"Jawab aja dulu, kamu itu kalau ketemu sama mantan kamu, bakalan nunjukin reaksi yang kek gimana?" tanya Keysa lagi, karena ia juga sudah sangat penasaran sekali.
Secara, ia menjalin hubungan dengan laki-laki tersebut, tak lama setelah Dion menelan kekecewaan dari mantannya.
"Tergantung situasinya aja gimana," jawab Dion apa adanya.
Karena, tipikal Dion memang sangat tak mudah untuk berpura-pura membenci. Maka dari itu, ia menjawab dengan perkataan seperti itu.
Namun, Keysa justru terbakar amarahnya. "Berarti, kalau dia ngajak kamu buat mesra-mesraan. Kamu juga bakalan mau ngelakuin hal itu?"
"Itu dulu, tapi sekarang, kan ada hati yang harus saya jaga. Enggak mungkin banget dong saya ngelakuin hal yang kek gitu," jawab Dion, yang membuat Keysa sedikit merasakan ketenangan.
Tetapi tetap tak ada sahutan apa pun yang keluar dari mulut Keysa, karena pembicaraan yang seperti ini jika dilanjutkan akan membuat hatinya semakin sakit.
"Kenapa enggak nyahut? Enggak percaya sama jawaban yang tadi saya omongin?" tegur Dion, melirik sekilas ke arah Keysa.
Perempuan itu langsung mengedikkan kedua bahunya, lalu menjawab, "Bukannya saya enggak percaya, tapi emang terserah kamu aja."
"Kalau kamu emang bersikap kek apa yang tadi diomongin, itu hal yang sangat bagus banget, tapi kalau kamu justru bertolak belakang. Maka, saya adalah orang yang sangat kecewa dengan sikap kamu itu," sambung Keysa, mengeluarkan semua isi hatinya saat ini.
Mendapat jawaban seperti itu dari perempuan yang sudah sah menjadi kekasih hatinya, membuat Dion sedikit sedih. Ia berharap di dalam hati, supaya tak bertemu dengan para mantan yang pernah hadir di dalam hidupnya.
Namun, yang namanya harapan tidak selalu akan terlaksanakan. Sama seperti sekarang, tak disangka sama sekali, Dion dan Keysa justru dipertemukan dengan Farah.
Keluar dari dalam mobil, berpapasan dengan Farah, itu sama sekali tak disangka oleh Dion.
Kedua orang yang dulu pernah menjalin rasa itu, langsung terdiam dengan sangat kikuk, bingung juga apa yang akan dikatakan. Apalagi, Farah yang tidak menepati janji nya sama sekali.
Bahkan, terkesan dengan mengingkari janji dan juga memberi harapan palsu pada Dion. Memang nyatanya benar, yang namanya mantan itu adalah seseorang yang sangat buruk perlakuannya.
"Hai! Farah!" Tetap saja, yang pertama menyapa adaah Dion, tetapi bedanya kali ini tidak menampilkan senyum sama sekali.
Apalagi melihat ke arah laki-laki yang berada di samping Farah, itu tentu saja membuat Dion semakin tak tenang.
"Ha-hai, Dion," balas Farah, dengan suara yang terputus.
Takut nanti Dion akan mengungkit masalahnya tempo hari, dan bisa-bisa nanti laki-laki yang berada di sampingnya saat ini akan langsung marah besar.
Dion dan Farah yang sedari tadi hanya tatap-tatapan saja, membuat Keysa paham akan situasi ini. Segera ia berdeham, mencirikan jika dirinya itu sudah tak sabar untuk menunggu kedua orang itu segera mengucapkan kata perpisahan.
"Ah, iya. Saya duluan ya!" Hanya kata itu saja yang keluar dari mulut Dion, lalu tangan kirinya segera meraih telapak tangan Keysa.
Dan, perempuan itu hanya menganut saja, tak ada sepatah kata apa pun yang keluar. Karena kejadian yang tadi benar-benar membuatnya sangat kesal.
'Kenapa hal yang saya gak mau itu terjadi, malah terjadi, sih?' gerutu Keysa di dalam hatinya.
"Itu hanya sebuah kebetulan, saya sama sekali enggak ngerencanain buat ketemu sama dia," ucap Dion, seakan ia itu tahu jika perempuan di sampingnya tengah menggerutu di dalam hati tentang kejadian yang tadi.
Tanggapan yang keluar dari Keysa, hanyalah lirikan, tanpa ada sebuah perkataan. Sampai akhirnya mereka berdua itu sudah tiba di dalam restoran.
Masih dengan sikap manis, Dion menarik kursi yang akan ditempati oleh Keysa dulu, baru setelah itu ia menarik kursi yang akan ditempati oleh dirinya.
"Jangan cemberut terus, karena itu bener-bener enggak disengaja," ucap Dion, berharap jika perempuan di depannya itu tak akan menampilkan raut wajah yang terus saja cemberut.
"Tapi kamu seneng, kan?" Pertanyaan itu langsung keluar begitu saja dari dalam mulut Keysa. Sebenarnya, pertanyaan yang seperti itu memang sudah mencakup segalanya.
Dion langsung menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, "Saya bakalan seneng, kalau kamu itu senyum dan bahagia ada di samping saya."
"Semua laki-laki juga bakalan bilang kek gitu kalau masih awal-awal," sahut Keysa, membuat Dion langsung mengernyitkan dahinya.
"Jangan bilang kek gitu, dong! Setiap laki-laki itu punya cara tersendiri buat pasangannya bahagia," ujar Dion. Sedikit tak terima dengan apa yang tadi diutarakan oleh perempuan di depannya.
"Permisi, silahkan dipilih mau makanan apa?" ucap waiters tersebut, seraya menyerahkan buku menu makanan yang tersedia di restoran tersebut.
Tak butuh waktu lama untuk Dion dan juga Keysa memilih makanan, sehingga sang waiters itu juga tak lama-lama untuk berada di situ.
Tak ada minat sama sekali untuk Keysa mengutarakan pembicaraan, atau melihat ke arah Dion. Keysa pun memutuskan untuk membuka tas yang ia bawa dan mengambil ponsel.
Kali ini Dion tak mengeluarkan larangan sama sekali, lelah juga jika terus membujuk seseorang yang pada dasarnya itu masih merasa kesal.
Lagi pula, Keysa juga sama sekali tak mengharapkan untuk di bujuk oleh Dion, saat dirinya tengah melihat salah satu sosial media.
Tiba-tiba saja ada panggilan masuk, yang ternyata adalah dari Delon. Antara mengangkat telepon tersebut, atau tidak.
Namun, karena merasa kesal sekali dengan Dion, maka perempuan ituu segera mengangkat panggilan itu.
"Halo, Kak!" sapa Keysa terlebih dulu, dengan wajah yang langsung ditunjukkan jika dirinya itu tengah merasa sangat senang.
"Halo, Sayang! Lagi ada di mana sekarang?" tanya Delon. Membuat Keysa langsung terkejut, sekaligus sangat senang sekali.
Mengulas senyum terlebih dulu, lalu beberapa detik kemudian perempuan itu pun menjawab, "Eum ... lagi ada di restoran sih, Kak. Memangnya kenapa?"
"Oh di restoran, sama siapa?" tanya Delon lagi.
Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Keysa langsung melihat k arah Dion, lalu dengan tatapan yang sangat sombong sekali, Keysa pun menjawab, "Sama temen kok, Kak. Mau gabung ke sini?"
Dion langsung membulatkan kedua bola matanya, ia yakin sekali jika yang dimaksud teman oleh Keysa adalah dirinya.
Namun, untuk saat ini, Dion memilih untuk bersabar terlebih dulu. Mengontrol rasa kesal, sebagai seseorang yang tak dianggap sama sekali.
Sembari menjawab pertanyaan yang keluar dari Delon, Keysa terus saja menatap Dion. Perempuan itu memang sangat sengaja sekali, supaya dapat melihat bagaimana reaksi dari laki-laki tersebut.
Apakah cemburu, atau tidak, jika dirinya itu tengah bercengkerama bersama laki-laki lain. Dan Keysa sudah sangat yakin sekali jika Dion memang tengah merasa sangat cemburu.