Menyelamatkan

1018 Kata
Sesuai dengan apa yang diucapkan oleh Farah, Dion pun menjalankan mobilnya itu menuju ke tempat yang sudah diutarakan oleh perempuan, yang masih berada di dalam hatinya. Tak butuh waktu lama, untuk Dion sampai ke tempat tersebut. Salah satu hotel yang cukup terkenal dan memiliki fasilitas yang sangat mewah. Sesuai arahan dari Farah, Dion langsung menuju ke kamar yang sudah disebutkan nomornya oleh perempuan tersebut. Tanpa basa-basi, tanpa rasa takut, dan tanpa persiapan sama sekali. Dion benar-benar nekat untuk mendobrak pintu kamar hotel tersebut. Langsung masuk ke dalam kamar itu, dengan pandangan yang mengelilingi ruangan. Mencari seseorang yang tengah ia cari itu. Namun, ternyata ada suara laki-laki yang berada di dalam kamar mandi. Tiba-tiba saja keluar dengan wajah yang tak bersahabat. "Siapa lo? Ngapain ke sini? Ada perlu apa masuk ke kamar ini tanpa permisi?" Dion memilih untuk tak menggubris apa yang jadi pertanyaan laki-laki tersebut, dirinya justru berteriak, "Farah! Kamu di mana? Hey, saya sudah di sini!" Detik berikutnya, Farah langsung keluar dari dalam lemari yang tertutup dan memeluk Dion dengan sangat erat. "Aku takut Dion, aku takut banget. Tolong bawa aku pergi dari sini ya! Aku enggak mau sama dia, dia jahat!" ucap Farah, dengan pelukan di perut Dion, yang semakin erat. "Heh! Kalau mau ngomong itu dijaga! Gue itu cuma minta hak gue sebagai pacar lo, kenapa lo malah fitnah gue kayak gitu?" protes laki-laki yang saat ini berada tak jauh dari depan Dion. Dengan muka yang sangat sangar dan tangan yang menunjuk-nunjuk ke arah Farah. Tak ada aba-aba sama sekali, laki-laki tadi melangkahkan kakinya untuk mendekati ke arah Farah, tetapi langsung ditahan oleh Dion, dengan tangan kanan yang menempel pada d**a bidang miliknya. "Sorry! Kalau berani, jangan sama perempuan! Di sini ada laki-laki kok, kenapa? Nggak berani sama saya?" tanya Dion, dengan raut wajah yang ia buat sangar juga, supaya seimbang. "Eh, ya ampun! dilihat dari tampilannya aja udah nggak ada yakin sama sekali. Kayaknya, kalau sekali tanding, ngelawan gue, pasti langsung mati!" sahut laki-laki tersebut, dengan nada yang sangat sombong. "Kita nggak bakalan tahu apa yang terjadi sama seseorang, kalau belum dilakuin!" sahut Dion, dengan sangat percaya diri. Jika dirinya itu bisa mengalahkan laki-laki belagj di depannya saat ini. Tanpa ada aba-aba sama sekali, laki-laki itu langsung melayangkan tinjuan ke arah Dion, tetapi untungnya dengan sangat sigap Dion menahan tinjuan tersebut. Sehingga dirinya tidak terkena sasaran. Lama-kelamaan, karena Dion mencengkeram tangan yang tadi akan ia gunakan untuk menonjok. Laki-laki yang sok jago itu akhirnya mengalah dan meringis. "Nah, masa kekuatannya cuma segitu aja? Katanya udah hebat! Katanya itu kalau tanding sama saya, saya bakalan kalah terus? Mana? Siapa yang kalah? Makanya kalau jadi orang itu jangan pernah banyak omong!" ujar Dion, yang ingin sekali menyombongkan dirinya. Laki-laki itu masih belum puas, ia kembali bangkit dan mencoba untuk menghajar Dion, tapi untung saja Dion lebih hebat dan langsung bisa menangkisnya. Kesal dengan laki-laki yang menjadi lawannya itu tidak kunjung menyerah, maka Dion memutuskan untuk meraih kerah baju laki-laki tersebut. Mengangkat dengan sangat kasar, lalu satu kali tinjuan langsung mendarat pada pipi mulus laki-laki itu. Darah langsung keluar dari sudut bibir, berkali-kali juga Dion melakukan itu. Sampai akhirnya laki-laki tersebut sudah terkapar lemah. "Kamu nggak apa-apa? Kita keluar, yuk! Saya anterin kamu ke rumah kamu!" tanya Dion, lalu segera mengajak perempuan bernama Farah itu untuk keluar dari kamar hotel tersebut. Farah masih sangat syok dan juga terkejut. Tangan kanannya dengan sangat erat menggandeng lengan milik Dion dan berucap, "Dion aku takut banget! Untung aja kamu itu datang tepat waktu." "Aku gak bisa ngebayangin, kalau nanti kamu ngga tepat waktu ke sini, dan aku bakal habis sama dia!" ucap Farah lagi. "Ya udah, diem dulu diam, ya! Jangan bahas itu dulu, tenang ada saya kok di sini. Kamu bakalan aman kalau ada saya di samping kamu," ucap Dion, sembari membelai rambut perempuan tersebut. Tak dapat dipungkiri, perlakuan yang Dion tunjukkan itu memang membuat Farah langsung nyaman dan seakan tak ingin melepaskan gandengan tangan tersebut. "Kamu sekarang gak kerja? Kok malah buang waktu buat ke tempat aku sih?" tanya Farah, masih dengan tangan yang menggandeng lengan Dion. Dion langsung mengulas senyum dan menjawab, "Keselamatan kamu itu lebih penting dari pekerjaan saya. Jadi santai aja ya, yang namanya pekerjaan itu bisa dikejar tayang, sedangkan kamu nggak bisa dibayangkan!" Tak ada sahutan sama sekali yang dikeluarkan oleh Farah, perempuan itu semakin erat menggandeng tangan milik Dion. Sampai akhirnya, mereka berdua tiba di parkiran dan dia membukakan pintu mobil yang ia bawa, untuk mempersilahkan Farah masuk terlebih dahulu. Dalam hati, ia sangat lega karena perempuan yang pernah berada di dalam hidupnya itu masih dalam keadaan baik-baik saja, dan tidak ada yang terluka sama sekali. Untuk menanyakan hal yang terjadi pada perempuan itu Dion berencana untuk mengajaknya menuju ke salah satu cafe terdekat, supaya memiliki ketenangan. "Loh, katanya kamu mau nganter aku ke rumah aku? Tapi kok jalannya beda?" tanya Farah, yang memang sudah sangat hafal betul jalan menuju ke rumahnya itu. "Kita ke cafe aja dulu ya, saya mau ngobrol-ngobrol sama kamu," sahut Dion, yang membuat Farah langsung menggerakkan bibirnya menyerupai huruf O. "Kamu udah punya kekasih lagi ya?" tanya Farah, yang membuat Dion langsung refleks menggelengkan kepalanya. Entah mengapa, saat dirinya mengaku seperti itu, ada rasa bersalah yang hadir di dalam hati. Karena baru beberapa jam ia mengutarakan, jika dirinya itu akan melaksanakan hubungan dengan penuh keseriusan pada Keysa. Lagipula, dirinya juga tidak terlalu memiliki perasaan pada perempuan itu. Sehingga, berkali-kali Dion menenangkan di dalam hati, jika hal itu tidaklah salah. "Seriusan? Bukannya kamu udah punya pacar lagi ya? Waktu itu aku pernah lihat kamu sama perempuan. Itu bukan pacar kamu?" tanya Farah lagi, yang kini dengan kedua mata disipitkan. Penuh mengintimidasi. Dion kembali menggelengkan kepala. "Iya bukan. Dia itu temen saya, tapi mungkin terlihat kek deket banget? Padahal mah nggak kok, biasa aja. Kit cuma teman, bukan kekasih." Mendapat jawaban seperti itu dari Dion, membuat Farah langsung mengulas senyum, karena di dalam hatinya. Ia akan memiliki kesempatan lagi untuk mendapatkan hati laki-laki yang pernah ada di dalam hidupnya. Dan semoga saja, hal itu memang akan terjadi. Tidak kembali menelan kenyataan yang sangat pahit, tentang rasa yang tidak bisa bersatu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN