"Kita langsung pulang aja, ya! Keysa males kalau harus jalan-jalan ke sana ke mari dulu! Pengen langsung tidur aja!" pinta Keysa, saat ia baru saja duduk di kursi mobil tersebut.
Dan tentu saja tak ada komentar yang keluar dari mulut Dion, bingung juga jika sudah dihadapkan perempuan yang sepertinya tak mood sekali untuk berbicara.
"Enggak boleh gitu, ke mana, atau ke mana dulu?" tawar Dion, berharap jika perempuan di sampingnya itu akan menerima tawaran yang ia lontarkan tadi.
Namun, yang namanya harapan, tetap saja hanya akan menjadi harapan. Karena pada kenyataannya Keysa kembali menggerakkan kepala, pertanda jika perempuan itu menolak mentah-mentah.
"Kenapa, sih? Lagi ada masalah? Atau tugas di kampus banyak banget?" tanya Dion, yang masih tetap membujuk Keysa supaya kembali bersikap seperti dulu lagi.
"Enggak ada apa-apa," jawab Keysa, dengan sangat singkat sekali.
Hal itu kembali membuat pengaruh besar bagi Dion, laki-laki itu tak langsung menjalankan mobil miliknya untuk segera keluar dari barisan parkiran mall tersebut.
Dion meraih kedua tangan Keysa, yang tengah menggenggam tas miliknya. Kedua pasang mata milik laki-laki itu, menatap penuh keseriusan pada Keysa.
"Saya bakalan lebih milik buat kamu, jadi lebih cerewet aja, dari pada harus ngehadapin kamu yang diem aja kek gini," ucap Dion, yang sangat tulus sekali dari dalam hati.
"Ya, suka-suka! Keysa enggak mau ngomong panjang lebar, capek," sahut Keysa, dengan melempar tatapan yang sangat tajam, pada laki-laki yang kini berada tepat di depannya ini.
"Sayang, kalau emang lagi ada masalah, cerita dong!" pinta Dion, yang masih tetap kekeh pada kenyataan dan juga feeling. Jika Keysa memang tengah memiliki masalah.
Tentu saja Keysa langsung menggelengkan kepala dan menjawab, "Enggak ada masalah apa-apa. Aku cuma pengen istirahat aja, semuanya itu capek banget!" Dengan suara yang sedikit meninggi.
Bagi Dion baru pertama kali mendengar hal itu, membuat dirinya langsung sedikit heran dan juga tak terima. "Aku yakin banget, kalau kamu emang ada masalah!"
"Enggak ada, Dion! Kamu paham enggak, sih yang namanya capek itu apa?" sahut Keysa, yang masih berusaha untuk meyakinkan laki-laki di sampingnya itu.
Tak ada sahutan sama sekali yang keluar dari mulut Dion, laki-laki itu justru terus saja melihat ke arah Keysa. Berharap akan ada satu kata yang keluar dari mulut Keysa, sebagai clue apa yang terjadi pada perubahan yang dialami oleh sang kekasih.
Keysa buru-buru mengibaskan tangan kanannya di depan wajah, lalu berucap, "Udahlah! Terserah kamu aja, mau berangkat buat nganter aku pulang, atau enggak. Terserah!"
Setelah berucap seperti itu, Keysa memilih untuk segera memejamkan kedua bola matanya, karena itu adalah salah satu cara supaya terhindar dari beberapa pertanyaan yang mungkin saja akan dikeluarkan lagi oleh Dion.
Karena jujur saja, Dion bukanlah laki-laki yang sangat bodoh, sehingga membiarkan Keysa terus saja berbohong. Namun, entah keberuntungan apa yang tengah menyelamatkan Keysa dari beberapa pertanyaan yang mungkin saja akan keluar tadi.
"Ya udah, aku antar kamu pulang ke kosan," putus Dion pada akhirnya, lalu segera menyalakan mesin mobil yang ia punya itu.
Tak ada sahutan yang dikeluarkan oleh Keysa, karena perempuan itu memang tengah melaksanakan tidur yang cukup nyenyak.
Bodo amat dengan masalah yang tengah meliputi, tetapi yang terpenting adalah untuk kali ini saja Dion tidak menanyakan banyak hal tentang perubahan sikapnya yang tiba-tiba seperti itu.
Dion melirik ke arah Keysa, terlebih dulu menguji perempuan tersebut dengan cara menggerakkan tangan kanannya di depan wajah. Supaya Dion tahu, jika Keysa itu memang benar sudah tertidur, atau hanya berpura-pura.
Nah, saat Keysa sudah dipastikan benar tertidur, maka laki-laki itu memutuskan untuk menepi ke pinggir jalan terlebih dulu. Meraih pelan-pelan tas yang dimiliki oleh kasihnya itu.
Lalu dengan segera Dion membuka tas yang masih berada di genggaman tangan Keysa, meraih ponsel yang berada di dalam tas tersebut.
Melihat log panggilan terakhir yang dilakukan oleh Keysa dan ternyata memang benar, panggilan terakhir yang dilakukan oleh perempuan tersebut adalah dengan Delon.
Namun, karena diliputi oleh rasa kesal, cemburu, dan juga heran. Maka, Dion itu tidak terlalu teliti untuk memeriksa, padahal log panggilan itu, dengan Delon adalah beberapa hari yang lalu. Sebelum Keysa dekat sekali dengan Dion.
Ya ... ini mungkin adalah rezeki dari Keysa dan juga Reta, karena untuk melancarkan rencana yang sudah mereka susun bersama itu.
"Ya ampun! Kalau emang beneran gara-gara laki-laki ini, terus Keysa jadi berpindah hati. Gimana ya?" tanya Dion pada dirinya sendiri, dengan perasaan yang tak karuan, karena takut juga jika perempuan yang berada di samping itu akan meninggalkan dirinya, di saat Dion mulai merasakan sayang.
Namun, Dion juga optimis, kalau Keysa bukanlah orang yang seperti itu. Sehingga laki-laki itu memilih untuk segera meletakkan ponsel tersebut, kembali pada tempatnya, dan melanjutkan perjalanan menuju ke indekos milik Keysa.
"Key! Hey, bangun!" Dion menepuk pelan pipi sebelah kanan milik Keysa, supaya perempuan itu segera bangun dari kegiatan tidur yang sangat nyenyak itu.
"Kenapa? Ada apa? Saya ada di mana?" tanya Keysa, dengan kesadaran yang belum terlalu pulih sekali.
Hal itu membuat kelucuan tersendiri bagi Dion, sehingga laki-laki itu langsung mengeluarkan tawa dengan sangat keras dan juga tak terkontrol sama sekali.
"Kok malah ketawa, sih? Kenapa? Ada apa?" tanya Keysa yang mengulangi pertanyaan.
Dion segera menggelengkan kepalanya itu, lalu berucap, "Sekarang, kita itu udah sampai di depan kosan kamu. Dan kamu, mau turun atau enggak?"
"Atau emang masih mau satu mobil sama saya?" tanya Dion lagi, yang membuat Keysa bergidik ngeri.
"Udah, ah! Males banget berduaan sama kamu!" sahut Keysa, dengan tangan kiri yang mulai bergerak untuk membuka pintu mobil tersebut.
Namun, Dion tak langsung mengizinkan perempuan itu untuk keluar dari dalam mobilnya. "Tunggu, Key, aku mau ngomong sesuatu sama kamu."
Jantung milik Keysa langsung kembali berpacu lebih cepat lagi, lalu bertanya, "Mau ngomong apaan?"
"Kamu itu punya rasa yang sungguh-sungguh enggak sih sama hubungan kita ini?" tanya Dion, dengan tatapan yang benar-benar fokus pada wajah milik Keysa.
Mendapat pertanyaan yang seperti itu, membuat Keysa langsung mengulas senyum, lalu menjawab, "Kok nanya kek gitu, sih? Udah ah! Mau masuk ke kosan, terus lanjut tidur lagi!"
Dengan sedikit paksaan yang dikeluarkan oleh Keysa, akhirnya perempuan itu bisa juga keluar dari dalam mobil.
Melambaikan tangan kanan terlebih dulu, lalu segera membalikkan tubuh untuk masuk ke dalam indekos, yang biasa ia tempati itu.