Rencana kencan

1023 Kata
Setelah mendapat persetujuan dari keduanya, antara Dion dan juga Farah. Maka, mereka pun langsung memutuskan panggilan dan bersiap-siap untuk nanti malam. Meskipun masih lama, tetapi dapat dipastikan kalau seseorang hatinya tengah berbunga-bunga, itu pasti akan terasa lebih semangat lagi. "Dia siapa?" Pertanyaan tersebut langsung keluar dari mulut Keysa, dengan tatapan yang benar-benar heran. "Siapa?" tanya Dion balik, berpura-pura tidak paham akan pertanyaan yang keluar dari mulut Keysa barusan. "Itu. Orang yang nelpon kamu itu siapa? Kalian mau ketemuan nanti malam? Di mana, sih?" tanya Keysa, lebih detail lagi. Namun, Dion tidak terlebih dahulu menjawab. Ia memilih untuk melanjutkan mobil miliknya itu, dan melanjutkan lagi perjalanan mereka yang sempat tertunda. "Dia itu, orang saya temui nanti malam," jawab Dion. "Iya, saya juga tahu itu orang! Kamu kira hantu! Lagian, kan cuma saya nanya, itu siapa?" protes Keysa, yang merasa sedikit kesal dengan jawaban yang keluar dari mulut Dion. "Ih, kok kepo sih? Ini, kan urusan saya. Lagian, kita itu kan cuma temen, jadi kamu enggak berhak dong tahu siapa yang telepon saya. Terserah saya, saya mau nelpon sama siapa pun juga boleh!" sahut Dion, yang membuat Keysa tersadar. jika dirinya dengan laki-laki di samping itu, tidak memiliki hubungan apa pun. Kalau ada yang mengatakan mereka tunangan, tolong! Mereka tidak tahu jika sebenarnya Dion dan juga Keysa hanyalah berpura-pura. "Oh iya, ya! Saya sih cuma mau tahu aja gitu, rasanya kepo gimana sih? Tinggal bilang aja namanya ini, orangnya gini, gini, gini, gini. Kenapa susah banget sih?" ujar Keysa, lalu memilih untuk mengambil ponselnya. Supaya dapat menetralkan perasaan malu, karena terlebih dahulu menanyakan tentang hal itu. "Yakin, nih, mau tahu siapa dia?" tanya Dion, dengan sedikit waktu untuk menatap kearah Keysa, lalu kembali fokus pada lalu lintas. Dengan sangat semangat, Keysa langsung menganggukkan kepalanya, lalu menjawab, "Iya. Dari tadi juga saya itu minta dikasih tahu, kalau tadi itu siapa!" "Okey, saya bakalan kasih tahu ya! Tadi itu tuh, perempuan yang sangat berarti banget di hati saya," jawab Dion, seraya mengulas senyum dengan sangat sempurna. "Perempuan?" tanya Keysa, entah mengapa hatinya itu terasa sangat sakit. Namun, saat Keysa merasakan hal itu, ia buru buru menepis jauh-jauh dan harus sadar diri, jika dirinya itu bukanlah siapa-siapa di dalam hidup Dion. Meskipun 'katanya' orang tua Dion itu setuju dengan hubungan mereka, tetapi yang menjalani hidup mereka berdua. Bukanlah orang tuanya. Berpura-pura untuk baik-baik saja, lalu mengulas senyum. "Tapi, kata kamu kan kamu itu enggak punya hubungan sama siapa-siapa, nggak punya perempuan yang deket sama kamu kan? Terus kenapa sekarang tiba-tiba ada?" tanya Kiara, saat dia tersadar akan hal itu. "Nah, ini yang harus kamu tahu juga! Perempuan itu, sebenarnya mantan saya. Dan kita itu selesai gara-gara restu dari mama, makanya saya itu trauma buat ngajak perempuan lagi," jawa Dion, yang mulai menceritakan semuanya. "Terus, tadi siang itu, makanya saya langsung keluar dari kantor dan gak pulang sampai lumayan lama. Itu saya selamatkan dia dari pacarnya dia, soalnya mau melakukan hal yang kayak gitulah. Namanya juga nafsu, kan?" tutur Dion lagi. Keysa menganggukkan kepalanya. Pertanda jijik dirinya itu paham, lalu kembali bertanya, "Terus sekarang, kalian jalin hubungan lagi?" "Pengennya sih gitu, tapi nggak tahulah! Lihat aja waktu ke depannya kayak gimana, soalnya saya juga nggak bisa maksa kalau perempuan itu bakalan bisa menerima saya lagi. Terlepas dari kejadian masa lalu, yang udah ditolak mentah-mentah sama mama saya. Mungkin bakalan jadi trauma tersendiri, kan?" jawab Dion. Keysa menganggukkan kepala, membenarkan apa yang diutarakan oleh Dion tersebut, karena jika ia merasakan seperti itu. Pasti akan terasa sangat takut dan tidak berani sama sekali untuk memulai hubungan yang baru lagi. Namun, di dalam hatinya, Keysa juga berharap jika Dion tak akan pernah kembali bersama dengan perempuan tersebut. Jangan pernah percaya pada ucapan yang dilontarkan oleh perempuan, perihal tentang rasa. Karena dia tidak akan pernah selalu jujur tentang perasaan yang dimilikinya. "Nanti besok, kamu akan menerima gaji pertama kamu, tapi jangan kaget kalau tidak sama dengan karyawan yang lain, karena kamu kerja tidak full selama satu bulan," ujar Dion, memberitahukan. "Siapa yang ngasih gaji? Kamu?" tanya Keysa, dengan tatapan mata yang melihat ke arah wajah Dion, dengan sangat serius. Dengan sangat enteng sekali, Dion langsung menganggukkan kepalanya dan mengangguk. "Ya iyalah! Kan saya yang jadi atasan, cuma saya mendapat rincian gaji semua karyawan dari seseorang yang bertugas untuk mencatat ha itu." "Dalam bentuk amplop, atau gimana?" tanya Keysa lagi, karena perempuan itu memang sama sekali tak mengetahui bagaimana sistem gaji diberikan. Dion menggelengkan kepala dan menjawab, "Enggak, dong! Di perusahaan saya itu pakainya langsung menuju ke rekening." Hanya mulut yang dibentuk menyerupai huruf O saja, sebagai tanggapan yang dikeluarkan oleh Keysa. Namun, pada detik berikutnya, perempuan itu kembali bertanya, "Loh, untuk saya bagaimana?" "Karena kamu sebagai karyawan yang masih baru, maka gaji yang kamu terima, itu masih menggunakan amplop," sahut Dion. "Mau ke tempat makan dulu, atau langsung pulang ke kosan?" tanya Dion, saat mereka berdua tengah dihadapkan dengan lampu merah. Keysa tak langsung menyahut, perempuan itu diam terlebih dulu, lalu menjawab, "Langsung ke kosan aja, deh! Males buat makan." Dion langsung mengernyitkan pandangannya, ia heran dengan jawaban yang dikeluarkan oleh Keysa barusan. Namun, tanpa diketahui oleh Keysa, laki-laki itu memilih untuk menuju ke restoran yang ia pilih. Sangat tidak mungkin sekali, jika ia membiarkan perempuan yang berada di sampingnya itu tak memakan makanan apa pun, bahkan dari tadi siang. "Yuk, turun!" ajak Dion, setelah ia mematikan mesin mobilnya, karena memang sudah tiba di tempat tujuan. Mendengar ajakan yang keluar dari mulut Dion, membuat Keysa langsung mengalihkan pandangannya. Dari ponsel yang sedari tadi ia tatap, menuju ke kaca mobil di depannya. "Loh, ini kan bukan kosan saya?" tanya Keysa, dengan tatapan yang penuh tanya. "Emang bukan kosan kamu," jawab Dion, lalu tangan kanannya bergerak untuk membuka pintu mobil, sedangkan Keysa hanya ikut apa yang dilakukan oleh laki-laki tersebut. Dion langsung mengulas senyum dan menjawab, "Saya enggak akan mungkin membiarkan perempuan, atau lebih tepatnya adalah karyawan saya. Kelaparan, setelah pulang dari kantor saya!" "Dih! Alay banget! Biasanya juga saya sering kok enggak makan!" sahut Keysa, sembari membenarkan pakaian yang ia kenakan itu. "Ini itu bukan alay, tapi perhatian!" koreksi Dion, seraya menggerakkan kedua kakinya untuk segera masuk ke dalam restoran di depannya saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN