"Loh, kenapa udah baik? Baru dua jam kamu pergi dari rumah. Kok udah sampai di rumah lagi?" tanya Reta, sembari melempar tatapan heran.
Dion mengulas senyum terlebih dulu, lebih tepatnya itu adalah senyuman miris, lalu menjawab, "Semuanya menyakitkan, Ma."
Jawaban yang keluar dari mulut anak semata wayangnya itu, tentu saja membuat Reta langsung mengerutkan dahinya. Apalagi melihat raut wajah Dion, yang seakan baru saja kehilangan semangatnya.
"Kenapa bilang gitu, sih? Kek zaman masih remaja aja!" ledek Reta, disertai dengan tawa kecil, yang sengaja ia keluarkan.
"Apa yang jadi keputusan Mama, itu bener," ungkap Dion, secara tiba-tiba. Bahkan, terdengar sangat ambigu sekali.
"Keputusan Mama? Yang mana satu, nih?" tanya Reta, masih setia dengan tatapan heran miliknya.
Dion menghembuskan napas pasrah, lalu ia melanjutkan langkahnya lagi hingga tiba di sofa yang ditempati oleh Reta. Duduk tepat di samping perempuan yang menjadi orang tuanya itu, dengan kepala yang sengaja ia sender kan pada bahu,
"Dion mau jujur sesuatu sama Mama," ucap dion, yang membuat Reta langsung memegang kepala milik Dion, dan menegakkan kepala tersebut.
"Jujur tentang apa? Kamu enggak ngelakuin hal yang aneh-aneh, kan?" tanya Reta, yang ternyata sudah memiliki pikiran aneh terlebih dulu.
Dion langsung menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, "Enggak kok, ma. Dion enggak akan mungkin buat ngelakuin hal yang kek gitu!"
Meskipun, Dion juga tak tahu, apa yang ada di dalam pikiran Reta, tetapi Dion memilih untuk langsung menjawab seperti itu.
"Yang mau Dion omongin, itu tentang perasaan," tutur Dion, seraya melihat ke arah wajah Reta.
Di dalam hatinya itu, antara ada rasa takut, atau hal-hal yang lain lagi. Namun, jika tidak diberitahu sekarang, pasti ujung-ujungnya juga akan diketahui oleh Reta.
"Perasaan? Kenapa sama perasaan kamu itu?" tanya Reta. Meraih remote televisi terlebih dulu, lalu mematikan televisi yang sedari tadi ia tonton itu.
Sangat tak sopan sekali, jika ada seseorang, apalagi dion adalah anaknya sendiri, lalu lebih memilih untuk fokus pada layar televisi.
"Dion, sama Keysa. Itu sebenernya, cuma ngejalani hubungan pura-pura," ujar Dion, dengan kedua mata yang melirik ke arah wajah Reta. Takut jika orang tuanya itu akan langsung mengeluarkan amarah.
"Sebentar dulu, Ma. Jangan marah dulu, Dion tau kalau itu salah, tapi Dion enggak mau kalau sampai dijodohin sama anaknya temen Mama," ucap Dion, yang langsung memohon untuk tak dimarahi oleh Reta.
"Terus, gimana?" tanya Reta, yang kini menunjukkan raut wajah datar yang ia miliki.
Dion mengetuk ludahnya, ia baru tahu kali ini. Ternyata orang tuanya itu bisa marah, jika pada saat-saat yang tepat. "Tapi, Dion mulai suka sama Keysa."
"Dion juga mau jujur, kalau tadi itu sebenernya mau ketemu sama Farah. Mantan Dion, yang waktu itu mama tolak," tutur Dion, dan kali ini Reta merubah wajahnya. Dari datar, sekarang berekspresi, tetapi sangat menakutkan bagi Dion.
"Oh! Jadi? Sekarang Mama paham, kamu mau milih mantan kamu itu? Perempuan yang udah Mama tolak secara mentah-mentah?" tanya Reta, lalu menggelengkan kepalanya.
"Omongan orang tua, enggak pernah banget mau buat didengerin!" sindir Reta, lalu perempuan itu tak mau menatap Dion sama sekali.
Sindiran Reta yang seperti itu, langsung membuat Dion menggelengkan kepalanya. "Sekarang Dion baru percaya, kalau apa yang diucapkan sama Mama itu bener."
"Maksud kamu itu apa?" tanya Reta, pura-pura. Karena orang tua, pasti sudah tahu apa yang tengah terjadi pada anaknya. Namun, Reta memilih untuk melakukan drama jika dirinya itu tidak tahu apa-apa.
"Dion baru sadar, kalau pilihan Mama waktu itu emang bener. Farah bukan perempuan yang baik-baik," jawab Dion, dengan suara yang sangat jelas, dan juga yakin.
Reta tentu saja langsung mengulas senyum dan berucap, "Memangnya kenapa bisa bilang kek gitu? Dari kemarin-kemarin, kamu enggak percaya sama sekali sama Mama?"
"Atau, jangan-jangan kamu menganggap kalau Mama itu jahat sama kamu?" tebak Reta, membuat Dion semakin merasa bersalah dan juga menyesal.
"Maafin Dion, Ma. Harusnya, Dion itu sadar dari tadi, tapi ini mungkin jadi jalan dari kehidupan Dion," jawab Dion, lalu tersenyum miris.
Reta menghembuskan napas dengan sedikit rasa kesal yang langsung menghampiri, lalu berucap, "Nanti besok, ajak Keysa ke sini. Mama mau ngasih banyak pertanyaan ke dia!"
"Mama jangan marahin Keysa ya, dia enggak salah apa-apa. Ini itu semuanya salah Dion, ide juga dari Dion kok," pinta Dion. Raut wajah yang ditunjukkan oleh laki-laki itu, sudah sangat khawatir sekali.
Perempuan yang menjadi orang tua dari Dion, tentu saja langsung menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Enggak, dong! Masa iya calon mantu Mama mau dimarahin, sih?"
"Percaya sama Mama enggak? Soalnya Mama mau ngasih ujian lagi ke Keysa. Sebelum akhirnya perempuan itu bakalan jadi istri kamu," ujar Reta, yang memutuskan untuk memberi tahu hal itu terlebih dulu.
"Ngasih ujian? Mama mau buat soal?" tanya Dion, yang sama sekali tak mengerti akan ucapan Reta barusan.
"Bukan, dong! Tapi pertanyaan, kita liat reaksi yang ditunjukkan sama Keysa. Kalau apa yang Mama ekspektasi kan, itu ada di dalam diri Keysa. Maka, Mama bener-bener setuju sama dia," jelas Reta.
Dion menganggukkan kepala, sebenarnya ia itu belum paham sama sekali, tetapi malas juga jika terus-terusan bertanya tentang hal itu.
"Mungkin, kamu juga kalau ke rumah dia, kamu bakalan dites sama orang tua Keysa," ujar Reta lagi.
"Maksudnya gimana sih, Ma? Dion sama sekali belum paham," tanya Dion, dengan dahi yang berkerut. Menandakan, jika dirinya itu tengah heran.
"Penilaian seorang orang tua, saat anaknya itu bawa lawan jenis ke rumah. Maka yang dinilai pertama kali itu tingkah laku, sama kesopanan."
"Dilanjut ke tata cara bicara, nyaut ucapan, dan juga cara jawabnya gimana," jelas Reta, yang seharusnya sih sudah dapat dipahami oleh anak semata wayangnya itu.
Namun, entah mengapa laki-laki itu seakan sangat sulit sekali untuk masuk ke dalam otak.
"Tapi, inget loh ya! Kita sebagai orang tua, enggak bakalan bilang kalau kamu bakalan diuji. Semuanya itu terjadi secara ngalir gitu aja," ucap Reta, kembali memberitahukan apa yang ia tahu tentang hal itu.
Selain memberi penjelasan bagaimana ia akan memberi ujian pada Keysa, tetapi juga supaya anak semata wayangnya itu paham akan hal itu.
Setampan apa pun laki-laki, tetapi jika sopan santun tidak ada. Maka, siapa pun tak akan mau dengan laki-laki tersebut.
Jangan mengandalkan hanya dari ketampanan saja, ada juga orang tua perempuan yang melihat calon untuk anaknya itu dari segi materi.