Chapter 22 ** ** Ia menarik knopnya perlahan karena masih lemas dan mual. Pintunya terbuka dengan pelan, Maasyaallah! Sontak Syadza kaget dikejutkan kehadiran Abraham yang tersenyum sumringah membawa nampan berisi air hangat dan buah pisang. "Hai!" Sapa Abraham yang berdiri di bawah rumah panggung. Kebetulan tangga menuju pintu masuk setinggi 1 meter kurang lebihnya. Senyum Abraham sumringah. Terlihat tulus. "Oh, hai!" Syadza merasa kikuk apalagi ditambah wajahnya yang pucat. Pasti sangat tidak menarik. Abraham menjawab dengan senyuman lagi, kali ini lebih lebar sama giginya terlihat. "Ini, aku bawakan pesenan Risa." "Boleh aku naik de?" Kata Abraham. "Tidak! Jangan!. Biar saya saja yang turun," kata iSyadza kaget. Di dalam ruangan ini tidak ada siapapun, hanya ada beberapa ora

