resmi

1014 Kata
Setelah selesai dari urusan perkantoran, kini Dion dan juga Keysa melanjutkan perjalanan menuju ke rumahnya, karena itu adalah permintaan dari Reta. Sehingga, antara Dion dan juga Keysa tidak ada yang berani sama sekali untuk membantah. "Ada apa, sih? Jangan bilang kalau bakalan bahas tentang pernikahan kita?" tanya Keysa, tetapi lebih tepatnya adalah tebakan. Dion mengernyitkan dahinya, pertanda jika laki-laki itu tengah heran dengan apa yang baru saja diutarakan oleh Keysa itu. "Enggak! Bukan hal itu, tapi saya waktu tadi malem itu udah ngomong sama mama," jawab Dion, tetapi laki-laki itu sengaja untuk tak melanjutkan ucapannya lagi. "Ngomong sama mama? Ngomong tentang hal apaan?" tanya Keysa, dengan raut wajah yang sudah sangat terkejut sekali. Dion melirik ke arah Keysa terlebih dulu, antara mengutarakan dan tidak. "Tapi, pas saya bilang, kamu jangan marah?" Keysa menghembuskan napasnya, kesal dengan jawaban yang dikeluarkan oleh Dion, itu terkesan sangat bertele-tele. "Haduh! Jangan kebanyakan alasan, deh! Tinggal bilang aja, enggak apa-apa. Saya enggak akan marah juga kok." "Saya udah ngomong sama mama tentang hubungan kita yang cuma pura-pura." Kali ini Keysa benar-benar membulatkan kedua bola matanya dengan sangat sempurna. "S-seriusan kamu udah ngomong tentang hal itu? Jangan ngadi-gadi, deh!" tanya Keysa, yang masih tak percaya akan apa yang tadi diutarakan oleh laki-laki di sampingnya itu. Dion langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat yakin sekali, lalu menyahut, "Seriusan. Tadi malam, saya itu ngasih tau semuanya sama mama." Kedua tangan Keysa langsung bergerak untuk menutup wajahnya, lalu kembali bertanya, "Terus, reaksi mama kamu gimana? Kenapa kamu harus bilang tentang hal kek gitu, sih?" "Reaksi mama ... marah dong, pokoknya saya tadi malam itu udah kenyang dimarahin sama mama, dan sekarang emang giliran kamu keknya," jawab Dion, yang kini justru membuat Keysa benar-benar merasa sangat takut. Sebenernya, detik itu juga Dion ingin sekali mengeluarkan tawa, karena kelakuan dan juga raut wajah dari Keysa. "Lagian, kenapa sih harus ngasih tau mama soal hal yang kek gini? Kan kamu itu udah tahu gimana nanti akibatnya?" tanya Keysa, dengan kedua tangan yang sudah ia remas-remas, tentu saja karena gemas. "Ada sesuatu yang buat saya ngelakuin hal yang kek gitu," sahut Dion, tetapi laki-laki itu tak melanjutkan ucapannya itu. "Kalau ngomong itu yang komplit, Dion! Jangan separuh-separuh kek gitu!" desak Keysa. Dion menatap wajah perempuan yang berada di depannya saat ini, lalu mengulas senyum dan menjawab, "Kamu mau tau?" "Iya. Cepetan, gih! Kenapa sampai bisa se ceroboh itu, sih?" tanya Keysa, dengan tatapan mata yang sama sekali tak sabar. Dion menghembuskan napas terlebih dulu, ia memiliki pikiran jika perempuan di sampingnya saat ini itu adalah sang calon istri. Sehingga Dion pun memutuskan untuk bercerita apa pun yang ia rasakan dan juga alami. "Kamu masih inget, tentang perempuan yang waktu itu nelepon saya?" Keysa tak langsung menjawab, perempuan itu memang harus mengingat dulu apa yang dimaksudkan oleh Dion. "Yang ngajak kamu buat makan malam?" "Iya! Tepat banget!" Dion menarik napas dalam-dalam, semoga saja apa yang akan ia utarakan itu memang sudah sangat cocok dan juga tepat. "Ada apa sama dia? Buat masalah? Atau kamu udah janjian sama perempuan itu?" tanya Keysa bertubi-tubi. Seulas senyum langsung tampil di wajah Dion, ia tak menyangka sekali, jika perempuan di sampingnya itu memiliki rasa keingintahuan terhadap dirinya dengan sangat tinggi. "Ish! Bukannya jawab, kok malah senyum-senyum kek gitu, sih!" protes Keysa, yang justru membuat Dion semakin lebar untuk mengulas senyum. "Dia itu mantan saya. Kamu udah tahu, kan ya? Saya kira, kita itu bakalan ngulang dan perbaiki semuanya, karena jujur aja dia itu masih ada di dalam hati saya," tutur Dion, yang sudah mulai mengutarakan. Entah mengapa, hati Keysa langsung merasa sangat sakit. Padahal, hanya mendengar cerita dari dion. Bahkan, cerita itu berakhir dengan akhir yang menyedihkan. Bagaimana nanti jika dirinya mendengar cerita yang berakhir dengan sangat bahagia? Mungkin, perempuan itu memang tak sanggup sama sekali, maka dari itu ditakdirkan untuk tak mendengar cerita dari dion yang seperti itu. "Kamu tahu apa yang dilakuin?" tanya Dion, karena tadi itu ia sama sekali belum selesai dengan kegiatan bercerita. Hanya raut wajah dan juga tatapan yang menyiratkan akan banyak pertanyaan, lalu pada akhirnya Keysa tetap bertanya, "Kenapa? Jangan-jangan, perempuan itu selingkuh sama laki-laki lain?" "Tepat banget!" Dion membagi pandangannya, antara lalu lintas, dengan perempuan yang saat ini berada di sampingnya itu. "Fiuh! Maka dari itu, saya dari dulu enggak pernah tertarik sama yang namanya kembali merajut kisah cinta sama mantan," ujar Keysa, yang justru mengundang tanya dari Dion. "Saya emang terlalu bodoh, Key! Bisa-bisanya percaya sama perempuan itu," lirih Dion, tetapi pada detik berikutnya, Dion tiba-tiba saja menepikan mobil miliknya. Menarik napas dengan sangat pelan, lalu berucap, "Saya percaya sama apa yang jadi pilihan dari mama saya." "Lo mau enggak jadi kekasih beneran saya?" tanya Dion, dengan kedua tangan yang juga meraih kedua tangan Keysa. Namun, bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Dion, Keysa justru mengeluarkan tawa. "Haha! Kenapa harus seserius ini, sih, bercandanya?" Dion langsung menggelengkan kepala. "Saya enggak pernah bercanda, kalau soal tentang perasaan." Beberapa detik, Keysa bengong. Jujur saja, ia sama sekali tak menyangka akan apa yang baru saja ia dengar itu. "S-seriusan? Terus, semua perjanjian, dan tantangan yang waktu itu pernah kita setujui berdua?" tanya Keysa lagi, dengan tatapan yang benar-benar heran. Dion menggelengkan kepala. "Yang membuat perjanjian, tantangan, atau apa pun itu adalah kita, dan sekarang ... yang akan menjalani semuanya itu adalah, kita berdua." Kali ini Keysa justru sama sekali tak mengedipkan kedua bola matanya. "Kenapa? Kamu enggak mau nerima saya jadi kekasih sungguhan kamu?" tegur Dion, yang sedari tadi laki-laki itu memang tengah menunggu jawaban dari Keysa. "Saya bakalan nerima, tapi kalau untuk nikah, maaf. Saya enggak akan pernah buru-buru untuk hal itu. Dan, saya berharap, kalau kamu akan lebih sabar nungguin saya," jawab Keysa, yang membuat Dion langsung senang sekali. "Eum ... berarti kita?" Dion sengaja untuk tak melanjutkan ucapannya lagi. Keysa menganggukkan kepala dengan sangat semangat. "Huum! Kita fix?" "Iya, Sayang! Makasih banyak ya!" sahut Dion, yang kini sudah merubah nama panggilan. Merentangkan kedua tangan, supaya perempuan yang berada di sampingnya itu segera masuk ke dalam pelukan. Dengan sangat senang hati, tentu saja Keysa pun masuk ke dalam pelukan laki-laki yang sudah resmi menjadi kekasihnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN