"Nah, gitu dong, jadi orang itu enggak baik kalau malu-malu," ujar Keysa, sembari melirik ke arah Dion, yang tengah memasukkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya.
"Udah, dimakan! Jangan ngurusin urusan orang lain!" tegur Dion, yang sama sekali tak melihat ke arah Keysa, hanya mulutnya saja yang terus berucap.
Keysa hanya menggelengkan kepalanya saja, lalu menjawab, "Tenang aja kali! Nanti pasti bakalan saya makan kok, bahkan saya habisin tanpa sisa!"
Tiba-tiba saja meletakkan sendok dan juga garpu secara bersamaan, sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.
Bahkan Keysa saja langsung terkejut mendengar bunyi tersebut, lalu bertanya, "Kenapa, sih? Kaya apa aja, tiba-tiba kek gitu!"
"Lupa sama apa yang tadi kamu bilang?" tanya Dion, dengan kedua mata yang melihat ke arah Keysa penuh keseriusan.
Mendengar pertanyaan yang seperti itu dari Dion, tentu saja membuat Keysa langsung heran dan juga hanya bisa menggaruk kepala bagian belakang.
"Kalau ngomong itu yang jelas, dong! Lupa tentang hal apaan, sih?" tanya Keysa, meskipun dari tadi mencoba untuk mengingat dan juga memahami apa yang diucapkan oleh Dion. Namun, hasilnya itu nihil.
"Pakai saya-kamu aja?" tanya Keysa, dengan pandangan yang menunjukkan jika perempuan itu memang benar-benar merasa sangat heran.
"Bukannya tadi kita itu sepakat buat manggil pakai aku-kamu?" sambung Dion, dengan wajah yang menampilkan jika dirinya tengah kecewa sekali.
"Oh! Tentang itu? Yaelah, ya udah iya, saya lupa tadi! Eh, aku maksudnya," ujar Keysa, datar sekali.
Berkali-kali Dion mengucapkan kata sabar di dalam hati.
Jujur saja, meskipun ia belum benar-benar cinta dengan perempuan yang ada di depannya itu, tetapi jika sudah memiliki hubungan yang sudah direstui, maka rasanya itu kan sangat berbeda lagi.
Apalagi, saat tidak ada ucapan mesra sama sekali yang keluar dari mulut Keysa itu, seakan Dion dengan perempuan yang ada di depannya tidak memiliki hubungan.
"Bisa dirubah enggak?" tanya Dion sekali lagi, untuk memastikan bagaimana reaksi Keysa.
"Iya, bisa kok. Nanti sedikit-sedikit saya bakalan coba. Eh, aku maksudnya," jawab Keysa, yang kembali salah dalam menyebutkan nama panggilan.
"Seterpaksa itu, Key?" tanya Dion, dengan kedua mata yang mulai sayu.
Dalam keadaan yang seperti ini, sebenarnya Keysa sudah mulai memiliki rasa kasihan pada laki-laki yang menjabat sebagai kekasihnya itu, tetapi ada satu hal yang ingin dicapai.
Sehingga, Keysa memilih untuk mengesampingkan hal itu terlebih dulu. Biarkan Dion terlihat sangat mengenaskan seperti itu.
Dion menggelengkan kepalanya lagi, berdiri dari posisi duduknya, lalu meraih dompet yang berada pada kantong celana bagian belakang.
"Ini uang buat bayar makanan ini, udah gak nafsu dan ditunggu di dalam mobil!" ujar Dion, lalu ia memilih untuk segera melangkahkan kaki supaya cepat sampai di dalam mobil.
Rasanya tak cukup kuat dan juga sanggup, jika harus berhadapan terus-menerus dengan perempuan yang tiba-tiba saja berubah menjadi sangat menyebalkan.
Mendapati Dion yang melangkahkan kaki keluar dari restoran, meninggalkan uang untuk membayar makanan tersebut di atas meja. Justru membuat Keysa langsung mengulas senyum.
Keysa bukan melanjutkan kegiatan makannya lagi, tetapi segera meraih ponsel miliknya dan menghubungi Reta.
"Gimana, Sayang?" tanya Reta, dengan suara yang terdengar sangat semangat sekali.
"Berhasil, Tante! Mas Dion sekarang lagi ngambek tuh, hihi!" sahut Keysa, dengan tawa yang ia keluarkan sedikit.
"Ya udah, buat Dion marah terus ya, tahan sampai besok, karena besok itu kita harus mempersiapkan semuanya," ujar Reta, yang menyuruh Keysa untuk melakukan hal seperti itu.
Apa yang tengah direncanakan oleh dua orang yang memiliki hubungan khusus bagi Dion itu?
"Siap, Tante! Nanti, sebisa mungkin Keysa bakalan buat Mas Dion marah terus," sahut Keysa, dengan sangat semangat sekali.
"Ya udah, teleponnya udahan dulu. Sekarang Tante mau nyiapin semuanya dulu!" ucap Reta, yang mengerti bagaimana situasi sekarang ini.
Lagipula, dirinya juga tengah menyiapkan semua sendiri. Supaya nanti besok, itu akan menjadi hari yang sangat bahagia dan juga penuh kejutan.
Keysa menurut, perempuan itu langsung mematikan sambungan telepon tersebut, dan memilih untuk kembali melanjutkan kegiatan makan yang belum terselesaikan.
Berpura-pura untuk biasa saja, meskipun Dion sudah terlebih dulu meninggalkan dirinya sendirian di dalam restoran tersebut.
Toh, laki-laki yang kini sudah menjadi kekasih hatinya itu, berucap akan menunggu di dalam mobil. Maka dari itu, Keysa memutuskan untuk biasa dan juga santai.
Namun, hal yang aneh kembali terjadi. Padahal, belum sampai 10 menit dari Dion pergi keluar dari dalam restoran, ponsel milik Keysa kembali berdering.
Dan yang menghubungi perempuan tersebut adalah Dion, tertawa sedikit sebentar, lalu mengangkat ponsel dan menerima panggilan tersebut.
"Iya, kenapa?" tanya Keysa, yang terdengar seperti tidak memiliki kesalahan sama sekali di pendengaran Dion.
"Kapan selesainya, sih? Udah dari tadi, loh padahal!" tanya Dion, dengan tangan kiri yang bergerak memainkan setir mobil miliknya.
"Kenapa harus buru-buru, sih? Padahal, belum selesai makan sama sekali! Jadi orang kok aneh banget!" protes Keysa, yang kini memilih untuk berpura-pura marah dengan laki-laki yang tengah melakukan panggilan telepon dengannya.
"Mbak!" Kiara segera mengangkat tangannya, untuk memanggil waiters yang tadi memberikan makanan untuk dirinya dan juga Dion.
"Iya, kenapa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya waiters tersebut.
"Total semuanya berapa, Mbak?" tanya Keysa. Perempuan itu sengaja untuk tak mematikan sambungan telepon, karena memang supaya Dion itu tahu jika Keysa tengah merasa kesal.
Keysa mengucapkan kata terima kasih, setelah membayar makanan yang sudah ia makan, meskipun tidak sampai dihabiskan.
"Key, kamu udahan? Kamu marah? Kok sampai nyudahin makan, sih?" tanya Dion, yang kali ini dengan dahi yang berkerut, tentu saja karena heran dan juga bingung.
"Kan ini itu maunya kamu!" jawab Keysa, lalu perempuan itu lebih memilih untuk segera mengakhiri panggilan telepon tersebut.
Memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas lagi, mencoba untuk terus menahan tawa, karena apa yang saat ini ia lakukan, itu benar-benar membuat dirinya merasa sangat lucu.
Persetan dengan perasaan Dion yang tengah dipermainkan olehnya. Toh, ini semua juga ide dari orang tuanya sendiri.
Ponsel milik Keysa kembali berdering, tentu yang melakukan hal itu adalah Dion. "Key, ada di mana sekarang?" tanya Dion langsung.
"Lagi jalan," jawab Keysa, sangat singkat.
"Tahu, kan di mana mobil yang tadi dibawa?" tanya Dion lagi, yang justru dibalas dehem saja.
Itu membuat Dion bingung akan berucap apa lagi, tetapi Keysa langsung mempermudah segalanya.
Mematikan sambungan telepon dan kembali memasukkan ponsel miliknya itu ke dalam tas yang ia punya.
Persetan dengan reaksi apa yang ditunjukkan oleh laki-laki bernama Dion itu, kalau nanti Keysa sudah masuk ke dalam mobil yang dibawanya.