13. Hadiah

1051 Kata
Agnia berjalan pelan menaiki anak tangga menuju kamar. Sambil memegang paper bag berwarna coklat, ia tersenyum tipis. Rasa bahagia menyelimuti entah darimana datangnya, tubuhnya seakan baru saja menerima pelukan hangat seorang ayah yang selama ini sekalipun tak pernah dirasa. Setidaknya Anggara bisa melegakan dahaganya, rasa haus akan kasih sayang dari orangtua. Tinggal bersama pria yang tak pernah menuntut, memberikan kebebasan dalam belajar dan bergaul, serta keberadaan putri yang lebih dari sekedar teman, membuat Agnia merasa cukup bersyukur. Meski takdirnya bukan menjadi gadis muda yang bebas untuk menyukai laki-laki, paling tidak ia tak lagi hidup dalam bayang-bayang ketergantungan, dan selalu dalam tekanan seperti saat dalam asuhan orangtua angkat. Satu pelukan yang Anggara berikan dihari ulangtahun, seketika membuat gadis itu termenung, rasanya bercampur aduk, antara gugup, bahagia dan lega. Ia menghempas tubuh disisi tempat tidur, lalu membuka paperbag pemberian sang putri. Berupa sebuah jam tangan digital yang melambangkan rasa syukur atas kehadiran dirinya dikeluarga mereka. Sang putri kemudian memeluknya erat disertai kalimat terimakasih yang cukup panjang. Tanpa terasa, Agnia menitikkan air mata mengingat semuanya. "Bunda kok nangis?" entah sejak kapan gadis itu memperhatikannya, yang jelas Hasya sudah bertanya saat berdiri diambang pintu. "Kaka...!" Agnia sempat terkaget. "Sini deh!" panggilnya meminta sang putri sambung segera duduk disamping. Namun bukannya duduk, Hasya malah berlari dan kembali menerjang Agnia dan memberikan pelukan. "Kenapa nangis, bunda gak suka sama hadiah dari Kaka?" remaja itu hampir ikut menangis. "Kok kaka mikirnya gitu?" "Soalnya tadi-" "Enggak, cuma kangen orangtua bunda." Agnia berusaha tersenyum sembari mengusap air matanya. "Orangtua bunda udah lama meninggal?" Hasya mulai penasaran sebab selama ini Agnia tak pernah terlihat sedih. "Lama banget, sejak bunda masih bayi, makanya bunda gak pernah liat dan ingat apapun tentang mereka." tutur Agnia dengan suara bergetar pelan dan hampir habis. Hasya ikut terbayang derita sang ibu sambil menatap Agnia penuh keprihatinan. "Berarti-" "Kaka lebih beruntung dari bunda, kaka masih punya foto mama, bahkan masih punya papa yang sangat sayang sama kaka!" sanggah Agnia menyadari sang putri sedang membandingkan kisah hidup mereka. "Hemm, dan Caca makin beruntung karena punya bunda!" sambungnya berwajah sendu. Agnia mengangguk mengiyakan, tanpa bisa bicara lagi, iapun kembali memeluk Hasya lebih erat, membenamkan kepala diceruk leher gadis muda itu sembari memendam sesegukan yang sebenarnya tak perlu disembunyikan lagi. "Caca sama papa akan selalu temenin bunda, kita akan terus sama-sama, terimakasih sudah hadir didunia ini ya, bunda!" sang putri berbisik dalam keharuan. Kedua tangannya sibuk mengelus punggung ibu sambungnya. Tanpa ada yang menyadari, diantara suasana mengharu biru dikamar Agnia, rupanya dibalik celah pintu, ada Anggara yang juga sedang menahan gejolak hati. Ya... hati seorang ayah mana yang tidak ikut memendam duka ketika putri semata wayangnya bersedih dan meratapi takdir dalam pelukan oranglain, dua gadis muda yang terpaksa menjadi dewasa diusia belia, dikala teman-teman seumuran sedang asik menikmati masa remaja, keduanya malah sudah merasakan beban kerinduan yang mendalam, kehilangan sosok orang tercinta saat masih butuh-butuhnya. Sungguh bukan perkara mudah, keduanya harus dipaksa mengerti dan berdamai takdir mereka. Namun, dibalik itu semua, Anggara mulai mengerti mengapa Agnia menjadi sangat tangguh, dan secara tak langsung wanita tangguh itu sedang melatih sang putri untuk jadi sosok yang sama kuat. Sebab, siapapun tidak ada yang tahu, bagaimana jalan kehidupan membawa takdir mereka kedepannya. Keesokan hari, dimulai dengan kesibukan seperti biasa. Agnia sedang berada didapur membuatkan sandwich kesukaan Hasya. Akan tetapi saat sarapan telah siap, malah Anggara dan putrinya yang tak kunjung datang ke meja makan. Iapun berusaha memanggil tapi gadis itu selalu berulang kali mendengar suara berisik mirip suara klakson dari pekarangan. "K....:" Barusan Agnia ingin membuka mulut, bunyi klakson itu lebih dulu menyela. "Ka..." panggilnya sekali lagi, dan lagi suara bising tersebut kembali mendahului. "Astaga siapa sih itu, tukang s**u, tukang koran, atau tukang kopi keliling? kurang kerjaan banget, kayaknya perlu dikasi paham!" gerutu Agnia berjalan keluar dengan langkah tegas bercampur wajah gemas. Sebelum melabrak ia bahkan sudah menggulung lengan bajunya yang panjang demi keleluasaan. Pas banget, udah lama gak cakar orang. Tapi, pas pintu dibuka. Uuuuu... silau dan menyala. Tuwiew... wiew wieet... Tuwiew... wiew wieet... Agnia melotot, rupanya pagi-pagi begini si bapak sama anak malah nongkrong didepan rumah, dan dengan songongnya memasang senyuman tak bersalah. Dan eh, demi apa? Tetiba ada sepeda listrik nangkring anggun disamping mereka. "Good morning Bunda!" Sebuah sapaan riang dari sang putri sambung, pagi itu suasana cerah ceria seperti halnya warna kuning terang sepeda listrik yang ada dihadapan. Gadis itu memandang heran kearah benda yang diimpikan sambil melangkah pelan mendekati Anggara. "Ngapain kalian disini?" ucapnya terbata tanpa mampu mengalihkan pandangan. "Bagus tidak?" seakan tidak punya waktu menjawab pertanyaan Agnia, Anggara langsung melempar pertanyaan. "B'bagus, punya siapa?" Agnia masih terperangah. "Punya kamu!" "Hah???" gadis itu langsung menoleh heran kearah sang suami. "Iya, kenapa? udah gak mau? Ngambek?" Anggara bersedekap. "Eh enggak...!!" "Tapi serius ini buat Nia?" tambahnya memastikan. "Yaudah kalo gak percaya, kita balikin aja ke tokonya, mumpung masih pagi." Anggara mengancam dalam mode bercanda. "Eh jangan om!" upps Berhubung disana masih ada Hasya, Agnia meralat ucapannya, panggilan Om tidak pantas dijadikan contoh sebagai panggilan kepada suami. Apalagi semuda-mudanya sang putri sambung, ia telah mengerti artinya pernikahan. Sedangkan perkara mereka berbeda kamar saja, Hasya sudah mulai banyak bertanya. "Bunda suka gak?" Untungnya, gadis itu tidak mempermasalahkan ucapan Agnia barusan. "Emesh banget!" seru Agnia takjub, apalagi warna kuning cerah adalah warna kesukaan. "Bunda bisa berangkat kuliah pakai ini?" tambah Hasya bersemangat. Sebuah kejutan yang tidak disangka-sangka. Pikirnya, setelah Anggara menguras uang banyak untuk membeli mobil yang malah ditolak, sang suami tidak akan sudi berbaik hati mengabulkan keinginannya, akan tetapi Anggara begitu baik kali ini. Sambil berbinar memandang sepeda listrik yang sudah diatasnamakan miliknya, Agnia beralih menatap Anggara. Sebagai bentuk rasa haru dan bahagia, ia reflek menerjang pria itu dan memeluk erat sampai Anggara sedikit terhunyung kebelakang. Apalagi, dalam kondisi yang tidak siap, pelukan tak terduga dari Agnia membuat pria itu merasa tubuhnya seperti tersengat listrik. "Makasih paksu yang baik hati, suka menolong dan tidak sombong, semoga baiknya keterusan, gak kadang-kadang lagi." Agnia cerocos dibahu kiri Anggara, ingin menggapai arah telinga tapi tinggi badannya kalah jauh. Sementara Hasya cekikikan mendengar kalimat ibu sambungnya, wajah Anggara kini malah berubah jengkel, ia yang tadinya sempat salah tingkah kini hanya bisa memutar matanya malas . "Tapi peraturannya, kamu tetep kekampus bareng Caca dan pak Purnomo atau sama saya." ucapan Anggara sontak membuat Agnia mengerutkan kening dan melepas pelukan dengan kasar. "Loh... loh ... loh?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN