Beberapa pertanyaan

1017 Kata
"Key? Kamu enggak jawab sama sekali?" tanya Reta, yang kembali membuat Keysa bingung dicampur dengan takut. "Eum ... gini, Tante, biar Keysa jelasin dulu ya gimana awal mulanya," sahut Keysa, lalu setelah ia berucap seperti itu, bibir bagian bawah langsung digigit. Reta menganggukkan kepala, pertanda setuju atas apa yang tadi diucapkan oleh Keysa. Perempuan yang sebenarnya akan ia jadikan menantu. "Waktu itu ...." Keysa tak melanjutkan kata-katanya, ia melirik ke arah Dion terlebih dulu. Kali ini, bukan karena rasa takut, tetapi perihal rasa bingung tentang nama panggilan. Saat otak Keysa memikirkan hal itu, Reta justru kembali berucap, "Kenapa? Kok enggak dilanjut?" "Iya, gini, Tante. Waktu itu, Mas Dion ketemu sama Keysa itu enggak sengaja banget. Eum ... pertama kalinya, belagu banget, Tante," ujar Keysa, yang mulai untuk menuturkan semuanya. Reta yang tadinya itu akan mencoba untuk tak bersahabat, kini mulai tertarik dengan cerita yang akan diutarakan oleh calon menantunya itu. "Belagu? Gimana ceritanya?" Mendapat sahutan yang seperti itu, sedikit membuat Keysa dapat bernapas lega, lalu ia mengulas senyum dan menjawab, "Iya, Tante. Pertama kali Keysa ketemu sama Mas Dion, itu di parkiran." "Dan, pas Keysa udah masuk ke cafe, Mas Dion tiba-tiba aja bilang buat nawarin Keysa jadi kekasih pura-pura ...." Keysa mengutarakan semuanya. Akhir dari cerita yang dituturkan oleh Keysa, tatapan kedua bola mata Reta sudah normal kembali biasa saja, tetapi orang tua dari Dion itu melempar tatapan pada anak semata wayangnya. "Kenapa, Ma?" tanya Dion, dengan tataan yang masih terlihat sangat santi sekali. "Kenapa? Santai banget ya kamu bilangnya kek gitu?" sahut Reta, sembari menggelengkan kepala. Reta sama sekali tak habis pikir degan apa yang dilakukan oleh Dion, yang tergolong sangat nekat sekali. "Kamu itu untung banget, ketemunya itu sama Keysa." "Tapi, coba aja kamu ketemu sama perempuan-perempuan lain, Mama enggak akan jamin hidup kamu itu bakalan tenang kek sekarang ini,' sambung Reta, yang langsung menjelaskan apa yang baru saja ia ucapkan tadi. Keysa yang mendengar hal itu, tentu saja langsung merasa sangat heran, dan memilih untuk bertanya, "Maksudnya gimana, Tante?" "Kamu enggak tau sama sekali? Perempuan zaman sekarang itu, jarang banget yang sama kek kamu. Rata-rata semuanya akan meminta uang terus sama pacarnya," jawab reta, yang baru langsung dapat dipahami oleh Keysa. "Sama kek mantan-mantan kamu tuh!" sindir Reta, tetapi pandangan matanya sama sekali tak melihat ke arah anak semata wayangnya itu. Melainkan dengan Keysa. "Ma, mau denger kabar bahagia enggak?" tawar Dion, dengan wajah yang sangat bahagia sekali. Tentu saja membuat Reta juga langsung ikut semangat, lalu bertanya, "Kabar bahagia apa, sih? Buat penasaran aja!" "Kamu udah tahu belum, Sayang?" tanya Reta pada Keysa, yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan interaksi dua orang di depannya itu. Mendapat pertanyaan yang seperti itu, Keysa langsung menjawab jujur dan menggelengkan kepala. "Enggak tahu, tuh, Tante. Ini juga Keysa lagi nunggu jawaban dari Mas Dion." Mendengar apa yang terucap oleh Keysa, membuat Dion langsung melempar tatapan tajam, lalu bertanya, "Kamu beneran enggak tahu apa yangs aya mau kasih tahu?" Hal yang membuat Dion kesal, justru kembali dilakukan oleh perempuan yang tengah duduk di sampingnya ini. "Astaga, Sayang! Kan saya itu mau membicarakan tentang kita berdua!" Dan detik itu juga, barulah Keysa paham dan juga menampilkan senyuman yang terlukis lebih lebar dari yang biasa ditunjukkan. "Wah! Ada apaan, nih? Kalian enggak ngelakuin hal-hal yang enggak dulu, kan?" tanya Reta dengan penuh selidik. "Ya ... meskipun Mama itu udah enggak sabar buat segera punya cucu, tapi kalau buatnya belum halal. Bukannya lucu, yang ada malah ogah!" sambung Reta, seraya bergidik ngeri. Semua yang dikatakan oleh Reta barusan, langsung membuat Dion dan juga Keysa saling melempar tatapan. Seperti aneh semua ucapan yang keluar dari mulut Reta, karena mereka berdua memang tak ada pikiran sama sekali untuk menjurus ke arah situ. "Ma, kalau pikiran itu jangan terlalu jauh banget! Padahal, Dion itu mau bilang, kalau semua yang pura-pura itu udah berlalu!" ujar Dion, dengan tangan kiri, yang langsung menggenggam erat tangan kanan milik Keysa. Reta langsung dibuat cengo. "Kalian? Kalian berdua?" Beriringan dengan kedua tangan yang saling berjabat. Hal itu, menunjukkan atau melambangkan sepasang kekasih. Lebih tepatnya adalah suatu ikatan, sama halnya dengan dua telapak tangan yang saling menjabat. Dion dan Keysa langsung menganggukkan kepalanya secara bersamaan, dan Dion pun menjawab, "Iya, Ma. Kita itu udah resmi menjadi sepasang kekasih." "Tanpa ada pura-pura, dam juga keterpaksaan sama sekali," timpal Keysa, dengan bibir yang masih saja membentuk senyuman. Apa yang diutarakan oleh kedua orang yang saat ini berada di depannya, membuat Reta pun ikut senang. "Kalau kabarnya kek gini, emang bener-bener buat seneng banget, sih!" ujar Reta, dengan senyuman yang langsung terbentuk lagi. Dion dan juga Keysa langsung refleks untuk memeluk, tetapi hal itu tidak dilarang sama sekali oleh Reta. Karena perempuan yang perlahan akan berumur, juga pernah merasakan hal yang sama. Meskipun, alur kisah cintanya itu sangat berbeda sekali. "Mama emang enggak pernah salah pilih, dan Mama sangat berharap sekali, kalian berdua bisa mempertahankan hubungan ini," ujar Reta, yang membuat kedua hati sejoli itu seakan diberi biji yang membuat mereka harus selalu ingat tentang apa yang akan diucapkan oleh Reta barusan. "Doain aja ya, Ma, semoga Dion selalu setia sama Keysa. Begitu juga Keysa yang harus selalu setia sama Dion," sahut Dion. Keysa juga langsung mengulas senyum. "Harapan Keysa cuma satu, Tante." "Apa itu?" Dion dengan sangat cepat sekali untuk menjawab, padahal yang tadi diajak berbicara adalah Reta. "Keysa harap, Mas Dion itu enggak bakalan balik lagi sama mantannya," jawab Keysa, kali ini tatapan matanya menatap kedua bola mata milik Dion. Mencari sesuatu yang mungkin saja dapat ia temukan, karena jika sudah perihal tentang mantan, maka urusannya dengan hati yang sudah terluka. "Percaya enggak sama saya?" tanya Dion, yang kini langsung berhadapan dengan Keysa, tetapi sekarang Dion tak lagi duduk di atas sofa. Melainkan bersimpuh di depan Keysa, dengan kedua tangan yang ia letakkan di atas paha milik Keysa. "Aduh! Kalau udah kek gini, Mama milih buat masuk aja, deh!" ujar Reta, yang tanpa menunggu jawaban sama sekali, ia langsung berdiri dan segera melangkah menuju ke kamar miliknya itu. "Jangan sampai berkelanjutan, Nak! Ingat, kalau mau lebih harus nikah dulu!" sambung Reta lagi, sebelum dirinya benar-benar masuk ke dalam kamar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN