12. Permintaan

1026 Kata
Sepulang dari kampus, istri kecil Anggara tak langsung masuk kedalam rumah. Haahhh... Ia malah terduduk murung digazebo pekarangan sambil menghadap ke arah bagasi. Tadinya, ia sudah semangat pulang setelah mendapat chat dari Caca karena akan ada kejutan hari ulangtahun. Alih-alih mendapatkan sepeda listrik yang diinginkan, gadis itu malah menerima satu unit mobil yang bahkan sudah terparkir anggun didepan kediaman mereka. "Pokoknya gak mau mobil, saya maunya sepeda listrik!" sentak Agnia melakukan aksi protes karena tanpa sepengetahuannya Anggara malah mendatangkan mobil mewah berwarna kuning cerah untuk hadiah. "Dasar aneh! Dimana-mana orang kalau dikasi mobil itu seneng, bukannya tantrum!" "Ya kan, om tau sendiri aku mana bisa nyetir?" balas Agnia gemas. "Saya yang ajarin!" putus Anggara. "Napa sih om, maksa banget, saya tu gak mau!" Agnia makin terlihat frustasi. "Iya tapi kenapa? Bukannya akan lebih mudah kalau kamu pakai mobil, bisa anter jemput Caca dengan aman, kamu bisa mandiri!" Anggara turut bersikeras. "Kalau om fokusnya ke Caca, yaudah kasiin Caca aja. Kenapa harus maksa Nia!" habis sudah kesabaran gadis itu. "Saya bukan fokus ke Caca, dia belum pantes, saya cuma pengen kebaikan kamu, saya gak mau kamu kenapa-napa dijalan, setidaknya kalau kamu pakai mobil, gak ada orang yang gangguin kamu sembarangan, kalau hujan gak basah, kalau panas kamu gak kering. Gitu aja kamu gak ngerti!" Anggara mengusap wajahnya kasar. Semetara sang istri kecil mendadak ngelag dan bungkam juga dibalas Anggara yang turut mengerjap kikuk saat Agnia memandangnya dalam. Degh... "Ka-karena biar gimanapun, kamu tanggung jawab saya, ibu sambung kesayangan Caca!" lanjut Anggara melembut. Agnia tersandar, mencoba melegakan dadanya yang sempat sesak atas pernyataan Anggara namun ia masih belum bisa bicara. Keduanya sama-sama berusaha menguasai diri dari emosi sesaat. Agnia memajukan bibir, menatap Anggara yang ternyata cukup perhatian, jujur saja, ia merasa lega setidaknya sang suami bisa sedikit peduli. Akan tetapi, ia tahu, tak mudah bagi pria itu untuk menerima kehadirannya, begitu pula dengan dirinya sendiri, mana mungkin ia luluh pada ucapan Anggara yang masih berada dalam konteks wajar. "Kalau masih gamau, yasudah berarti kalian tetep diantar jemput pak Purnomo." putus Anggara pasrah. "Gak mau, mending naik taksi!" sahut Agnia menolak tegas. Keduanya kembali terdiam dalam pikiran masing-masing. "Om!" panggil Agnia pelan, dibalas Anggara yang langsung menoleh walau belum ada kata lanjutan setelah panggilan itu. "Nia gak bermaksud untuk tidak menghargai pemberian Om, hanya saja ... Nia pengen jalanin hidup selayaknya seorang mahasiswa." gadis itu menjeda kalimatnya, mengambil napas sambil menyusun kata. Anggarapun memilih fokus jadi pendengar. "Nia masih anak kuliahan, om! Rasanya kurang pantas kalau anak kuliah pakai mobil semewah itu, sedangkan semua temen-temen dikampus tau siapa Nia." pelan-pelan Agnia mulai memberikan pemahaman. Meski cukup lama terdiam, namun Anggara akhirnya mengangguk mengerti dan mulai kembali bicara. "Saya hanya ingin menghargai jasa-jasa kamu selama dua tahun menemani kami berdua, kamu merawat putri saya, memberikan kasih sayang sepenuh hati, tidak cepat marah walau anak saya sering nyusahin kamu, ganggu belajar kamu. Menurut saya, apa salahnya kalau memberikan sedikit reward. Apalagi selama ini, kamu gak pernah minta apapun ke saya. Saya beranggapan kalau sampai detik ini, kamu masih menganggap kami berdua orang lain." ucap Anggara panjang lebar yang keluar begitu saja, tanpa direncanakan. "Om... Saya akan jelasin sekali ini saja, bahwa kasih sayang yang saya berikan pada Caca itu tulus, gak ada sedikitpun mengharap imbalan dari om." kata Agnia bersungguh-sungguh. "Kalaupun saya ingin sesuatu, saya akan berusaha untuk meraihnya sendiri, saya masih bisa jualan, bukan karena om gak berguna, tapi memang kebutuhan saya hanya sebatas barang-barang biasa, yang saya rasa masih bisa diupayakan sendiri, tanpa harus nyusahin om." Sekali lagi, Anggara mengangguk-angguk mengerti walau sebenarnya ia masih tidak terima. "Kalau Om mau melakukan sesuatu untuk Nia, cukup hargai dan jaga privasi kita berdua!" permintaan Agnia memancing Anggara untuk melihatnya dengan tatapan sendu. "Jangan samain saya dengan ibu-ibu sosialita ya om! Nia bukan nyonya Direktur yang menyukai barang-barang mahal, berlian, tas branded, Iphone, itu semua Nia gak butuh!" pungkasnya untuk terakhir kali. "Gak ada siapapun yang bakal menilai kamu seperti itu?" Anggara tak sependapat. "Berarti udah bagus, kan, Nia cuma minta sepeda listrik?" sindir Agnia menyenggol bahu Anggara, sebab pria itu duduk tepat disampingnya. "Ya asal kamu bahagia!" balas Anggara memutar matanya malas "Kalau om gabisa beliin, kayaknya Nia mau ajuin pakai paylater deh, kali aja di Acc." "Eh gak perlu!" "Kenapa?" "Nanti saya yang beliin! Syaratnya, saya sendiri yang ngetes cara kamu berkendara, biar gak ngerepotin pengguna jalan lain." "Hmm males banget! emangnya Nia emak-emak pasar!" "Ya kan biasanya ras terkuat kelakuannya gitu, mentang-mentang dan seenaknya gunain jalan, dipikir jalanan cuma punya dia, kesenggol dikit langsung ngomel nyalahin orang!" gerutu Anggara menyinggung pengendara sepeda listrik menyebalkan yang biasa ia temui dijalanan." "Om tenang aja, Nia gak bakal gitu kok!" "Apapun alasannya, tetep saya yang akan tes kelayakan kamu." "Om apaan sih!" "Bundaa... Papa...!! Cie berduaan!" Caca tiba-tiba keluar rumah dan turut bergabung. "Sini deh Ca, papa kamu nyebelin banget tauk!" adu Agnia dengan nada berayun manja. Pasangan suami istri ubsurd itu sudah kembali kesetelan pabrik yang sehari-hari selalu berdebat random dan jarang sependapat. "Masa sih, emang papa ngapain?" tanya Caca menodong Anggara. "Papa nggak ngapa-ngapain, dasar bunda aja tuh aneeh!" ketus Anggara. "Dih!" Agnia balas mencebik dan memainkan bibirnya mengejek sang suami. Caca yang sudah biasa melihat ekspreasi keduanya terus tersenyum dan menikmati pertengkaran seperti sedang menonton film komedi. "Oh ya bunda, gimana surprice nya, seneng gak?" Agnia langsung terdiam kikuk, ia belum mempersiapkan jawaban agar gadis itu tidak tersinggung. "Bye the way, warnanya Caca yang pilihin loh, bunda suka?" Agnia makin dibuat gelagapan, saat baru tahu fakta tersebut, dan membuatnya makin terjebak. "Beneran?" tanya Agnia seolah sangat antusias. "Iya donk," "Tapi bundanya ngeyel, masih mau sepeda listrik!" Anggara lah yang membeberkan semua itu. "Mas..." tegur Agnia. Faktanya lagi, cuma didepan Caca ia memanggil Anggara dengan sebutan mas. "Enggak kok ka' bunda suka banget warna kuning!" ia berusaha meralat ucapan Anggara. "Kalau gitu, besok kita jalan-jalan bareng, gimana?" usul Caca bersemangat. "Tapi bunda...!" Agnia menggantung kalimat, serta memamerkan wajah sendu. "Atau kalian mau jalan berduaan? wah Caca gak akan marah kok, malah Caca seneng." cetus Hasya walau keduanya belum mengucapkan apa-apa. Tentu, ucapan Caca membuat Agnia dan Anggara makin gelagapan. "Yaudah, kalau bunda suka sama hadiah dari papa, peluk donk papanya!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN