Tentang anak

1006 Kata
"Mau lanjut cerita tentang Dion lagi enggak, Tante?" tanya Keysa, yang sebenarnya perempuan itu memang masih sangat ingin tahu tentang bagaimana kekasihnya itu saat tiba di rumah. "Eum ... kalau Tante enggak mau buat cerita tentang Dion lagi, gimana?" tanya Reta balik, apa yang ia utarakan tadi itu adalah semata-mata hanya untuk menggoda calon menantunya itu. "Yah, Tante. Padahal Keysa itu lagi kangen sama Mas Dion," rengek Keysa, yang membuat Reta langsung mengeluarkan tawanya lagi. "Hihi, gitu ya kalau lagi jatuh cinta, pengennya itu selalu tentang orang yang dicinta terus," ujar Reta, yang langsung membuat Keysa tersipu malu. "Tante!" Kali ini Keysa kembali mengeluarkan nada manja yang ia miliki itu. Membuat Reta langsung tertawa lagi. "Tau gak sih, Sayang, Tante itu serasa punya anak perempuan sendiri tau!" ujar Reta, yang membuat Keysa merasa heran. Namun, rasa heran yang dialami oleh perempuan itu hanyalah sebentar, karena beberapa detik berikutnya Keysa langsung paham, lalu menjawab, "Diangkat jadi anak angkat aja, Tante, haha." "Enggak usah jadi anak angkat lagi, tapi jadi menantu aja. Nah, nanti Tante bakalan nganggep kamu itu layaknya anak sendiri. Karena sebenarnya Tante itu pengen banget punya anak perempuan," sahut Reta, dengan sangat semangat dan juga bibir yang sedari tadi menampilkan senyuman. "Kalau Tante mau anak perempuan, kenapa enggak mau buat anak lagi?" tanya Keysa, dengan dahi yang langsung berkerut. Reta langsung menghembuskan napas, bahkan suara napasnya saja pun sampai terdengar di telinga Keysa. Mendengar hal itu, Keysa merasa jika dirinya itu sudah melakukan kesalahan. "Tante maafin Keysa ya, kalau omongan yang tadi itu salah," ucap Keysa langsung. Reta menggelengkan kepala, meskipun Keysa tidak dapat melihat apa yang tengah dilakukan olehnya, tetapi itu adalah salah satu kegiatan yang sangat refleks dilakukan oleh Reta. "Bukan masalah yang sangat besar kok. Cuma, kalau bahas tentang hal itu, Tante itu langsung inget tentang larangan yang diutarakan sama suami Tante sendiri," ujar Reta. "Kalau Keysa boleh tahu, larangan tentang apa, Tante?" tanya Keysa, dengan sangat hati-hati. "Larangan tentang keinginan Tante yang mau punya anak satu lagi," jawab reta, meskipun ada rasa sakit hati lagi yang hadir langsung di dalam hatinya. Keysa terdiam, saat ini ia bingung juga akan menjawab apa, tetapi yang pasti Keysa saat ini ingin sekali memeluk perempuan yang akan menjadi mertuanya itu. "Udah, Nak. Jangan bahas hal itu lagi, oh iya. Kalau kamu bangun jam berapa? Biar nanti Tante jemput kamu tepat waktu," tanya Reta, lalu langsung mengutarakan pertanyaan yang lainnya lagi. "Mungkin jam lima kalau gak salah, Tante," jawab Keysa. Mengira-ngira jam yang paling cepat. Meskipun, jam segitu adalah waktu yang paling jarang untuk Keysa lakukan. Namun, untuk mencari muka pada calon mertua, itu tidak ada salahnya, bukan? Sebenarnya, setelah menjawab dengan jawaban yang seperti itu, Keysa langsung merasa sangat tak enak sekali. "Eum ... keknya, kalau jam lima itu terlalu pagi banget, gimana kalau Tante ke situ jam enam aja? Kebetulan jam segitu Dion juga pasti lagi mandi," usul Reta, yang langsung diterima oleh Keysa. "Kalau jam sekarang aja Tante jemput kamu, gimana? Nanti kamu tidur di kamar bareng sama Tante," tawar Reta lagi, karena dirinya berpikir jika pagi-pagi harus menjemput terlebih dulu. Itu akan sangat merepotkan sekali. "Keysa tidur sama Tante?" tanya Keysa yang mengulas usulan dari Reta tadi. Orang tua dari Dion itu langsung menganggukkan kepala. "Iya, kamu nanti tidur di samping, Tante. Enggak apa-apa, kan?" "Terus, kalau Keysa tidur sama Tante, suami Tante mau tidur di mana?" tanya Keysa. Itu adalah pertanyaan yang sedari tadi ada di dalam benak Keysa. Sangat aneh sekali rasanya, jika suami sendiri yang justru tidak tidur satu tempat. Malah, Keysa yang belum menjadi siapa-siapa akan tidur dengan Reta? Keysa sama sekali tak habis pikir dengan calon mertuanya itu. "Di rumah Tante ada kamar kosong lagi enggak? Kalau iya ada, nanti Keysa tinggal di situ aja. Gampang, tinggal dibersihin aja dulu, kalau emang berdebu," tanya Keysa pada akhirnya. Mendengar pertanyaan yang seperti itu, membuat Reta langsung menganggukkan kepala. "Ya ampun, iya! Tante baru inget dan baru kepikiran ke situ juga!" Reta yang tadinya tengah berada di atas tempat tidur, langsung turun dan bersiap untuk menuju ke kamar tersebut. Di mana kamar itu, memang diperuntukkan untuk beberapa tamu yang biasanya datang berkunjung. "Ya udah, Tante mau nyiapin kamar dulu buat kamu ya, Sayang! Nanti kalau Tante udah selesai, bakalan ngasih tau ke kamu," ucap Reta, yang langsung mematikan sambungan telepon. Tanpa menunggu persetujuan sama sekali dari Keysa, Reta langsung meletakkan ponselnya di tas tempat tidur, sedangkan dirinya itu segera melangkahkan kaki menuju ke kamar tersebut. Bukan karena sombong atau tidak sopan, tetapi itu adalah salah satu bentuk rasa semangat yang ditunjukkan oleh Reta. Dan Keysa yang mendapat perlakuan seperti itu, hanya dapat mengusap d**a penuh kesabaran, dan juga menggelengkan kepala. Karena, Keysa juga tahu bagaimana tipikal calon mertuanya itu. Lagipula, terakhir kali mereka berbincang bukanlah sebuah pertengkaran, maka tidak ada hal yang perlu ditakutkan lagi. Padahal, sudah melangkahkan kaki menuju ke kamar yang jarang sekali ditempati, hanya tinggal membersihkan saja, tetapi rasanya sangat tidak afdol sekali jika tidak ada musik yang menemani. Membuat Reta mau tak mau harus melangkahkan kakinya kembali menuju ke kamar yang ia tempati itu, untuk mengambil ponsel miliknya lagi. "Mau ke mana, Ma?" tanya Dion, saat mendapati Reta yang melangkahkan kaki keluar dari kamar, dan dengan pandangan mata yang fokus pada ponsel di genggaman tangannya. "Eh, kamu Dion! Itu, Mama mau ke kamar yang kosong itu, loh!" sahut Reta, lalu kembali melangkahkan kakinya. Meninggalkan Dion, yang masih menatap Reta, penuh tanya. Namun, jika terus saja memikirkan hal itu, hanya membuang-buang waktu saja. Maka dari itu, Dion memilih untuk melangkahkan kakinya lagi menuju ke ruang televisi. Melanjutkan kegiatannya lagi, yang tadi sempat tertunda karena adanya suara tawa yang dikeluarkan oleh orang tua. Setelah Dion sudah duduk di sofa yang tersedia di situ, pikirannya langsung tertuju menuju ke Keysa. Sehingga, laki-laki itu memilih untuk langsung menghubungi Keysa dan berharap akan langsung diangkat oleh perempuan itu. Namun, ternyata harapan yang dibangun oleh Dion, sia-sia. Keysa sama sekali tak menggubris panggilan dari Dion, yang membuat laki-laki itu merasa sangat kesal. Sekali lagi Dion mencoba, tetapi hasilnya tetap saja nihil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN