Gemetar

1002 Kata
"Nyangka enggak, kalau kita bisa bener-bener jadian?" tanya Dion, setelah ia kembali menjalankan mobil miliknya itu. Keysa langsung mengulas senyum, lalu menjawab, "Enggak. Soalnya, dari waktu pertama kali kita ketemu itu, bahkan nggak akan pernah saya bayangin kalau benar-benar punya hubungan kayak gini." "Lah, kenapa bilangnya kek gitu?" tanya Dion, sembari mengernyitkan dahinya. "Kamu masih ingat enggak sih, kalau pertemuan kita itu bukan ketemuan kek yang biasa orang lakuin gitu?" jawab Keysa, lalu tersipu malu. "Kita emang berbeda, tapi ada satu hal yang buat kita itu berbeda," sahut Dion, yang langsung membuat Kiara menatap Dion penuh tanda tanya. Seakan mengerti akan tatapan yang dilempar oleh kekasihnya itu, Dion memilih untuk langsung menjelaskan, "Kita berbeda, tapi jangan sampai perasaan kita itu beda." Detik itu juga, Keysa langsung batuk. Namun, perlu diingat, jika apa yang dilakukan oleh Keysa itu hanyalah berpura-pura. "Sejak kapan, sih kamu itu bisa gombal kek gini?" tanya Keysa, lalu tanpa diperintah sama sekali, ia langsung mengeluarkan tawa yang sangat lepas sekali. "Sejak ... pertama kali kita berjumpa, asik!" Bukannya menjawab dengan sangat serius, Dion justru memilih untuk mengeluarkan sesuatu yang bisa membuat Kiara kembali tertawa. Keysa menatap wajah DIon rai samping, dengan kedua mata yang sama sekali tak berkedip, lalu tak lama kemudian ia pun berucap, "Saya itu baru tahu pertama kali ini, kalau kamu bisa humoris kek gini." "Makanya, saya juga pernah bilang, kan, kalau kamu itu belum terlalu kenal sama saya! Kamu ingat waktu itu?" sahut Dion, yang kini kadar percaya dirinya meningkat lebih tajam. Buru-buru Keysa menepukkan bibirnya, lalu berujar, "Duh! Keknya saya salah ngomong, nih!" Mendapati sikap Keysa yang seperti itu, bukan membuat Dion marah, tetapi justru merasa sangat gemas pada perempuan tersebut. Setelah perbincangan seperti itu, mereka berdua sama-sama terdiam, karena memang tak ada hal lain lagi yang dibahas, lalu sampai akhirnya Dion menghentikan laju mobil miliknya itu. "Udah sampai!" seru Dion, dengan sangat semangat, tetapi lain halnya dengan Keysa yang justru tak dapat tenang sama sekali. "Tapi ...." Keysa bahkan sampai tak sanggup untuk meneruskan apa yang akan ia utarakan. Karena memang detak jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya, tetapi tangan kiri milik Dion langsung menggenggam telapak tangan sebelah kanan Keysa. Mengedipkan sebentar kedua matanya, lalu berucap, "Percaya, deh! Kamu itu enggak akan diapain sama mama." "Terus, kalau apa yang kamu omongin tadi, ternyata salah. Gimana?" sahut Keysa, dengan nada bicara yang menyiratkan sekali jika ia tengah takut. "Enggak, percaya deh, sama saya! Eum ... mungkin cuma diomelin dikit aja kok," ujar Dion, yang langsung mendapat pukulan ringan di lengan sebelah kirinya. "Aww! Kok tega banget sih, sama pacar sendiri?" protes Dion, yang justru tak digubris sama sekali oleh Keysa. Perempuan itu lebih memilih untuk langsung membuka pintu mobil dan keluar dari dalam kendaraan tersebut. "Yakin, mau masuk sendirian?" seru Dion, saat mendapati Keysa, yang berlagak seakan ingin masuk ke dalam rumah milik Dion. Sendirian. Menoleh ke arah Dion, yang tengah berjalan mendekat ke arah Keysa, lalu langsung mengulas senyum. "Kenapa? Kok malah senyum, sih? Nanti saya diabetes loh!" tanya Dion, seraya kembali mengeluarkan gombalan. Tak ingin kalah dari laki-laki yang berada di sampignya saat ini, Keysa langsung menggerakkan kedua tangan untuk memeluk pinggang Dion. "Jangan sampai sakit ya, saya gak mau kamu kenapa-napa, kan kita itu mau bersama terus, kan?" ujar Keysa, lalu membenamkan wajahnya pada d**a milik Dion. Mendengar apa yang diutarakan oleh Keysa, sedikit membuat Dion sangat terkejut, karena ia memang tak pernah mendengar Keysa yang mengucapkan kata manis seperti tadi. "Udah! Nanti aja kalau mau mesra-mesraan, selesai kamu ketemu sama mama," ucap Dion, yang justru membuat Keysa semakin mengeratkan pelukan. "Ya udah, kalau gitu kita pelukan aja di sini, deh!" ucap Dion, dengan kedua tangan yang langsung bergerak untuk memeluk Keysa. Namun, anehnya baru beberapa detik saja Dion memeluk dirinya, Keysa justru memilih untuk melepas pelukan tersebut, lalu berucap, "Yuk, kita masuk!" Mau tak mau, Dion pun melepas pelukan tersebut, meski di dalam hati berkata tidak mau. "Ayo!" Kini, Keysa yang justru menarik pelan tangan kanan milik laki-laki yang sudah resmi menjadi kekasihnya itu. "Assalamu'alaikum!" ucap Dion terlebih dulu, karena pada akhirnya yang berjalan di depan adalah Dion. Sedangkan Keysa ada di samping Dion, dan itu adalah salah satu cara untuk menetralkan rasa nervous yang menghampiri hati. "Wa'alaikumussalam, akhirnya dateng juga! Mama nungguin di sini, hampir udah lumutan!" sahut Reta, dengan tatapan yang tiba-tiba saja berubah menjadi tak bersahabat sama sekali. "Maaf, Ma, soalnya tadi kejebak macet. Jadi, telat deh!" ujar Dion, lalu langsung duduk di salah satu orang yang berada di situ. Namun, Keysa kini tengah berada di kebimbangan. Antara mencium punggung tangan milik Reta terlebih dulu, atau justru langsung duduk mengikuti apa yang dilakukan oleh Dion. "Maaf ya, Tante," ucap Keysa, yang pada akhirnya ia memilih untuk mendekat ke arah Reta terlebih dulu, lalu mencium punggung tangan perempuan yang lebih tua darinya. Nah, setelah sudah melakukan hal itu, Keysa pun segera duduk di samping Dion, dengan hati yang sudah sangat tenang sekali. Saat Keysa duduk, tanpa diketahui sama siapa pun, Reta mengulas senyum, karena apa yang tadi dilakukan oleh Keysa memang diinginkan oleh Reta. "Mau minum apa? Atau minum aja air putih yang ada di depan, tuh!" tanya Reta, tetapi ia langsung menawari minum air putih yang sudah ia sandingkan terlebih dulu. Keysa melihat ke arah Dion, yang ternyata tak menjawab sama sekali. Sehingga, Keysa memilih untuk langsung mengulas senyum dan menjawab, "Enggak usah, Tante. Keysa juga penyuka air putih kok." Reta menganggukkan kepalanya, ia harus berhati-hati. Dari mana ia akan memulai sebuah percakapan, karena sangat tak mungkin sekali jika langsung menuju ke inti. "Gimana kabar kamu, Sayang?" tanya Reta, dengan panggilan yang tetap tidak berubah. Keysa pun mengulas senyum, lalu menjawab, "Alhamdulillah, baik kok, Tante." "Setelah sekian lama berbohong sama Tante?" tanya Reta, yang langsung membuat Keysa diam, dan ia paham ke arah mana percakapan ini berlanjut. Tak ingin berbohong, Keysa memutuskan untuk langsung berucap, "Maaf, Tante." "Maaf? Sesingkat itu, segampang itu?" sahut Reta, yang membuat Keysa langsung bingung, dan menoleh ke arah Dion. Namun, ternyata Dion tengah santai, dengan kedua tangan yang dilipat di depan d**a.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN