"Wuih! Anak Mama udah pulang? Eh, kok mukanya kusut kek gitu, sih? Kenapa, bukannya tadi abis jalan-jalan sama pacar sendiri, ya?" sapa Reta, dan langsung memberi pertanyaan pada anak semata wayangnya itu.
"Iya, Ma, tadi emang makan bareng, tapi sikapnya Keysa itu tiba-tiba aja berubah drastis banget," tutur Dion, yang membuat Reta harus menahan tawanya.
"Berubah? Berubah kek gimana sih?" tanya Reta, yang mencoba untuk memancing Dion supaya mau bercerita.
Mendapat pertanyaan seperti itu dari orang tuanya, membuat Dion langsung meletakkan kepala Dion pada sisi sofa, lalu memejamkan mata terlebih dulu. Napasnya terlihat naik turun, itu memiliki arti jika Dion memang tengah menahan rasa kesal.
"Kenapa? Orang Mama nanya, kok kamu malah tidur ke gini, sih?" tanya Reta lagi, yang membuat Dion mau tak mau membuka mata.
"Tadi, Keysa itu tiba-tiba aja dapet telepon dari kakak kelas yang ada di kampusnya, Ma. Nah, terus mereka itu kayaknya sih ngomong pakai kata-kata mesra, deh!" tutur Dion, dengan raut wajah yang terlihat seperti sangat pasrah sekali.
"Bisa tau kalau kata-katanya mesra, itu gimana?" tanya Reta lagi, masih dengan posisi yang menahan tawa.
Dion diam dulu, ia mengingat mengapa ia bisa memiliki pikiran yang seperti itu. "Itu, gara-gara Keysa yang dari tadi itu senyum terus, Ma."
Setelah berucap seperti itu, Dion menghadapkan tubuhnya pada Reta. "Bayangin aja dong, Ma, kalau Mama yang dikek gitu. Sakit banget serius, deh!"
Reta bukannya peduli, ia justru mengedikkan kedua bahunya, lalu menjawab, "Ya ... itulah yang namanya cinta. Enggak selamanya di dalam hati kita itu terdapat rasa cinta."
"Maksudnya?" tanya Dion, dengan dahi yang berkerut.
"Astaga! Masa iya kek gini aja enggak paham, sih?' protes Reta, seraya memutar bola matanya malas.
"Ma, seriusan! Dion enggak paham sama sekali!" ucap Dion, berharap akan segera mendapat penjelasan dari orang tuanya itu.
Namun, Reta tak ingin membahas lebih dalam lagi, lalu memilih untuk bertanya, "Terus, makanan buat Mama mana?"
"Nah! Itu dia masalahnya, Ma! Dion enggak sempet buat beli itu!" ujar Dion, yang membuat Reta langsung menampilkan raut wajah yang sangat sedih sekali. Ingat, itu hanya berpura-pura saja.
"Jahat banget sih kamu, Dion! Padahal Mama itu udah nunggu kamu, sekalian berharap kalau kamu nanti pulang bakalan bawa makanan buat Mama, tapi kenyataannya malah enggak sama sekali," ujar Reta, lalu memilih untuk langsung berdiri dan berniat untuk segera masuk ke dalam kamar.
Melihat orang tuanya yang seperti itu, membuat Dion langsung merasa sangat bersalah, tetapi ia sendiri juga tidak tahu mengapa orang tuanya menjadi sangat sensitif seperti itu?
"Argh! Pusing banget sih kalau hidup, tapi kalau meninggal itu serem," teriak Dion, dengan nada pelan hanya di akhir kalimat saja.
Pusing dan juga malas sekali memikirkan hal itu, maka Dion memilih untuk meraih ponsel miliknya yang berada di saku dan membuka layar terlebih dulu.
Kali ini, bukan memeriksa pekerjaan, melainkan mencari beberapa artikel yang membahas tentang: mengapa perempuan tiba-tiba saja berubah menjadi sangat cuek.
Karena, apa yang menjadi sikap Keysa, itu benar-benar membuat Dion harus berpikir apa yang menjadi penyebabnya.
Setelah Reta sudah masuk ke dalam kamarnya, ia segera meraih ponsel dan menelepon calon menantu yang sangat ia suka itu. Yaitu, Keysa.
"Halo, Tante, gimana?" tanya Keysa, yang terlebih dulu mengeluarkan suara.
"Sip! Kayaknya, kamu itu pinter buat berpura-pura ya?" sahut Reta, dengan suara yang sangat semangat sekali, tetapi ia langsung tersadar, jika di ruang televisi itu ada anak semata wayangnya itu.
"Nanti besok, Keysa ke situ sama siapa, Tante?" tanya Keysa, yang masih tak memiliki bayangan sama sekali untuk hal itu.
"Jangan mikirin tentang hal itu, Sayang! Karena, nanti Tante sendiri yang bakalan ke sana, kamu share lock aja. Oke?" jawab Reta, dengan sangat tenang.
Jawaban calon mertuanya itu, mampu membuat hati Keysa langsung tenang seketika. "Oh iya, Tante, Mas Dion cerita apa aja sama Tante?"
"Tau gak, Key, Dion itu keliatan kek lagi galau banget tau!" ucap Reta, lalu langsung mengeluarkan tawa dengan sangat keras sekali.
Dan, saat ia teringat jika ada Dion, maka ia langsung menutup mulutnya itu dengan tangan sebelah kanan.
"Galau? Galau gimana, Tante?" tanya Keysa, perempuan itu sudah sangat ingin tahu sekali.
"Mukanya itu sedih banget gitu, loh! Dan Dion juga cerita ke Tante, kalau kamu itu tiba-tiba berubah, hihi," ujar Reta, kembali menceritakan semuanya.
"Duh! Sayangnya Keysa enggak liat wajah Mas Dion gimana ya, Tante," sahut Keysa, dengan kegiatannya yang kini tengah menggigiti jari sebelah kanan.
Reta tak menjawab ucapan Keysa, ia terlebih dulu mengatur napas, karena jika terus saja tertawa, maka rasanya sangat melelahkan sekali.
"Ma! Mama lagi ngobrol sama siapa, sih? Papa kan belum pulang?" tanya Dion, dengan tangan kanan yang mengetuk pintu. Karena sangat tak sopan sekali jika asal langsung membuka pintu saja.
Mendengar suara anak semata wayangnya itu, Reta langsung buru-buru mematikan sambungan telepon, dan mencari blog yang menyediakan cerita sangat lucu.
"Kenapa, Nak? Kok tiba-tiba ada di sini? Bukannya tadi lagi galau ya?' tanya Reta, dengan raut wajah yang sebisa mungkin untuk tetap tenang.
Bukannya menjawab pertanyaan yang diucapkan oleh Reta, Dion justru melihat ke arah kamar orang tuanya itu. Menyelidik apakah ada sesuatu yang mencurigakan, dari kamar milik Reta.
"Tadi Mama ketawa, itu kenapa?" tanya Dion, dengan wajah yang menunjukkan jika dirinya memang tengah bingung.
"Oh! Mama tadi ketawa, itu karena liat cerita yang lucu banget astaga! Emangnya kenapa? Kamu juga mau baca ceritanya?" jawab Reta, yang langsung memberi tawaran pada anak semata wayangnya.
Hal itu, untuk mengelabui Dion, supaya tidak curiga lagi dengan dirinya, dan Reta juga berharap jika calon menantunya itu tidak akan menelepon terlebih dulu.
"Oh, Dion kira, Mama lagi ngobrol sama sapa! Soalnya tadi ketawanya itu keras banget, kek beban hidup itu langsung ilang gitu aja," ujar Dion, lalu membalikkan tubuhnya dan berniat untuk segera menuju ke kamar miliknya sendiri.
Seperginya Dion dari dalam kamar, maka Reta langsung segera mengusap-usap d**a dan menutup pintu kamar tersebut, lalu mengunci pintu tersebut.
Kembali naik di atas tempat tidurnya sendiri, lalu kembali meraih ponsel yang tadi ia sengaja untuk diletakkan di atas tempat tidur.
Menghubungi Keysa lagi, lalu meminta maaf untuk percakapan mereka yang terputus sebentar, itu semua gara-gara Dion yang tiba-tiba saja muncul seperti hantu.
"Enggak apa-apa kok, Tante. Untung aja tadi Keysa enggak nelepon Tante," sahut Keysa, lalu mengeluarkan tawa kecil.