Chapter 4
** ** **
"Clar, aku kira kamu harus berhenti dari pekerjaan ini deh," perintah wanita tua yang menggenggam sejilid uang berjumlah puluhan juta.
Sementara wanita yang diketahui bernama Clara itu berlagak masa bodoh, ia sibuk menyesap rokoknya yang baru saja ia nyalakan.
"Kenapa aku harus berhenti? Duit banyak kok mau dibuang. Sayang kalee," ujar Clara terkekeh membuang asap rokok dari bibirnya yang merah pekat olehsan lip mate.
"Aku khawatir aja kalo kamu ketauan bokap,"
"Ck, mereka ngga perduli sama aku kali. Jadi santai aja,"
"Serah deh, ngingetin aja."
"Thanks Madam. You are the best pokoknya. Btw, siapa lagi malam ini? Bayarannya dulu sini,"
"Celah, giliran duit mah cepet. Dasar kingkong! Nih 15jt untuk dua jam!"
"Gileeee! Badan remek nih,"
"Bodo amat, duit gede noh,"
"Haha okeoke. Gue siap-siap dulu..."
"Good luck bebe..."
Tsania Clara, wanita berusia 22 tahun yang lebih memilih dalam lingkaran gelap.
Berjalan bak model, pakaian ketat gaya orang barat dan rambut terurai indah serta wajah yang penuh polesan membuatnya percaya diri memasuki sebuah Club malam yang dilaknat Allah, segala yang ada di dalamnya adalah haram.
"Wine satu gelas!" pesan Clara mendudukan dirinya di sebuah bar.
"Weits, tumben Clar sendirian. Ngga ada job malam ini?"
"Ada, jam dua,"
"Pantesan nongkrong disini, emang anak-anak lo udah di ajari bener,"
"Kalo belum kelar mana berani aku kesini, aneh banget deh!"
"Wadaw santai bos, gue duluan. Masih banyak pealanggan,"
Mendengarnya Clara memutar bola matanya malas,
"Emang aku ngga butuh kamu,"
"Bye Clar, semoga malam ini menyenangkan buat lo,"
"Thanks bro,"
Sepeninggalan Joseph sang barista, Clara menunduk menarik nafasnya dalam. Teprikir kalimat akhir semoga hariku menyenangkan. Ujarnya tidak mungkin, tidak akan pernah bisa. Semenjak Mamanya pergi, kehidupannya mulai tak terkendali. Papah semakin b***t, sampai-sampai ibejat punya tempat bercerita dan berakhirlah seperti saat ini.
Di tengah malam kala para pencari ridho Allah tengah bermunajat, ia tengah bermain dengan hal haram meskipun sejatinya ia tahu jika itu tidaklah benar.
Ia memang gila, benar. Tapi untuk apa ia kembali waras, karena pada asalnya tak pernah ada yang perduli perihalnya. Entah tentang hidupnya atau hatinya. Miris.
Clara bangkit setelah melirik jarum jam rupanya sudah menunjukan pukul dua kurang lima belas menit. Segera ia berjalan menuju tempatnya berkerja, tak lupa ia menggunakan parfum dengan brand terkenal itu.
Aku diam
Tuhan akan diam padaku
Aku berbicara,
Tuhan tetap diam padaku...
-Clara...
Berjalan penuh aura seperti layaknya seorang jalang papan atas Clara begitu percaya diri.
Tak ada yang tau di balik itu semua hatinya tak bergeming. Bibirnya terkatup rapat hingga tak satu katapun meluncur. Pandangannya kian tajam pada pintu di sudut ruangan yang menantinya di tertawakan gila oleh dunia. Matanya meredup penuh teka-teki bak rubik yang tak kunjung tersusun rapi.
Tapi mau bagaimana lagi, semua orang tak menatapnya kecuali jika ia menuruti kemauan Ayahnya.
Perlahan Clara menyentuh gagang pintu, ia buka dengan hati gelisah. Perasaannya tak enak seperti biasanya. Tawaran dengan jumlah uang yang tinggi dan waktu yang diminta hanya dua puluh menit membuatnya gelisah. Tak pernah ia dapatkan setengah miliar hanya dalam dua puluh menit.
Meluapkan semua itu, seketiak tubuhnya menegang. Sosok yang kini berdiri menatap bintang bari balik jendela adalah yang tak ingin ia temui selama ini. Clara sangat membenci sosoknya, tak sudi bagi matanya untuk menatap sejengkal dari tubuh lelaki tua yang menyakiti hatinya dan Ibunya.
"Ayah," lirih Clara penuh dendam. Matanya menatap tajam. Sementara sosok yang disapa ayah hanya menyeringai setelah berbalik mentap penampilan putrinya yang sudah sangat pantas di sebut jalang.
"Ck, jalang!" seru Reno pada putrinya.
"Cih!!" Clara meludah tepat di depan Ayahnya.
"Dasar anak tak tau diri! Jadi begini kelakuanmu. Hidup dengan uang haram. !! Mau mengkotori nama baik Ayah huh!" ucap Reno emosi mendekati Calra yang sudah mengepalkan tangannya kuat.
"Dan anda adalah Ayah tak tah diri. Yang mengkotori nama Ibu dengan jalang-jalang sialanmu itu!!"
Plak!
Suara tamparan terdengar memilukan.
"Tampar Clara! Jika perlu Ayah bunuh saja Clara seperti Ayah membunuh Ibu hiks..."
Tubuh sang gadis melemas, ia berlutut di depan Reno yang masih berdiri angkuh. Tangisnya sudah tak lagi terbendung.
"Aku tidak membunuh Ibumu!!" teriak Reno sembari mencengkram rahang Clara kuat hingga membekas merah di bagian pipi kanan kiri gadis redup itu.
"Hiks..."
"Dengar baik-baik. Ibumu bunuh diri karena dia gila!"
"Ibu tidak gila!!! Ayah yang gila mengkhianati ibu!" jawab Clara melepas cengkraman Reno.
"Dengar Clara, Aku datang untuk memperingatkanmu segera berhenti dari pekerjaan kotormu ini. Dan ambil ini!" Reno melemparkan cek berisikan limaratus juta di depan wajah putrinya yang menangis tersedu dan berlalu pergi.
***
Di sisi lain, sepasang kekasih tengah berdiri mengucap takbir, membaca Al-Fatiah di lanjut Surat Al-Mulk. Begitu khusyuk hingga belasan rakaat dilanjut witir. Keduanya terlarut dalam kedekatan dengan Rabbnya.
"assalamualaikum warrahmatullah..."
"assalamuaalikum warrahmatullah..."
"Alhamdulillah..."
Syauqi duduk bersila selepas salam. Duduk berdzikir sembari tersenyum karena istirnya yang sudah tidur berbalut mukena putih sembari memeluk dirinya dari belakang. Kebiasaan yang menjengkelkan sekaligus menyenangkan bagi Syauqi.
Hal yang menjengkelkan adalah istrinya tidur terlalu malam dan harus bangun lebih awal untuk mengajaknya shalat tahajud dan kini ia yang harus membangunkan istrinya sebelum pukul empat pagi, selain itu Istrinya juga melewatkan waktu berdzikir dan Murojjah. Sementara hal yang menyenangkan karena rasa cinta terhadap kekasihnya semakin membukit, ia merasa bahagia dan begitu dicinta ketika Syadza memilih tidur duduk dan memeluknya daripada berbaring di ranjang yang sudah pasti nyaman.
"Sst... Bangun,"
"Enghhh... Sudah jam empat Mas?"
"Sudah sayang..."
"Yah, kelewat lagi dzikir sama murojjahnya," kekeh Syadza melihat wajah cemberut kekasihnya itu.
"Ya sudah. Aku mandi dulu ya Mas,"
Baru berjalan lima langkah dari lemari selepas mengambil pakaian. Syauqi kembali bersuara.
"Mau mandi bareng ngga Sayang?"
Sontak Syadza mendelik dan mendecak sebal.
"Ngga mau Mas,"
"Loh kenapa, sunnah loh Sya," goda Syauqi mengkedipkan matanya. Syadza dibuat merona seketika.
"Aaaa!! Ngga mau, Mas m***m!"
Syadza bergegas lari dan mengkmesumkamar mandi sebelum Syauqi sibuk meledeknya. Benar saja, suara tawa sudah memenuhi kamarnya.
"Suami sendiri kok dibilang m***m, lucunya cintaku," teriak Syauqi sembamesumrtawa.
Sesudah membersihkan diri, ia mulai melakukna aktifitasnya sebagai seorang istri.
Masakan sudah selesai selepas Syauqi pulang dari masjid, ia segerakan bergabung dengan Syadza di ruang makan seusai mengganti pakaian.
"Makannya pelan-pelan mas..."
Tak menghiraukan ucapan Istrinya. Syauqi tetap makan dengan tergesa-gesa mengingat perjalanan ke tempat liburan mereka memakan waktu satu jam.
** ** **
BERSAMBUNG