Keysa berbeda

1009 Kata
"Ya udah, Kak, sampai jumpa nanti besok ya! Soalnya aku juga besok mau ke kampus, karena ada jadwal buat berangkat ke kampus," ucap Keysa, sembari melirik ke arah Dion. Setelah mendapat sahutan dari Delon, barulah Keysa mematikan sambungan teleponnya itu dan langsung mengulas senyum. Berusaha menggambarkan jika dirinya itu tengah bahagia sekali. "Gimana? Udah selesai? Atau masih kurang? Kalau kurang, ditelepon lagi aja nggak apa-apa!" tanya Dion, dengan wajah yang sangat sangar sekali. "Eum ... katanya sih udah, soalnya ada kesibukan lagi, dan mungkin nanti aja dilanjut ngobrolnya buat besok. Lagian, kita juga akan ketemu di kampus," jawab Keysa, dengan rasa tak bersalah. Itu hanya pura-pura, karena sebenarnya Keysa juga tahu mengapa Dion itu melihatnya tidak biasa. "Oh gitu? Terus, yang lagi ada di depan kamu, itu siapa?" tanya Dion, dengan kedua mata yang langsung ia sipit kan. "Di depan saya? Ya kamulah! Gimana, sih? Masa kek gitu aja jadi pertanyaan? Gak bermutu tau nggak?" Jawaban Keysa seperti itu, yang justru membuat Dian semakin kesal dengannya. "Bukan gitu, kamu tadi bilang ke laki-laki itu, kalau sekarang kamu lagi sama siapa? Coba diulangi lagi, sama siapa?" tanya Dion, yang mempertegas pertanyaannya itu. Namun, Keysa justru memilih untuk pura-pura bodoh dan juga tidak mengerti perihal apa yang tentang dibahas oleh Dion itu. "Apa sih maksudnya, tuh? Kan yang ada di depan saya itu kamu? Ya, bener dong! Jawaban saya tadi waktu telponan?" sahut Keysa, tak ingin mengalah sama sekali. "Saya, temen bagi kamu? Saya teman buat kamu?" tanya Dion, dengan suara yang sangat kesal sekali. Mendengar apa yang diutarakan oleh Keysa tadi, apalagi menganggap dirinya hanya seorang teman. "Loh, terus emang kenapa? Salah kalau saya ngomong kayak gitu? Salahnya di mana coba?" tanya Keysa yang memang ingin memancing rasa kesal dari Dion. Dion kembali menganggukkan kepala. "Oh, jadi kayak gitu? Itu nggak salah ya? Kamu nggak salah, cuma nganggep saya itu jadi temen doang? Iya, ya udah nggak apa-apa, kan nanti saat ada yang tanya kamu siapa, saya bakal jawab kamu itu temen saya. Sekedar teman, nggak lebih! Gitu?" Bukannya meminta maaf dan segera memperbaiki masalah, Keysa justru semakin memutuskan untuk membuat Dion kesal. Perempuan itu menganggukkan kepala, lalu kembali berucap, "Kita juga hanya teman tadi itu, teman kantor, iya nggak? Eum ... salah, tadinya itu nggak kenal, terus pura-pura jadi kekasih. Jadi teman kantor, nah sekarang cuma temen. Bener, kan?" "Iya udah, cukup kita temen! Oke, gak usah dibahas lagi, kita cuma temen!" putus Dion, lalu memakan makanan yang sudah datang diantar oleh waiters tadi. Keysa mengedikkan kedua bahunya, lalu mulai untuk melahap makanan yang berada di depannya. Tidak ada rasa salah sama sekali, yang ditunjukkan oleh perempuan itu, karena memang apa yang dilakukannya adalah salah satu misi, untuk membuat Dion kesal dengan dirinya. Bahkan, saat ini Dion itu mengunyah makanan dengan sangat tidak ikhlas sama sekali. Itu terlihat dari cara dirinya memasukkan makanan ke dalam mulut, dan juga memakan semuanya. Sampai akhirnya, Dion itu batuk dan tangan kanannya memegang tenggorokan, pertanda jika itu tengah menahan rasa sakit. Buru-buru Keysa menggerakkan tangan kanannya, untuk meraih gelas yang berisi air minum dan menyodorkan ke arah Dion. "Nih, makanya kalau makan itu hati-hati! Lagian, ini bukan balap atau lagi nyelenggarain kontes kok!" "Ya abisnya sih, ini itu gara-gara kamu! Masa iya, saya kok cuma dianggap sebagai teman. Padahal, kita kan udah sah jadi pasangan, gimana sih?" "Mama saya juga udah tahu kamu itu kekasih saya, kok kamu malah nggak ngakuin saya? Bilang kalau saya itu cuma temen? Siapa coba yang gak sakit hati?" jawab Dion, dengan sangat panjang lebar, dan hal itu tentu saja membuat Keysa langsung merasa lucu, lalu ketawa. "Yaelah! Cuma gara-gara kayak gitu doang, kamu sampai bela-belain keselek kek tadi? Ya ampun, Dion! Jangan kayak gitu kali, lebay banget sih!" sahut Keysa, yang justru membuat Dion semakin kesal dan juga ingin sekali rasanya marah. "Key! Kamu sadar enggak, sih? Kalau apa yang kamu ucapin tadi, itu berpengaruh besar banget buat hati saya," ujar Dion, kali ini muka laki-laki itu sudah sangat merah padam. Keysa kembali berbuat ulah, perempuan itu menggeleng kepala dan menjawab, "Apaan sih, Dion? Lebay tau gak kamu tuh!" "Udah, lanjutin aja tuh makannya!" titah Keysa, yang mulai untuk memasukkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya lagi. Namun, laki-laki di depannya saat ini itu tak ingin melakukan hal itu. Dion memilih untuk mogok makan dan berucap, "Makanannya buat kamu aja, tuh! Lagian, baru satu sendok doang kok." "Dih! Kan itu yang pesan kamu, ngapain harus saya yang makan?" protes Keysa, dengan satu alis yang ia naikkan. "Tuh! Sama kakak kelas kamu yang tadi, pakenya itu aku. Sedangkan sama kekasih sendiri? Pakenya saya?" tegur Dion, sembari menggeleng kepala. Keysa langsung mengedikkan kedua bahunya. "Loh, kan biasanya juga kek gitu! Kenapa sekarang malah protes, sih?" "Key! Kamu nganggep saya apa, sih?" tanya Dion, dengan wajah yang terlihat sudah sangat frustrasi. "Kamu aja pake saya kok, saya enggak masalah sama sekali," ucap Keysa, yang memilih untuk tak menggubris pertanyaan Dion tadi. "Ya udah, mulai sekarang manggilnya bukan saya, kamu. Pakainya aku, kamu. Gimana?" putus Dion, seraya menyodorkan jari kelingkingnya. Petunjuk jika laki-laki itu meminta persetujuan dari Keysa. Namun, Keysa tak langsung mengaitkan jari kelingking miliknya. Terlebih dulu bertanya, "Harus banget ngelakuin hal yang kek gitu! Norak banget tau, Dion!" "Apa susahnya ngelakuin hal yang kek gini? Sederhana banget kok!" sahut Dion, yang langsung membalikkan pertanyaan seperti tadi. "Ya udah, sih! Enggak usah kek gitu lagi, yang terpenting nanti kita ubah nama panggilan aja. Enggak usah belibet, deh!" ujar Keysa, lalu melanjutkan kegiatan makannya lagi. Sedangkan Dion, laki-laki itu tetap pada keputusannya. Yaitu, sudah tak ingin melanjutkan kegiatan makannya. Berharap jika Keysa akan memberi perhatian kepadanya. Namun, Keysa tidak mengurusi hal itu. Perempuan itu lebih memilih untuk membiarkan Dion yang merasa lapar, dan dirinya yang tengah mengisi perut supaya terisi dengan sangat sempurna. "Tega banget, sih!" gerutu Dion, lalu menggerakkan tangan kanannya untuk meraih piring yang tadi ia sentuh itu dan kembali melahap makanan yang sudah ia pesan. Melihat apa yang dilakukan oleh Dion yang seperti itu, Keysa hanya bisa menahan tawa yang mungkin saja akan keluar dari mulutnya kapan saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN