Drama

1017 Kata
"Ma, tumben banget sih beresin kamar yang itu?" tanya Dion, setelah melihat Reta, yang baru saja keluar dari kamar yang sudah cukup lama tidak ditempati. "Loh, emangnya kenapa? Emangnya salah?" tanya Reta balik, yang kini tengah memasang wajah heran. Dion langsung menggelengkan kepala, lalu menjawab, "Enggak apa-apa kok, Ma, cuma heran aja gitu. Kenapa bisa serajin itu coba?" "Kebanyakan pertanyaan kamu mah!" protes Reta, lalu ia langsung melanjutkan langkah kakinya lagi menuju ke kamar miliknya. Bersiap untuk segera menghubungi calon menantunya itu dan memberitahu sesuatu. "Halo, Tante! Kenapa tadi langsung dimatiin, sih? Kan Keysa belum ngomong apa-apa sama sekali," tanya Keysa terlebih dulu, setelah ia sudah mengangkat panggilan dari calon mertuanya itu. Mendengar pertanyaan yang seperti itu dari Keysa, membuat Reta langsung mengeluarkan tawa dan menjawab, "Hehe, maaf ya! Soalnya itu, tadi saking semangatnya loh, Sayang. Jadi, langsung keluar dan sekarang kamar itu udah selesai dibereskan." Keysa hanya dapat menggelengkan kepala saja, sedikit aneh mendapat jawaban seperti itu dari Reta, tetapi mau bagaimana lagi? Bagaimanapun juga, Reta adalah orangtua dari laki-laki yang ia sayang. "Tante, Tante tau enggak?" tanya Keysa, yang membuat Reta langsung penasaran dan mulai untuk mendengar secara seksama apa yang akan diucapkan oleh Keysa. "Tau tentang apa, Nak?" tanya Reta, dengan kedua mata yang sama sekali tak berkedip, itu adalah wujud dari seseorang yang tengah sangat serius sekali. "Tadi itu, Mas Dion nelepon Keysa terus-terusan," jawab Keysa, yang mulai menceritakan tentang apa yang tadi ia alami. "Nelepon kamu? Ada apa ya? Terus, kamu angkat atau enggak?" tanya Reta. Kali ini, ada satu sifat yang diketahui lagi oleh Keysa, jika calon mertuanya itu adalah salah satu orang yang memilki tipikal sangat ingin tahu. "Enggak dong, Ma, kan ceritanya itu Keysa lagi nyuekin Mas Dion," jawab Keysa, yang langsung diiringi dengan suara tawa kecil. "Bag--" Belum juga Reta menjawab apa yang tadi diutarakan oleh Keysa, tiba-tiba saja tanpa seizin sama sekali. Dengan wajah yang benar-benar mencirikan, jika laki-laki itu tengah merasa heran dengan apa yang akhir-akhir ini ia dapati dari Reta. "Mama lagi teleponan sama siapa?" tanya Dion, dengan langkah kaki yang perlahan mendekat. Keysa yang ternyata mendengar apa yang diucapkan oleh Dion, memilih untuk segera berpura-pura menjadi orang yang paling bahagia nantinya. Namun, ternyata Reta memilih untuk tak memberikan ponsel miliknya dan berucap, "Apaan sih, Dion! Kamu tu enggak ada sikap sopan sama sekali!" "Masa iya, masuk ke kamar orang tua sendiri, kok enggak ada ketukan sama sekali! Langsung main masuk-masuk aja gitu!" protes Reta, yang memutuskan untuk menyembunyikan ponsel di belakang tubuh. "Mama enggak main belakang, kan?" tanya Dion, dan kali ini raut wajah Dion semakin garang. Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Reta langsung menghembuskan napas lega, karena ternyata anak semata wayangnya tu tidak curiga, jika dirinya itu tengah menelepon dengan Keysa. Namun, karena Reta yang tengah melamun kan seperti itu, sehingga Dion dengan mudah memanfaatkan hal itu, lalu meraih ponsel milik Reta. Segera melihat layar ponsel tersebut, dan ternyata namanya adalah 'Calon menantu'. "Halo?" Dion terlebih dulu mengeluarkan suara, yang justru membuat Keysa langsung merasa sangat heran. "Loh, Tante? Dari tadi enggak dengerin Keysa cerita? Padahal, kan lagi seru banget, Tante!" ujar Keysa, dengan nada bicara, yang dibuat seakan tengah frustrasi akan hal itu. "Lagi cerita apa? Biar aku aja yang dengerin! Tentang apa sih emangnya?" tanya Dion, meski sebenarnya ia sudah merasa sangat kesal sekali dengan apa yang diutarakan oleh sang kekasih. Mana mungkin jika Keysa tengah menceritakan hal bahagia, sedangkan terakhir kali mereka bertemu saja tidak akur sama sekali. "Tadi itu, setelah kamu pergi dari kosan yang aku tempati. Ada satu laki-laki yang ganteng banget! Sumpah, gak boong!" tutur Keysa, seraya menahan ketawa dan juga menggigit jari tangan yang ia punya. "Oh, jadi lebih ganteng dia, daripada aku?" tanya Dion untuk memastikan terlebih dulu, meskipun di dalam hati ia sama sekali tak menginginkan hal itu terjadi. "Iya, seriusan ganteng banget parah! Maaf ya, bukan maksud ngebanding-bandingin kamu atau gimana, tapi yang namanya boong kan dosa!" jawab Keysa, dengan suara yang terdengar tak memiliki salah sama sekali. Jangan tanya bagaimana reaksi dari Dion, karena laki-laki itu memang tengah berusaha mati-matian untuk tetap tenang dan terus mendengarkan apa yang selanjutnya diutarakan oleh Keysa. "Bentar, sebelum dilanjut ceritanya. Aku mau nanya, Tante ada di mana?" tanya Keysa, yang kembali menahan rasa ingin tertawa. Dion melirik sekilas ke arah Reta, menggelengkan kepalanya pelan, lalu menjawab, "Ada aku di sini kok, kenapa harus nanya keberadaan Mama, sih?" "Cerita sama kamu enggak enak sama sekali! Enggak ada tanggapan, pendapat, atau protes gitu! Cuma diem dong, berasa kek lagi cerita sama patung yang ada di jalan," sahut Keysa dengan sangat panjang. Perempuan itu memang sangat sengaja untuk mengutarakan hal itu, karena ia ingin tahu bagaimana reaksi yang ditunjukkan oleh kekasihnya itu. "Kamu mau aku yang kek gimana? Hanya ada satu tanggapan aku, buat cerita kamu yang itu," ujar Dion, yang membuat Keysa semakin penasaran. "Apaan tuh? Pasti ikutan seneng juga, kan?" tebak Keysa, dengan suara yang terdengar sangat semangat sekali. "Aku cemburu, paham!" sahut Dion, dengan penuh penekanan pada setiap katanya itu. "Ini, Ma, ponselnya! Dion mau pamit dulu, nyari cewek yang lebih bening lagi," ujar Dion, seraya menyerahkan ponsel tersebut, tetapi di saat Dion mengucapkan kalimat terakhir. Laki-laki itu dengan sangat sengaja sekali menggunakan penekanan. Reta yang sedari tadi hanya melihat interaksi muda-mudi di depannya, hanya bisa mengulas senyum saja. karena apa yang terjadi dengan Dion, tak jauh beda dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Di saat mereka masih muda dulu. "Berhasil, hore!" seru Reta, yang mulai mendekatkan ponsel miliknya ke telinga sebelah kanan. "Tante, Dion kira-kira beneran enggak ya mau nyari cewek bening?" tanya Keysa, yang merubah nada bicaranya menjadi sangat khawatir. Ia belum terlalu berani untuk kehilangan laki-laki tersebut. Bahkan setiap kuku yang berada di beberapa jari tangan, langsung digigit oleh Keysa. Namun, detik itu juga Reta justru langsung mengeluarkan tawa dan berucap, "Udah! Santai aja, Dion enggak mungkin kayak gitu, kok. Percaya deh sama Tante!" "Tapi, tadi itu ucapannya kek beneran loh, Tante," sahut Keysa, yang sebenarnya masih merasa sangat khawatir sekali. Bahkan, tidak memiliki ketenangan sama sekali di dalam hatinya. Keysa tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti, jika sampai Dion mencari perempuan lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN