mereka terhalang oleh restu dari Reta, maka mereka berdua memilih untuk mundur dan langsung memutuskan hubungan saat itu juga. Pedih memang, tepati mungkin seperti itu garis takdir yang harus dijalani. Tak ada kata protes yang terlontar, melainkan hanya sabar dan ikhlas menjalani semuanya. "Semoga kamu baik-baik aja, Farah,"gumam dion, yang perlahan menggerakkan kendaraan miliknya itu. Menghembuskan napas berkali-kali, dan berharap jika semua akan baik-baik saja. Semoga hal-hal baik mengikuti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN