11. Panik Nih boss

1321 Kata
"Masih mau sepeda listrik?" Agnia terjengkit saat sebelah kakinya baru saja menapaki anak tangga dan ia langsung dihadang pertanyaan lugas dari Anggara. Rupanya sebelum ia sampai dirumah, Hasya sudah mengabulkan rengekannya kemarin. Benar-benar anak yang baik. Agnia mendesah, la yang mula hendak langsung kekamar memilih berbalik turun untuk menghadapi sang suami. "Om lihat sendiri kan, Nia selalu pulang telat belakangan? Dan itu faktornya karena Nia gak punya transport pribadi!" tegas Agnia minta dipahami. Sedang Anggara langsung terkekeh mendengarnya. "Purnomo, kamu anggap apa dia selama ini? Bukannya saya sudah persilakan kalian bepergian dengannya, kemanapun dan kapanpun!" panjang lebar Anggara mempertahankan ketergantungan Agnia sepertinya. Keberadaan Purnomo sejatinya memang untuk kepentingan Agnia dan Hasya, intinya, tidak ada anggota keluarga lain yang membutuhkan pria paruh baya itu. Apalagi Anggara. "Heeh!" Agnia memutar mata malas. "Lagipula, bukannya saya udah beliin kamu sepeda?" lanjut Anggara memasukkan kedua tangan kesaku celana. "Yah sepeda..." Agnia dengan lemas menanggapi. "Pakai sepeda cuma saat car freeday, om! Masa tiap hari kekampus harus goes-goes, cape lah. Lagian-" "Yasudah, saya pikir-pikir dulu!" Sebenarnya Agnia masih ingin mengoceh, Anggara buru-buru memangkas, ia sudah membaca aura ngoceh sang istri. Yakali, Anggara kehilangan wibawa. Dengan cuek, pria itu berlalu meninggalkan sang istri kecil saat sedang gemas-gemasnya. "Suami macam apa dia!" kekakuan Anggara membuatnya tak habis pikir. Sementara itu, Anggara melengos naik tanpa peduli. "Katanya boleh minta apa saja, sekalinya minta cuma sepeda listrik, mikirnya lama banget, bilang aja pelit!" Gadis itu menggerutu seraya menghempas tubuh diatas tempat tidur, tak buang waktu ia juga bergerak melepas atribut hijab dan membiarkan rambutnya tergerai lega. "Bundaaaaa, kaka boleh tidur disini?" Baru saja Agnia selesai mandi, Hasya tiba-tiba datang memasuki kamarnya. Sebagai ibu sambung yang baik, Agnia tersenyum dan menyambut hangat anak gadis itu. "Boleh!" Beberapa saat setelahnya, Anggara keluar kamar dan berjalan menuju kamar sang putri. Ia mengetuk pintu lalu bertanya apakah gadisnya sudah tertidur atau belum, namun ia tidak mendapat jawaban. Karena penasaran, Anggara pelan-pelan memasuki kamar Hasya yang tidak terkunci, sambil memanggil-manggil namanya. Akan tetapi, ternyata tak ada siapapun dikamar itu. Kemudian, Anggara beralih mengetuk kamar Agnia yang juga tak kunjung mendapatkan jawaban. Sekali lagi, pria itu memasuki kamar yang tidak dikunci. Akhirnya Anggara bisa bernapas lega karena rupanya Hasya sedang tidur berdua dengan ibu sambungnya dalam posisi berpelukan rapat. Sekilas, melihat pelukan itu membuat Anggara teringat kembali pada almarhumah istri tercinta. Iapun menghela napas panjang, tak heran mengapa putrinya begitu menyayangi Agnia. Soal ketulusan, dialah pemenangnya. Sejurus kemudian, Anggara mengerutkan kening, tempat tidur berukuran singel itu mana mungkin bisa ditempati berdua. Anggara menyusupkan kedua tangan dipunggung dan kaki si anak gadis untuk membawanya menaruh Hasya ditempat semestinya tapi tiba-tiba pelukan Agnia makin merapat pada Caca dan sangat nyaman. Hal itu membuat Anggara tersenyum singkat, ia pandangi wajah teduh sang istri yang polos, ditambah kecantikan alami saat dilihat dalam jarak dekat membuatnya tak kuasa menahan rasa kagum. Pria itu batal mengangkat tubuh putrinya, dan memilih menaikkan selimut mereka yang mulai berantakan. Kedua ujung kaki Agnia terlihat sangat putih kemerah-merahan seperti bayi, sangat lembut dan mengkilap, tak ayal Anggara sampai mengulurkan tangan ingin menyentuh. Tapi, seketika itu pula Agnia yang dalam kondisi tak sadar malah menaikkan kaki, ia ingin menyelipkan kedua kaki indah itu masuk kedalam selimut. Anggara reflek menyelimuti ujung kaki Agnia dengan selimut. Dari ujung kaki itu perlahan Anggara menaikkan pandangan, sekujur tubuh mungil sang istri kecil hingga wajahnya makin ia pandangi dalam tatapan yang sulit diartikan. Lalu, pria itu membungkuk merapikan anak rambut yang menutupi wajah Agnia, kemudian reflek mencium keningnya dengan sayang. Dibibir, mungkin Anggara tak bersuara apapun, tapi tak ada yang tahu jika didalam hatinya justru sedang terjadi demonstrasi, keributan, ricuh dengan berbagai pendapat yang bertentangan dengan hati nurani. Tak ada suara yang berhasil menerobos keluar selain dari kata maaf yang ia bisikkan ditelinga sang istri, sangat pelan dan hampir tidak terdengar. Kata maaf karena ia merasa kasihan pada Agnia, pernikahan mereka seumpama sebuah jual beli, ia membeli masa depan gadis itu, menukar kebahagiaannya dengan egois, tanpa ada perlawanan. Agnia benar-benar sedang mengorbankan takdirnya dalam kepasrahan, sementara itu, Anggara sadar, jangankan menjadi suami idaman, menjadi teman bicarapun dirinya tidak bisa. *** "Hari ini berangkat sama Pak Purnomo lagi gapapa, kan?" tanya Anggara menghampiri meja makan yang lebih dulu ditempati Agnia dan Hasya yang sedang sarapan. Pria itu nampak tergesa-gesa dan hanya meminum kopi yang telah disiapkan Agnia sambil berdiri. "Gak papa!" begitu indah dan menenangkan ketika Anggara melihat senyum dan tatapan dari putri dan istrinya. Mereka terlihat maklum pada kesibukan Anggara. "Anak baik!" puji Anggara tersenyum gemas seraya mengelus pucuk kepala, sebelum sang putri meraih tangannya untuk bersalaman. Beralih pada Agnia yang duduk disamping Hasya, layaknya pasangan suami dan istri, gadis berhijab itu mencium punggung tangan sang suami dengan hidmat. Setelahnya, mereka bertiga berpisah demi tujuan dan kesibukan masing-masing. "Om kangeen!" Menjelang sore, Anggara bertemu dengan sugar babynya demi sekedar mengusir rasa jenuh dan melepas penat. "Serius kamu kangen?" tanya Anggara ragu. "Iya donk, eh... Aku belum lunch loh om, temenin yuk!" gaya manja tak luput dari perlakuan gadis genit itu untuk membujuk Anggara. "Masa sih, ini udah mau jam tiga!" tukas Anggara prihatin. "Makanya, temenin aku yah, habis ini kita ke mall lagi ya om, udah lama gak diajak jalan." suara mendayu Jesika memenuhi ruang mobil. Anggara tak banyak protes, selama ia ada waktu luang, kemanapun yang Jesika inginkan dirinya akan selalu menemani. "Sibuk banget tadi dikampus, jadi gak sempet makan siang, mana boring banget gada om!" "Oh ya!" Diperjalanan, Jesika terus mengoceh perihal kegiatan sehari-hari walau sebenarnya, yang ia ceritakan sangat layak disebut keluhan tak habis-habis. Membuat Anggara memijat pelipis, jujur saja, sebenarnya ia malas mendengar keluhan kali ini apalagi setelah dipikir-pikir Agnia tak pernah berkeluh kesah seperti itu padanya. Padahal, kegiatan kuliah Agnia juga tak kalah padat. "Menurut om, gimana kalau aku mau ganti mobil?" Anggara langsung mengernyit, engggg... Apa katanya tadi? ... Hey, kenapa tiba-tiba berubah jadi perkara ganti mobil? "Gimana om, boleh gak?" Jesika menggoyang lengan Anggara. "Bentar ya, nanti om pikirin!"'tukas Anggara, pria itu bergegas melajukan mobil sementara lampu jalan yang tadinya merah sudah berganti hijau. Jesika merengut, sebenarnya ia ingin terus mendesak, tapi niatnya urung karena muka Anggara dalam mode lowbat. Anggara yang ingin segera kembali kerumah mendadak mengerem mobil saat melihat sesuatu. "Liatin apasih, sampe ngerem mendadak!" Jessika bergumam lalu mengikuti arah mata Anggara. Oh tidak!! Kehadiran Agnia yang ternyata ada diseberang sana membuat Anggara tak menanggapi selingkuhannya kali ini. Ia fokus pada Agnia yang sedang duduk membaca buku dengan Tiara, saat itu juga Agnia tiba-tiba terkena lemparan botol bekas dari sekelompok pemuda yang juga sedang nongkrong disana. Anggara terlihat geram dan hampir turun, namun Agnia lebih dulu bangkit dan menghampiri para pemuda itu. Anggara makin gelisah ketika salah satu anak tongkrongan yang berwajah tampan kini bicara dengan istrinya. Tanpa memikirkan tentang keberadaan Jesika, iapun nekat memutar arah dan melajukan mobilnya menuju taman, walaupun harus kembali tertahan dilampu merah beberapa saat. "Om, bukannya kita mau ke restoran?" Jesika tentu kebingungan pada reaksi Anggara. "Iya bentar, om ada perlu." jelas Anggara singkat. Tapi, sesampainya dilokasi Anggara malah tidak menemukan segerombol pemuda itu lagi, sedangkan kedua Agnia dan Tiara juga sudah nampak tenang, mereka kembali membaca buku seolah tidak terjadi apa-apa. "Om mau kemana sih?" tanya Jesika ikut resah. Mengingat keadaannya yang sedang bersama selingkuhan, harusnya Anggara berpikir dua kali untuk menghampiri sang istri, kehadiran Jesika sangat berpotensi membuat kacau hubungannya, apalagi ancaman Agnia tidak bisa dianggap remeh. "Gak jadi! yuk!" dengan sikap yang masih misterius, Anggara melanjutkan rencana bersama Jesika. "Assalamualaikum, bi bukain pagar, tumben banget dikunci!" Agnia pulang jam lima sore, biasanya ia bisa leluasa keluar masuk tanpa harus menghubungi seseorang didalam rumah, tapi kali ini Aggara yang ternyata sudah pulang lebih dulu malah mengunci rapat pagar rumah itu dari dalam. "Biar saya aja bi!" Anggara menahan langkah bi Ita. "Baik Tuan!" Anggara pun berjalan keluar rumah dan membukakan pintu pagarnya sendiri tanpa menyuruh siapapun. Cekrek Tek tek teng Pagar besi yang tinggi menjulang itu akhirnya terbuka memperlihatkan wajah Anggara yang mungkin sedang badmood. "Om!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN