Setelah selesai mengantarkan Farah menuju ke rumahnya lagi, kali ini Dion kembali melajukan mobil yang dimilikinya itu ke arah kantor.
Sesampainya di kantor, Dion justru melihat raut wajah Keysa yang masam, dan tidak ada senyum sama sekali, tapi laki-laki itu memilih untuk tidak peduli.
Menetapkan sikap bodo amat, sehingga dirinya masuk ke dalam ruangan pribadi.
"Ngapain coba, dari tadi keluar. Sekarang baru balik lagi, dan mukanya itu kaya gak ada rasa bersalah sama sekali," gumam Keysa, lalu memilih untuk kembali melanjutkan pekerjaannya lagi.
Jam demi jam berlalu, sampai akhirnya waktu pulang kerja pun tiba. Semua karyawan sudah bersiap-siap untuk pulang dari kantor, tetapi Dion tak kunjung keluar.
Membuat Keysa memilih untuk masih tetap berkutat, dengan komputer yang di depannya.
Rasa lapar tentu saja langsung dirasakan oleh Keysa, karena sedari tadi perempuan itu memang sama sekali belum makan apa pun.
Biasanya, kalau Keysa ingin beristirahat, itu selalu saja dengan Dion. Namun, tadi siang, Dion tidak ada di kantor. Sehingga Keysa harus menahan rasa lapar yang ia rasakan, dan memilih untuk tidak makan sama sekali.
Jadi, selama ini Keysa itu terus aja berkutat dengan pekerjaannya, meski sebenarnya bosan dan kesal juga, tapi mau bagaimana lagi.
Lagipula, laki-laki yang tengah ia kesal kan, itu adalah atasannya sendiri. Jadi, tidak akan mungkin jika yang namanya atasan itu ditegur.
"Loh, saya perhatiin dari tadi kerja terus. Istirahat enggak, makan siang enggak, dan sekarang saatnya pulang semua, kok mbaknya nggak pulang?" tanya salah satu karyawan yang melintas di depan Keysa. Bertepatan dengan itu, Dion membuka pintu dan mendengar semua percakapan itu.
"Emang sengaja kok, Mbak. Lagi nggak pengen makan siang aja, dan sekarang juga masih banyak banget kerjaan yang belum selesai," sahut Keysa dengan raut wajah yang tak enak.
Karyawan itu menyahuti, "Tentang kerja mah santai aja, jangan sampai kamu sakit loh! Gara-gara ngurusin kerjaan kayak gini, kalau emang hari ini nggak selesai sama target, gampang dilanjut besok."
"Ya udah, ya ... terserah kamu juga sih! Saya mau pulang duluan aja ya, cepet pulang!" pamit karyawan tersebut, lalu melanjutkan lagi langkah kakinya menuju ke arah pintu keluar.
Bertepatan dengan karyawan itu melenggang pergi dari hadapan Keysa, Dion pun membuka pintu ruangan pribadinya dan langsung berdiri di samping Keysa.
"Apa yang tadi dia bilang itu bener? Kamu nggak makan siang? Kamu enggak istirahat?" tanya Dion langsung.
Namun, karena rasa kekesalan yang tengah dirasakan oleh Keysa. Maka perempuan itu hanya menjawab dengan berdeham saja.
"Terus kenapa? Kenapa enggak istirahat? Harusnya itu keluar sendiri dong, masa iya harus sama saya aja?" tanya Dion lagi.
Tak ada sahutan yang dikeluarkan oleh Keysa, tapi di dalam hati perempuan itu berucap, 'Bego banget ya ampun, punya atasan! Gimana saya mau keluar coba, kalau nggak punya kendaraan sama sekali. Ya kali aja kalau tempat buat makannya itu deket, lah ini tempatnya jauh-jauh banget!'
"Terus, sekarang mau berkutat terus sama kerjaan?" tanya Dion.
"Terserah saya!" sahut Keysa, dengan tatapan yang tidak perduli sama sekali.
"Oh gitu, ya udah. Nggak apa-apa, saya mah mau pulang duluan aja, capek!" ucap Dion, lalu melangkahkan kaki terlebih dahulu meninggalkan Keysa.
Karena terdorong oleh rasa kesal pada laki-laki tersebut, Keysa sama sekali tak menggubris dan tetap melaksanakan tugasnya itu. Meskipun hanya menatap layar komputer dan tidak menggerakkan sama sekali.
Di dalam pikirannya, mungkin ia akan meminta tolong pada Delon, dan menjemputnya di kantor ini, karena tidak ada teman lagi untuk ia meminta bantuan.
Reaksi yang ditunjukkan oleh Keysa tidak mengeluarkan protes, atau ikut melangkahkan kaki. Membuat Dion heran dan mengernyitkan dahinya, lalu ia pun kembali lagi ke meja Keysa. "Kamu seriusan enggak mau ikut sama saya? Terus mau pulang sama siapa?"
"Loh, orang kamu aja enggak nawarin ke saya. Saya mah santai aja, masih banyak laki-laki yang lain, yang mau saya repotin," sahut Keysa, dengan sangat percaya diri.
"Ya ampun! Kan biasanya juga kita itu pulangnya bareng, enggak usah nawarin juga kan kamu ikut!" jelas Dion, masih dengan dahi yang berkerut.
"Emangnya tadi siang kamu itu ke mana?" tanya Keysa pada akhirnya, karena sebenarnya perempuan itu juga sangat ingin tahu sekali tentang kepergian Dion yang sangat mendadak itu.
"Ada sesuatu hal yang harus saya kerjakan, tapi enggak harus kamu tahu, kan?" jawab Dion, lalu tersenyum.
Entah mengapa, hati Kiara tiba-tiba sakit dan seakan ada hal buruk yang mungkin saja terjadi di kemudian waktu.
Tak menggubris jawaban dari Dion yang tadi, Keysa lebih memilih untuk membereskan semua peralatan yang ia punya itu, lalu berucap, "Yuk, katanya mau pulang!"
"Ya udah, yuk!" sahut Dion, mereka berdua langsung melangkahkan kaki bersama menuju ke pintu keluar.
Tak ada yang mengeluarkan pertanyaan sama sekali, sampai akhirnya mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil dan Dion juga mulai menjalankan mobilnya itu, pergi dari halaman kantor miliknya.
Namun, baru beberapa menit dan menjalankan mobil. Ponsel milik Dion langsung berbunyi, itu pertanda jika ada yang menelepon laki-laki tersebut.
"Biar saya aja yang angkat teleponnya," izin Keysa, lalu ingin berniat untuk meraih ponsel yang berada di tempat penyimpanan barang di dalam mobil.
Namun, Dion buru-buru mencegah, dengan tangan kiri yang bergerak meraih ponsel tersebut, lalu menjawab, "Nggak usah, biar saya aja yang ngangkat sendiri."
Keysa tersenyum, lalu Dion menepikan mobilnya terlebih dahulu. Supaya bisa fokus pada telepon yang ia angkat, karena telepon tersebut dari perempuan yang sedari dulu masih berada di dalam hati.
"Halo, kenapa?" tanya Dion dan tangan yang mengetuk setir mobilnya. Toh mesinnya sudah ia matikan terlebih dahulu.
"Sekarang lagi ada di mana kamu? Nanti malam bisa nggak kalau kita ketemu?" tanya Farah, sedikit malu. Karena baru saja lewat beberapa jam ia melewati waktu bersama dengan Dion, tapi sekarang ia kembali meminta waktu pada laki-laki itu.
Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Farah, tentu saja membuat Dion langsung mengulas senyuman yang sangat lebar, lalu menjawab "Sekarang itu lagi ada di jalan, sih! Mau pulang ke rumah. Ya udah gampang, nanti malam tinggal kabarin aja tempatnya di mana. Oke?"
"Seriusan? Ada waktu buat nanti malem kita keluar?" tanya Farah, yang masih tidak percaya jika ajakannya itu diterima.
"Ya ampun! Ya iyalah, tinggal kasih tahu aja ya, nanti malam tempatnya ada di mana. Nanti saya bakal langsung ke situ kok," jawab Dion, dengan sangat yakin.
Membuat keduanya sama-sama langsung tersenyum sangat lebar, tetapi tidak sama halnya dengan Keysa, yang justru menatap heran pada laki-laki di sampingnya itu.