Chapter 5
** ** **
"Uhuk!!"
"Kan! Ngeyel sih kalo dibilang, sebel." rancau Syadza sembari memberi s**u hangat guna meredakan rasa perih di daerah tenggorokan istrinya.
"Udah mau jam lima Sya,"
"Pelan-pelan atau kita ngga jadi pergi," ancam Syadza dengan penuh penekanan.
"Nanti terlambat Sya,"
"Mas, makan tergesa-gesa itu ngga baik mas. Sifat syaitan, mas mau tak panggil tatan sayang?"
"Apa tuh Sya?" tanya Syauqi bingung.
"Setanku Sayang!" kesal Syadza pada Syauqi yang menatapnya gemas.
"Iih amit-amit,"
"Ya udah mas makan pelan-pelan,"
"Hem," jawab Syauqi.
"Gitu dong, kan jadi ganteng hihi," jawab Syadza sembari mencubit pipi Syauqi gemas sampai si empu mengeluh pedih.
"Sakit ih saaaa,"
"Lebayy,"
"Sakit ih serius, kasian Masnya," Syauqi kembali merajuk mengikuti istrinya berjalan dari meja makan menuju wastafel.
"Kan nyubitnya ngga keras mas, pelan kok." bela Syadza pada dirinya, ia tau jika suaminya tengah mencari kesempatan dalam situasi darurat. Batinya ia terkekeh, sengaja tak melihat wajah kekasihnya itu dan berlagak sok sibuk. Lucu sekali jika sang kekasih tengah merajuk.
"Syaaaa, sakit ini,"
"Ya udah mas usap aja,"
"Udah, tapi sakit Sya. Tanggung jawab!" tukas Syauqi kesal karena istrinya tak kunjung peka, ia dudukan dirinya di sofa ruang tamu dengan wajah kusut bak pakaian tak disetrika.
"Mas, ayo. Udah siap kan?" tanya Syadza memastikan. Satu menit tak ada jawaban merangkap tak betah didiamkan oleh ladang pahalanya, Syadza menghembuskan nafas. Beralih duduk sebelah Syauqi yang memejamkan matanya.
"Mas," panggil Syadza lembut.
Diam, tak ada jawaban.
"Dimana yang sakit?" tanyanya semakin lembut.
Syauqi hanya menyentuh pipinya dengan telunjuk secara cepat, sedikit memalingkan wajah agar istrinya bisa melihat jika pipinya sama sekali tak lebam. Melihat itu Syadza tertawa kecil sampai sang suami kembali kesal.
"Coba sini,"
Tangannya yang mungil menyentuh pipi kekasihnya, ia usap sembari bershalawat dan memohon ampun pada Rabbnya jika candanya ternyata berbunga dosa.
"Masih sakit?"
Anggukan kepala sang Tuan sebagai jawaban, dengan sabar Syadza kembali mengusap pipi kanan suami yang menjadi korban kegemasannya itu.
"Sini," singkat Syauqi.
"Iya mas ini, maaf yah tadi Sya ngga sengaja mas. Syadza minta maaf yah,"
"Iya nggapapa," singkat Syauqi.
Tak biasa seperti ini, Syadza begitu nelangsa. Hatinya terlalu lembut, ia ingin menangis karena begitu takut dengan kemarahan kekasihnya.
Cup,
Ia mencium pipi kekasihnya sekilas dan terbitlah senyum yang selalu ia rindukan. Tapi kali ini senyumnya berbeda, senyum ini biasa hadir ketika ia merajuk dan sang kekasih menggodanya.
"Mas ngeselin!!!"
"Hahaha aduh ampun Syaa ampun!," kekeh Syauqi, berlari menghindari cubitan kekasihnya.
"Hiks..."
"Mas ngeselin huaaaa"
Syadza menangis, cengeng memang. Tapi baginya ini lumrah, setiap istri pasti merasa khawatir jika suaminya begitu mendung, aura kemarahan menyelimuti sang imam. Benarkan? Ia pikir bukan hanya ia yang begitu takut perihal ini.
Baginya, kemarahan suami adalah hal yang harus ia hindari. Kekasihnya harus selalu tersenyum, entah bagaimanapun caranya asalkan sang separuh jiwa bahagia. Ia tak apa jika menderita.
Begitulah sang Aira Syadza berpikir.
"Aduh! kok nangis," panik Syauqi. Ia dekati istrinya.
"Maafin Mas yah jika bercandanya melewati batas,"
"Jangan marah Mas," lirih Syadza yang tengah ditarik ke dalam pelukan Syauqi.
"Iya iya tidak, jangan nangis lagi."
"Mm," jawab Syadza mengangguk.
"Yaudah, kita berangkat yah?"
"Iya mas,"
**
Motor besar milik Syauqi melaju dengan kecepatan standar, diiringi fajar yang perlahan semakin menghilang dari balik bukit memperjelas hawa dingin yang menyentuh sel-sel kulit.
"Pegangi tanganku mas,"
"Iya iya..."
Dengan penuh kehati-hatian, Syauqi mengeggam tangan istrinya, menuntun pelan turun dari motor sport miliknya.
"Alhamdulillah,"
"Sayang disini dulu,"
Syadza mengangguk sebagai jawaban.
Ia terekekeh gemas melihat kekasihnya tampil berbeda, bagaimana tidak? Kaos lengan panjang berwarna merah jambu dan traning hitam tampak manis untuk kekasihnya yang semakin serasi apabila berdampingan dengan ia yang juga menggunakan gamis pink yang sudah sesuai untuk kegiatan olahraga.
Teringat dalam pikirannya bagaimana Syauqi merengek untuk tidak memakai kaos merah jambu itu. Menggemaskan, baginya Syauqi tampak lebih tampan ketika merajuk dengan wajah memelas. Subhanallah, tiada hentinya ia bersyukur...
Embun pagi masih melekat jelas, mentari pagi mulai hadir memperjelas wajah Syauqi yang kini melambai dan tersenyum. Ia turut melambaikan tangannya dengan bahagia. Tapi bahagianya menjadi kekhwatiran ketika ia melihat Syauqi berlari kearahnya dan tanpa disadari seorang wanita berbalut pakaian Syari menabrak kekasihnya hingga membentur batu kecil.
"Mas!!" Syadza berlari ke arah Syauqi, larinya kian melambat tapi jantungnya bedegup lebih kencang , aliran darahnya seolah mengalir begitu deras, dan tubuhnya memanas.
Ia bingung sekaligus khawatir. Wanita berbalut pakaian Syari itu kini tengah membawa kekasihnya kedalam pangkuan wanita yang tak ia ketahui.
Dan malangnya Syauqi tak lepas memandang lekat ke arah wanita itu seolah mereka benar-benar saling mengenal dan mengabaikan wanita bercadar yang memandang mereka sendu.
Mas, palingkan pandanganmu dan perhatikan hatiku... dalam hati Syadza demikian
Ia juga melihat tatapan Syauqi yang Nampak begitu aneh dan terasa panik, wajahnya semakin pucat, dahinya Nampak berkerut, apa yang tengah suaminya itu pikirkan Ketika melihat seorang Wanita yang melewatinya tadi?
Mas, aku tidak pernah melihat tatapan gundah mu itu …
** **
BERSAMBUNG