14. Sipaling Hati Malaikat

1207 Kata
[Om, kesini deh!] [Ngapain? Saya masih dikantor] [Masa sih, gak kangen sama aku?] [Kangen berat donk beb,] [Makanya sini ketemuan] [Bentar, om kelarin kerjaan dulu] [Ok deh om, see u... emmmuachh] Anggara tersenyum tipis disela-sela akhir meeting, setelah menyempatkan diri berbalas pesan secara diam-diam dengan Jesika. Pria itu kemudian menutup sesi pertemuan dengan hasil yang cukup memuaskan, ia juga sukses mendapatkan sorak san tepukan dari mereka yang hadir dimeja rapat. Selama satu jam ia melanjutkan pekerjaan dan berkutat di depan laptop, hingga menuntaskan kegiatan menjelang sore hari. [Masih lama?] Jesika menyelipkan emot boring diakhir ketikan. [Ini, udah] Balas Anggara sembari berjalan menuju lift. [Yeiy, akhirnya kita jadi nonton] [What, nonton bioskop?] [Iya om, temenin aku nonton ya, ada film bagus nih] Anggara menghela napas, lalu menghembuskannya kasar kemudian kembali mengetik pesan. [Yaudah, tunggu ditempat biasa!] *** Duuaarrr "Eh kecolok, kecolok!!" "Astaga Tiara!" Agnia mengumpat sebal, sebab sang sahabat baru saja mengagetkannya. "Bwahahaha... lagian lu ngapain ngelamun?" Tiara mengambil posisi duduk disamping Agnia. Ia mengerutkan kening melihat benda ditangan Agnia. "Eh, kunci apa nih?" Tiara merebut benda yang sedang dilempar keatas berulang-ulang oleh Agnia. Sungguh teman vakyu, yang gak punya basa-basi. "Eh balikin gak!" "Weeh, kunci motor nih, elu dibeliin siapa?" keluar sudah jiwa kekepoan Tiara, apalagi setahunya Agnia jarang jualan akhir-akhir ini, otomatis ia belum punya cukup tabungan untuk membeli benda berbudjed itu. "Ini bukan kunci motor!" kesah Agnia sembari ingin merebut kembali miliknya. Tiara mengamati kunci model remot ditangan. "Cie... udah bisa beli sepeda listrik!" seru Tiara bangga dan ikut bahagia. Setahunya, Agnia memang sedang gencar mengumpulkan pundi-pundi untuk impiannya itu. "Si jalu udah berhasil nafkahin lu?" Bacot Tiara sesuka hati, Agnia mendelik kanan kiri, takut ada yang dengar dan berpikir yang tidak-tidak mengenai sebutan Jalu yang sesungguhnya hanyalah celengan berbentuk ayam. "Bukan ih, balikin gak!" Kesal sekali Agnia, meski sudah dibentak Tiara tetap usil. "Bukan ya, trus ini pibesday dari siapa?" Makin kepo temannya itu. Karena setahunya juga, Agnia jauh dari keluarga, sekalipun ada tapi hubungannya tidak terlalu dekat dan jarang berkomunikasi. "Siniin!" Bodo amat, gak penting pertanyaan Tiara, pokoknya Agnia cuma mau kunci sepeda listriknya kembali. "Kalo jalu lu masih utuh, berarti hari ini kita juga bisa ditraktir makan-makan donk." usilnya lagi, Tiara malah menuntut makin jauh. Menyetel volume suara seperti toa lagi demonstrasi, ia berdiri dikursi dan memberikan pengumuman. "Woii epribadeh, temen kita hari ini ulang tahun nih !!! By the way, khusus hari ini, jam ini, semua pesenan kalian bakalan dibayarin sama dia. Makan aja sepuasnya Gratis... tis... tis!" Mendengar seruan Tiara, manusia mana yang tidak panjang telinga. Otomatis, rekan-rekan mahasiswa dan siswi datang berduyun-duyun memenuhi kantin untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan. "Ra... lu kebangetan, gue harus bayar semuanya pakai apa?" sentak Agnia meringis setelah kunci sepedanya berhasil berpindah tangan. "Sijalu kan gacor, lagipula sepeda listriknya udah kebeli, kan!" "Sialan lu, mana sekarang gua cuma punya empat puluh ribu!" "Seriusan?" Mendengar itu Tiara ikut panik. "Makanya, sebelum ngomong mikir dulu!" Agnia mendengkus. Nasi sudah jadi piring kosong ditangan para mahasiswa yang haus traktiran, mereka pun mulai menghampiri Agnia satu persatu sembari mengucapkan kata selamat serta terimakasih bergantian. "Duh, gimana dong!" disebelah Agnia yang dihujani doa-doa, Tiara sibuk memikirkan solusi. "Kabur yuk!" selingan disaat suasana lengang, ia berbisik. "Gila lu!" Jelas Agnia yang berhati malaikat langsung protes. "Udah deh ah, tibang kita disuruh cuci piring, kesian tangan gue." bujuk Tiara akibat frustasi, sebab meski ia telah menunjuk Agnia, tetap saja ia akan dibawa-bawa dan dituntut bertanggung jawab atas pengumuman tersebut. "Gamau!" Agnia ragu. "Emang lu mau kita ..." ucapan Tiara segera dipangkas Agnia. "Oke, kita cabut sekarang tapi besok kesini lagi buat nyelesein masalah! "Yaudah, ayok!" berhubung para pelayan dikantin sibuk melayani pelanggan, alangkah baiknya mereka tidak membuang waktu, meskipun itu adalah niat tercela. Kata aku mah, mending tinggalin aja temen sesat macam Tiara. "Dalam hitungan ketiga, kita cabut okeh!" sang sahabat memegang tangan Agnia dan mulai menghitung. "Satu!" "Dua!" "Tiii..." Lagi fokus-fokusnya untuk melarikan diri, tiba-tiba mereka dihadang sesosok pria dengan tubuh tegap athletis dan menjulang tinggi didepan. Horor gak tuh! Bersama-sama, dua gadis itu mendongakkan kepala. Alhasil, senyuman Dokter Aarav yang mereka lihat. "Mau lari kemana?" tanya pria itu sambil bersedekap. Ternyata, ditengah ramainya kantin sore itu, tak ada yang menyadari jika ada seorang Aarav yang sedang duduk diujung kantin. "Mampus!" Tiara bergumam tanpa suara dengan mata terbuka lebar. "Dengar semuanya, kalian gak perlu kasi selamat sama... Nia!" "Karena yang berulang tahun sebenarnya adalah Tiara." sambungnya. Bak devinisi senjata makan tuan, tanpa ada siapapun yang meminta, Aarav tiba-tiba memberi pengumuman palsu. Hingga keadaan makin kacau karena sekarang malah Tiara yang jadi incaran teman-temannya. "Maaf ya Ra, kita ada kado, coba elu umumin dari kemarin." rekan mahasiswi berbasa-basi. Sementara pengalihan itu, Aarav spontan menarik pergelangan Agnia yang tertutup kain hingga berhasil keluar kantin menuju parkiran para dosen tanpa ada yang menyadari kebersamaan mereka. "Pak, Tiara gimana?" Suaranya ngos-ngosan setelah berhenti berlari bersama Aarav, karena Agnia anak baik, tentu ia tega harus menumbalkan sahabatnya sendiri. "Aman kok!" kata Aarav tanpa merasa bersalah. "Tapi kasian Tiara, pak! Dia juga gak punya banyak uang." "Biarin aja, bukannya keterlaluan sama kamu!" komentar Aarav sok tahu. "Pak saya balik kedalam ya!" Sesutra itu hati Agnia "Eh jangan! Kamu ikut saya, anggap saja sekarang saya sedang nagih utang yang kemarin. Tapi bayarannya, cuma dua jam." "Apahh!" gadis itu terpekik. "Jangan buat saya mikir yang iya-iya loh pak!" tuntut Agnia sedikit khawatir. Namun, Aarav malah tertawa gelak dan meyakinkannya bahwa ia tidak akan macam-macam. Karena alasan dan bujukan Aarav terlalu kuat untuk ditentang, Agnia terpaksa mengiyakan dan ikut masuk kedalam mobil pria berkharisma itu. "Wkwkwkwkwkwkwwk... Serius, udah dibayarin sama bapak?" tanya Agnia yang akhirnya dibarengi dengan tawa renyah setelah tahu jika Aarav sengaja mengerjai Tiara hanya demi menculik dirinya. "Emang muka saya ada tampang penipu? hemm!" walau dengan suara bariton, tapi pria itu berusaha meniru gaya Agnia diawal keakraban mereka. "Enggak sih, cuma gak nyangka aja bapak bisa segitunya!" Agnia masih terkekeh geli. "Apasih yang enggak, buat ngasi kejutan buat yang lagi ulang tahun!" seru Aarav walau tatapannya fokus ke arah jalanan sambil mengemudi. Blush Duh, andai poliandri gak dosa, gemes banget mau seret pak dokter ke KUA. Sayangnya... Agnia terdiam dengan wajah memerah. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa haru, ketika menyadari ternyata ada orang lain juga yang peduli padanya. "Eh, kok malah diam, ada yang salah sama ucapan saya?" Aarav tentu panik dengan perubahan sikap Agnia. "Eng-enggak kok pak, saya cuma kaget, ternyata bapak sepeduli itu sama saya, padahal kita baru kenal." ungkap gadis itu dengan suara pelan dan kepala yang tertunduk. "Gausah bingung gitu, saya melihat banyak hal positif yang ada dalam diri kamu yang pantas untuk dipedulikan. Bukan dari sekedar ucapan selamat." kata-kata Aarav begitu syahdu terdengar. Kan, ngena banget sipanah cupid. Agnia menatap sendu sisi kiri wajah pria berumur itu, tatapannya penuh arti. Tanpa disadari, mobil yang dikemudikan Aarav sudah berhenti disebuah parkiran gedung besar yang bertingkat. "Ki-kita mau ngapain, Pak?" Agnia berpikir saat ini Aarav mengajaknya kesebuah bangunan apartemen. "Emang kamu gak liat didepan tadi? ada film bagus yang sedang tayang, kamu mau kan temenin saya nonton?" Aarav pun memperlihatkan dua tiket bioskop yang sempat dipesan secara online, dan itu membuat Agnia menghela napas lega dan menyadari jika mereka kini sedang berada diparkiran gedung pusat perbelanjaan, yang mana terdapat sebuah ruang bioskop di puncaknya. "Oh..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN