Kenyataan menyakitkan

1015 Kata
"Kamu enggak pesan makanan sama sekali? Biarin saya makan makanan, dengan pilihan yang sangat banyak ke gini?" tanya Keysa, bahkan dengan kedua mata yang tak berkedip sama sekali. Karena melihat begitu banyak makanan yang ia lihat di depan matanya saat ini. Dion menatap Keysa, sembari menggelengkan kepalanya. "Nah! Sekarang giliran kamu yang alay!" sindir Dion. Keysa langsung menatap penuh kekesalan, dan menyahut, "Bukan kek gitu juga konsepnya! Kalau hal kek gini mah emang wajar!" "Saya baru pertama kali ini ngeliat makanan yang sebanyak ini, dan kamu enggak mau ikut makan?" sambung Keysa lagi. "Saya mau makan, tapi disuapin!" sahut Dion, sembari mengedipkan sebelah matanya. "Ogah! Kasian tuh kedua tangannya itu nganggur!" balas Keysa dengan tatapan yang menandakan, jika dirinya itu tengah muak. Tentu saja muak pada laki-laki yang saat ini ada di depannya. Dion langsung menggelengkan kepalanya, tetapi pada akhirnya laki-laki itu tetap saja memilih satu piring yang akan ia makan. "Udah! Jangan ngeliatin saya terus, nanti suka sama saya. Saya enggak akan tanggung jawab!" "Dimakan, tuh, makanannya!" titah Dion, sembari menunjuk ke arah makanan yang tersedia di atas meja. Setelah perseteruan tadi, kini Dion dan juga Keysa tengah sama-sama melahap makanan yang begitu banyak. Sampai-sampai, perut pun seakan ingin meledak. Setelah pulang dari kegiatannya mengantar kekasih pura-pura, kini saatnya untuk Dion melajukan mobil miliknya itu, menuju ke rumah. Pulang dan bersiap untuk janji yang dibuatnya dengan Farah. "Mau ke mana? rapih banget!" tanya Reta, saat ia mendapati anak semata wayangnya itu keluar dari kamar. "Eh, Mama udah pulang?" tanya Dion balik, arena terkejut juga melihat Reta yang tengah santai menonton televisi. "Kebiasaan banget, kalau ditanya, selalu aja nanya balik!" protes Reta, yang membuat Dion mengeluarkan cengiran andalan yang ia punya. "Hayo! Mau jalan sama calon menantu Mama, ya?" tebak Reta, yang justru membuat Dion merasa tak enak, karena pada kenyataannya itu tidaklah benar. "Bukan, Ma. Dion mau jalan sama temen," jawab Dion, yang mengeluarkan kebohongan. Eh, tapi bukan suatu kebohongan juga, sih, karena pada kenyataannya Farah memanglah masih menjadi seorang teman untuk Dion. Hanya saja, perasaan yang dulu ada, itu masih terjaga sampai sekarang. "Mama kok tumben, jam segini udah ada di rumah?" tanya Dion, yang kini langsung duduk di samping Reta. Lagipula, Farah tak kunjung memberinya pesan. Di mana tempat mereka akan bertemu. "Dih! Padahal, mama pulangnya dari tadi banget, loh!" protes Reta, dengan pandangan yang tetap fokus pada layar televisi. "Hehe, soalnya Dion dari tadi tidur di dalam kamar, Ma," sahut Dion, yang kembali mengeluarkan cengiran miliknya itu. "Terus, sekarang kenapa enggak pergi keluar? Kan katanya tadi itu mau ketemu sama teman?" tanya Reta lagi. Dion langsung mengedikkan kedua bahunya, lalu menjawab, "Enggak tau, dia belum ada kabar sama sekali. Jadi, Dion lebih milih buat ngobrol sama Mama dulu!" "Ya ampun, udah siap-siap sampai serapi itu, terus baunya udah wangi banget! Kalau sampai enggak jadi buat jalan, pasti rasanya nyesek banget ya?" omel Reta, setelah mengamati semua yang ada pada diri Dion. "Kalau emang gak jadi buat jalan, ya enggak masalah dong, Ma. Kan enak juga bisa istirahat!" sahut Dion, lalu mengelus senyum. Meskipun jauh di dalam hati, ia merasa tak tenang. Bagaimana, jika nanti apa yang diucapkan oleh perempuan di sampingnya itu benar. Rencana pertemuan yang udah dirancang oleh Farah dibatalkan? Tetapi otak yang dimiliki oleh Dion, menolak akan hal itu. "Memangnya, siapa sih yang mau kamu ajak jalan itu? Mama mau liat orangnya!" tanya Reta, dengan tatapan yang menuntut. Jika apa yang barusan ia ingin, itu harus dilaksanakan. "Ih! Mama tuh, suka kep, deh! Ya ... rahasia, dong!" sahut Dion, yang sebenarnya ia itu sudah kelabakan. Saat mendapat pertanyaan yang seperti itu, dari orang tuanya sendiri. Sangat tak aman sekali rasanya, jika sampai Reta melihat foto siapa yang mengajaknya keluar untuk malam ini. Bisa-bisa, amarah yang dimiliki oleh orang tuanya itu langsung keluar. "Eh! Ma, temen Dion udah ngasih tau, nih! Ya udah, Dion pergi dulu ya, Ma!" pamit Dion, yang memilih untuk mengeluarkan alibi. Padahal, tak ada satu pesan pun dari Farah. Laki-laki itu hanya menyelematkan dirinya, dari beberapa pertanyaan yang mungkin saja akan dikeluarkan oleh Reta. Dan, jika Dion ketahuan memiliki rasa pada perempuan tersebut. Bisa-bisa ia akan langsung tidak dianggap sebagai anak dari Reta lagi. Namun, keputusan yang dibuat oleh Dion, justru membuat laki-laki itu terjebak pada sebuah rasa kebingungan. Di mana dirinya itu bingung harus ke mana, dan juga dengan siapa. Sehingga, Dion memutuskan untuk mencari nomor telepon dari Farah dan segera menghubungi nomor perempuan tersebut. Tetapi, harapan Dion yang akan berujung pada keindahan, justru langsung pupus. Saat, Farah tak mengangkat telepon dari dirinya itu. Kekecewaan langsung menghampiri Dion, ia yang sudah sangat lelah untuk menyiapkan semuanya. Terasa sangat sia-sia, dan membuat Dion seketika langsung kehilangan semangat. Sebuah ide langsung terpikirkan oleh Dion, ia memilih untuk menuju ke salah satu tempat, yang menjadi saksi kenangan antara dirinya dan juga Farah. Meskipun, pada kesempatan kali ini, ia tak jadi untuk bertemu dengan sang pujaan hati, tetapi setidaknya Dion dapat bertemu dengan tempat kenangan yang mereka lalui. Butuh waktu yang lumayan lama, untuk sampai di tempat tersebut. Perlahan mulai masuk ke dalam salah satu tempat meminum kopi, yang berada di sekitar pepohonan yang asri. Apalagi, konsep tempat tersebut memilih untuk menyatu dengan alam. Hanya memesan satu gelas minuman saja, itu sudah sangat cukup. Namun, saat minuman yang dipesan oleh Dion sudah hampi habis. Pandangan Dion, justru melihat ke arah perempuan dan juga laki-laki. Dengan telapak tangan yang saling bertautan, sama halnya dengan apa yang dilakukan layaknya sepasang kekasih. Saat Dion lebih meneliti kedua orang tersebut, Dion langsung sadar jika perempuan tersebut adalah Farah. Perempuan yang sedari tadi ia nantikan kabarnya. Ternyata, apa yang diucapkan oleh orang tuanya itu memang benar. 'Untuk memilih seorang perempuan, yang akan menemani kamu sampai akhir hayat, itu enggak mudah sama sekali.' "Ma, kali ini Dion bener-bener percaya sama mama," gumam Dion, menghabiskan minuman yang masih tersisa sedikit, lalu berdiri dan melangkahkan kaki menuju ke kasir. Melewati meja perempuan yang dikira Dion adalah Farah, dan ternyata dugaan Dion memanglah benar. Perempuan itu benar-benar Farah, hatinya langsung merasa sangat sakit. 'Mulai hari ini, saya akan benar-benar akan melupakan kamu, Farah,' gumam Dion, di dalam hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN