CLBK?

1013 Kata
"Kenapa senyum-senyum gitu, hayo? Jangan-jangan?" tanya Dion, sembari melempar tatapan heran dan juga penuh pertanyaan. Laki-laki itu juga sangat sengaja tak melanjutkan ucapannya yang itu. Karena, membuat penasaran seseorang, itu memang sudah menjadi terbaru bagi Dion. Namun, detik itu juga Farah langsung mencubit pelan lengan sebelah kiri milik Dion, dan menjawab, "Apaan, sih! Jangan curiga terus deh jadi orang!" Dion langsung mengernyitkan dahinya heran, lalu menyahut, "Ya ampun, gimana enggak curiga, kalau apa yang kamu lakuin itu buat saya curiga." "Ish! Apaan, sih! Orang saya biasa aja, kok!" elak Farah, yang masih tak mau mengaku sama sekali. "Kamu masih punya rasa yang dulu?" taya Farah, setelah beberapa menit mereka sama-sama terdiam. Mendengar pertanyaan yang seperti itu, membuat Dion langsung menoleh ke arah Farah. "Rasa? Maksudnya gimana?" tanya Dion balik. Mendapat pertanyaan balik seperti itu, Farah justru merasa tak enak. Perempuan itu menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal itu. "Udah, deh! Jangan dibahas lagi. Hehe, lupain aja!" "Enggak bisa gitu, dong! Kalau udah ngomong, ya dilanjutin. Saya gak paham, ya dijelasin!" protes Dion, sembari mencoba untuk terus fokus pada lalu lintas. "Kamu enggak paham, ya udah! Aku males banget buat jelasin!" sahut Farah, yang justru berbanding terbalik dengan apa yang tadi diucapkan oleh Dion. "Yah, jangan gitu, dong! Masa iya enggak dijelasin, kan saya enggak paham!" pinta Dion, dengan sedikit memaksa. Namun, Farah pada akhirnya memilih untuk diam saja. Sama sekali tak menjawab, bayangkan saja jika perempuan diberi jawaban seperti itu. Memberi pertanyaan terlebih dulu, berharap orang yang diberi pertanyaan olehnya itu akan peka, tetapi ternyata tidak sama sekali. "Saya masih punya rasa buat kamu, sama kek yang dulu, tetapi saya takut nyakitin hati kamu lagi," ucap Dion tiba-tiba. Membuat Farah langsung menatap Dion penuh tanya. "Kenapa?" tanya Dion, saat mendapati tatapan Farah yang seperti itu. "Enggak percaya?" Farah menganggukkan kepalanya, buru-buru Dion langsung mengeluarkan ponsel miliknya itu, lalu berucap, "Nih, saya enggak mengubah nama kamu di kontak saya. Sama sekali enggak dirubah." "Dan, semua kenangan yang ada di ingatan saya, itu masih melekat dengan sangat kuat," sambung Dion, lalu mengulas senyum. Di mana-mana, yang namanya laki-laki memang seperti itu. Tidak akan pernah merasa cukup dengan satu perempuan. Sama halnya dengan Dion yang memberi harapan pada dua wanita yang ia kenal sekaligus. Meskipun di dalam hati laki-laki itu memang memiliki rasa bersalah, tetapi nafsu untuk bersama dengan masa lalu semakin menggebu. Sehingga Dion tak memikirkan bagaimana perasaan Keysa sama sekali. "Kita beneran ke cafe dulu?" tanya Farah, saat Dion baru saja menghentikan laju kendaraan roda empatnya itu. Tentu saja Dion langsung menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Ya bener dong, ini juga udah sampai di cafe, kan?" Farah kembali tak menyahuti jawaban dari Dion itu, tangan kirinya langsung bergerak untuk membuka mobil yang saat ini ia naikin. Rasa kagum langsung menghampiri hatinya lagi. "Kenapa kamu ada di kamar hotel itu, sih? Saya kaget loh, pas kamu ada di situ," tanya Dion, setelah mereka sudah duduk di salah satu meja yang disediakan. Juga sudah memesan minuman dan camilan, untuk menemani obrolan mereka berdua. "Ceritanya sangat panjang banget, aku itu dijebak sampai bisa ada di kamar itu. Aku dibuat enggak sadar, tapi untungnya aku bisa sadar lebih cepet." "Pas aku sadar, si laki-laki biadab itu enggak ada di sekitar kamar. Itu keadaannya aku yang udah setengah bugil, makanya aku make semua yang udah lepas dari tubuh aku dan masuk ke dalam lemari," tutur Farah, seraya membayangkan bagaimana jantungan nya ia di saat seperti itu. "Untung aja kamu itu datang tepat waktu," ujar Farah, dengan tangan kanan yang bergerak untuk menggenggam tangan milik Dion. Mengulas senyum terlebih dulu, sembari melihat ke arah Dion dengan sangat fokus. "Makasih banyak ya, udah nyempetin waktu buat menyelamatkan aku." Sama halnya dengan Farah yang mengulas senyum, Dion juga melakukan hal yang sama. "Sama-sama, justru saya ngerasa bangga sama diri saya sendiri, bisa datang tepat waktu kek gitu." "Saya sama sekali enggak pernah ngebayangin, gimana nanti kalau kamu itu udah diapa-apakan sama laki-laki itu," sambung Dion, seraya menatap perempuan di depannya dengan sangat serius. Tak ada percakapan lagi, sampai akhirnya waiters datang dengan membawa nampan yang berisi pesanan mereka berdua. Berbicara dengan Farah mengenai tentang masa lalu, masa setelah mereka berpisah, hingga sekarang. Membuat Dion benar-benar lupa waktu. Laki-laki itu sama sekali tak sadar jika sedari tadi sudah bersama terus-terusan dengan Farah. Mungkin saja, itu adalah efek dari rasa rindu yang sudah terlalu lama sekali. Dion benar-benar tak merasa sama sekali, bahkan bisa dibilang sudah tak peduli. Yang terpenting di kesempatan kali ini, dirinya bisa mengulang kenangan lama yang sempat terkubur itu. "Gimana tanggapan kamu, kalau kita kembali menjalin hubungan?" tanya Dion, dengan tatapan yang terfokus pada manik mata milik perempuan di depannya itu. "K-kamu seriusan bilang kek gitu?" tanya Farah, yang masih belum percaya sama sekali. Bahkan, menganggap semua ini hanya hayalan dirinya saja. Dion menganggukkan kepalanya dengan sangat yakin. "Seriusan, dong. Saya masih punya rasa sayang sama kamu, kamu juga masih punya rasa itu, kan?" "Tapi, aku takut sama orang tua kamu. Soalnya, yang namanya penolakan itu sakit banget, Dion!" ujar Farah, yang tiba-tiba saja langsung menurunkan nada bicaranya. "Gimana kalau nanti kita nikah lari aja? Kalau emang orang tua saya enggak ngerestuin lagi?" usul Dion, yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Farah. "Kalau kita ngelakuin hal yang kek gitu, nanti aku lagi yang dicap jelek sama orang tua kamu," jelas Farah, yang langsung dibenarkan oleh Dion. Mereka berdua sama-sama terdiam, memikirkan akhir dari perjalanan kisah cinta mereka berdua, yang sedari dulu selalu saja menyakitkan. "Kita lihat ke depannya aja. Gimana?" usul Farah, yang membuat Dion hanya menghembuskan napas gusar. "Percaya, deh! Kalau semuanya itu bakalan indah pada waktunya," ucap Farah lagi, mencoba meyakinkan laki-laki di depannya itu. Dion hanya mengulas senyum terpaksa, dengan tangan kanan yang bergerak meraih gelas yang berada di depannya itu, lalu meneguk air yang berada di dalam gelas tersebut. "Kamu yang sabar ya, tapi percaya deh, kalau rasa yang saya punya itu enggak akan pernah berubah sama sekali," ujar Dion, dengan tangan yang mengusap pelan pipi milik perempuan di depannya. Dengan sangat bangga sekali, Farah langsung menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Iya. Aku percaya kok sama kamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN