"Kamu percaya enggak sama saya?" tanya Dion lagi, setelah pandangan mereka berdua sudah selesai dari Reta yang masuk ke dalam kamarnya.
"Buat apa? Tentang mantan itu?" tanya Keysa balik.
Dion langsung menganggukkan kepalanya, lalu kembali berucap, "Iya. Saya harap, sih, kamu itu percaya sama saya."
"Percaya kok, kalau yang tadi itu, kan saya belum resmi jadi kekasih kamu. Jadi, masih terserah kamu, tapi karena sekarang saya itu udah resmi jadi kekasih kamu, maka saya berhak buat ngawasin kamu tentang itu," jawab Keysa, dengan sangat panjang.
Dion langsung terdiam, karena apa yang tadi diucapkan oleh perempuan yang ada di depannya, memang sudah benar.
"Setelah ini, saya tidak akan berhubungan lagi dengan yang namanya mantan. Karena itu semua bener-bener nyakitin," ujar Dion, dengan wajah yang sangat serius sekali.
"Hust! Jangan terlalu banyak ngomong ya, saya gak suka! Takutnya, malah enggak ada sama sekali yang terlaksana," sahut Kiara, dengan tangan kanan yang sudah terlebih dulu menutup mulut laki-laki tersebut.
Dion mengulas senyum, lalu memilih untuk menidurkan kepalanya pada paha milik Keysa. Rasanya bagaimana? Tentu saja sangat nyaman sekali.
Apalagi, hubungannya dengan Keysa kali ini sudah diberi restu oleh orang tuanya itu. Sehingga, membuat Dion tidak usah menyusun rencana dan juga membebani otaknya.
"Pulang, yuk!" ajak Keysa, yang justru membuat Dion langsung merasa sangat heran.
"Pulang? Gimana kalau makan aja dulu?" tawar Dion, sembari menatap wajah kekasihnya itu, lalu kembali paa posisi yang tadi.
"Makan di sini? Mama masak?" tanya Keysa, sedikit heran juga jika Reta itu masih sempat dan memiliki waktu untuk mengolah makanan.
Mendapat pertanyaan yang seperti itu, membuat Dion langsung menganggukkan kepalanya. "Eh, tapi bentar dulu, deh! Saya nanya ke mama dulu."
Dan Keysa menanggapi hanya dengan anggukan di kepala. Membiarkan Dion yang sudah melangkahkan kakinya untuk segera masuk kedalam kamar yang ditempati oleh Reta.
Tak terlalu lama juga Dion masuk ke dalam kamar tersebut, lalu kembali keluar dengan wajah yang sulit sekali untuk ditebak.
Sehingga, membuat Keysa harus bertanya, "Gimana?"
"Kata mama enggak, hehe. Makanya, kita itu sekarang makan ke luar, yuk!" jawab Dion, lalu diakhiri dengan ajakan yang langsung keluar dari mulut laki-laki tersebut.
Keysa menganggukkan kepalanya, lalu mulai untuk meraih tas yang berada di sisinya. "Eum ... tapi kita izin dulu, yuk sama mama!" ajak Keysa, yang membuat Dion langsung menyetujui hal tersebut.
Dion terlebih dulu melangkahkan kaki menuju ke kamar Reta, lalu mengetuk pintu tersebut. "Ma! Dion sama Keysa mau keluar dulu, ya!"
Tak membutuhkan waktu yang cukup lama, Reta pun keluar dari dalam kamarnya, seraya mengulas senyum.
"Mama pesan makanan ya!" pinta Reta, yang membuat Dion dan Keysa langsung mengulas senyum.
"Eh, bentar! Apa kalian enggak mau mandi dulu, gitu? Masa iya sih, pulang kerja langsung jalan. Pergi keluar lagi?" tanya Reta lagi.
"Masih wangi kok, Tante," sahut Kiara, sembari mencium tubuh sebisa mungkin.
Mendengar sahutan yang seperti itu, membuat Reta heran, lalu beberapa detik kemudian, perempuan itu pun tertawa. "Ya ampun, iya wangi, karena parfum?"
Jika interaksi ini terus saja dilanjutkan, maka ada kemungkinan tidak akan pernah selesai, sehingga Dion pun memutuskan untuk segera merangkul pundak perempuan di sampingnya.
"Ya udah, Ma, Dion pergi," ucap Dion, lalu meraih tangan Reta dan mencium punggung tangan tersebut.
Apa yang dilakukan oleh Dion, tentu saja dilakukan juga oleh Keysa. Akhirnya, Reta hanya dapat mengulas senyum, seraya menatap ke arah anak dan juga calon menantunya itu.
Tidak ada orang tua yang tak mengerti tentang apa yang terjadi pada anaknya, sama halnya dengan Reta. Ia sebenarnya tahu gelagat pertama kali melihat Dion yang membawa Keysa.
Meskipun Reta itu sedikit sibuk dengan pekerjaan di kantor, tetapi itu tak menyurutkan perannya sebagai orang tua.
Maka dari itu, Reta sampai menyusun rencana pertunangan yang dipercepat. Itu semua memang sudah berada di dalam otaknya.
"Mas," panggil Keysa, meskipun rasanya sedikit aneh juga, tetapi mau bagaimanapun juga, status mereka sudah berubah.
Bukan hanya Keysa saja yang merasakan hal itu, bahkan Dion juga merasa sangat aneh, dengan nama panggilan yang keluar dari mulut perempuan yang menjadi kekasihnya itu.
"Kenapa, Sayang?" sahut Dion, sembari melihat ke arah samping.
"Saya masih bau wangi enggak, sih?" tanya Keysa, yang membuat dahi Dion langsung berkerut.
"Coba sini peluk dulu!" jawab Dion.
"Itu modus!" protes Keysa, lalu membuat tawa yang dimiliki oleh Dion langsung pecah saat itu juga.
Mereka sama-sama diam terlebih dulu, sampai akhirnya tiba di depan mobil yang biasa dibawa oleh Dion.
Keduanya langsung masuk secara bersamaan. "Kamu itu akan selalu sempurna di mata saya," ucap Dion tiba-tiba.
"Apa, sih? Kok tiba-tiba bilang kek gitu?" Keysa memasang sealt belt pada tubuhnya itu, dengan seulas senyum yang langsung tampil di wajah.
"Loh, emangnya kenapa? Aneh ya dengernya? Padahal apa yang saya katakan tadi, itu emang beneran kok," jawab Dion, yang mulai menyalakan mesin mobil.
"Huft! Untung aja langsung tahu alasannya kenapa, jadi enggak usah repot-repot buat jelasin lagi!" sahut Keysa.
Dion hanya mampu untuk menggelengkan kepalanya saja,terlalu berat untuk memarahi perempuan yang sudah resmi menjadi kekasihnya itu.
Apalagi melihat wajah cantiknya, maka Dion hanya bisa terus saja tersenyum. Perlahan, dirinya mulai berbaur dengan kendaraan yang berada di jalan.
"Mas," panggil Kiara, tetapi perempuan itu tak memiliki niatan untuk mengucap apa pun.
"Kenapa, hm?" tanya Dion, melihat sebentar ke arah Keysa, lalu kembali fokus pada lalu lintas.
Merasa tak ada sahutan sama sekali, membuat Dion pun menatap Keysa sepenuhnya. "Ada apa, Sayang? Kok malah diem?"
"Ih! Siapa juga yang mau ngomong?" tanya Keysa balik.
"Loh, kalau enggak ngomong, terus tadi kenapa manggil?" tanya Dion, dengan dahi yang berkerut. Menatap ke arah Keysa sepenuhnya, karena sekarang mereka itu tengah berada dalam situasi lampu merah.
"Emangnya, kalau manggil doang itu enggak boleh?" tanya Keysa balik.
Namun, kali ini Dion tak ingin menyahuti pertanyaan perempuan di sampingnya itu.
Lebih memilih untuk fokus pada rambu-rambu lalu lintas.
"Kamu, kalau ketemu sama mantan kamu. Reaksinya itu gimana?" tanya Keysa.
"Kenapa nanyain kek gitu?" jawab Dion, yang seakan belum siap untuk menjawab apa yang ada di pikiran semua kekasih di belahan dunia.
Karena, dapat dipastikan sekali, tidak akan pernah ada siapa pun yang pernah rela, jika kekasihnya itu terus saja mengingat tentang masa lalu. Ketahuilah, jika hal itu sangatlah terasa sakit.