15. Rayuan maut

1052 Kata
"Aura petantang petentengnya kuat banget ya pak!" sambil tertawa-tawa Agnia berbisik ditelinga Aarav mengomentari karakter pemeran utama wanita yang menurutnya cukup unik di film yang sedang mereka tonton. "Bisa aja!" balas Aarav ikut tertawa kecil seraya mengangguk-angguk. Keduanya kembali menatap lurus ke layar lebar sembari memasukkan butiran popcorn putih kemulut, kembali melanjutkan tontonan yang sudah sampai dipertengahan cerita. "Pak!" panggil Agnia menoleh. "Hem!" sahut Aarav balas melihat kearahnya. "Rekomendasi filmnya kok bisa sekeren ini, jadi penasaran tahun lahiran si bapak?" gurau Agnia kembali berbisik. Aarav langsung mengerutkan kening, "Ini kenapa tiba-tiba banget nanyain umur?" "Hehe enggak, penasaran aja, jangan-jangan bapak masih golongan gen-z." canda Agnia makin menjadi membuat Aarav makin terkekeh malu-malu. "Ya enggak lah, saya lahiran 85!" beritahu Aarav tanpa berpura-pura. "Oh ya?" tanggap Agnia nampak tak percaya. "Haha... iya." sambung Aarav. "Wow, tapi keliatan masih muda untuk digoda!" Agnia melirik ekspresif. "Tentu saja!" Aarav mulai sombong, namun ia pantas memiliki kepercayaan diri yang tinggi itu sebab fisiknya pun masih oke bahkan nampak seperti sepuluh tahun lebih muda. Gurauan keduanya terhenti saat terjadi adegan yang cukup menegangkan didepan sana mengalihkan perhatian. Sementara itu, sepasang sejoli yang juga beda usia terlihat baru saja memasuki ruangan, sambil mengenakan kacamata hitam, keduanya nampak mengisi bangku kosong di belakang yang terhalang satu ruas bangku orang lain dari tempat duduk Agnia bersama Aarav. "Tuh kan om, jauh banget ketinggalan!" Jesika baru sampai, tapi sudah seberisik itu. Perkaranya, ia tertinggal alur cerita beberapa menit gara-gara Anggara. Tidak hanya mengganggu penonton lain disamping, gerutuan Jesika juga sampai ketelinga Agnia. "Sorry deh, om janji nanti kita nonton lagi dari awal." ucap pria itu membujuk. Walau suaranya pelan, namun rayuan Anggara pun tak kalah mengganggu. Terlebih Agnia mendadak fokus pada suara itu sebab sangat mirip dengan pemilik nomor kontak yang diberi nama Polisi Bombay pada ponselnya. Daripada penasaran, lebih baik Agnia melihatnya. Akan tetapi, belum sempat ia menoleh bahunya lebih dulu dikejutkan oleh tekanan jari besar Aarav yang menahan, hingga gadis itu malah menoleh pada sang dokter. "Kalau boleh tahu, kamu sendiri lahiran tahun berapa?" tanya Aarav ikut penasaran. "Emm... " sembari bergumam menuntaskan kunyahan popcorn, Agnia berisyarat agar Aarav mendekatkan telinganya. Kalau mau tahu, Aarav harus ikut instruksi Agnia, lalu gadis itu benar-benar berbisik setelah Aarav rela sedikit menundukkan kepala. "Oh, ternyata kamu terlalu baby untuk dinafkahi!" seru Aarav terlihat takjub, walau sebenarnya ia sudah bisa menebak usia gadis itu sejak awal. "Pak...!" Kata-kata Aarav terlalu menggemaskan kalau hanya ditanggapi dengan senyuman, tepok bahunya dikit gak masalah. Bibir Agnia sedikit maju. "Loh, gada yang salah kan? The real gen-z." seru Aarav terkekeh. "Iya sih, sweet banget ya pak, kek Om sama ponakan pas kita lagi jalan berdua gini." seru Agnia merasa sedang bermanja dengan pamannya sendiri. "Nah itu!" Aarav mengacung jempol, setuju. Hangout bareng om-om tak masalah baginya, go publik juga dont worry selagi mereka sama-sama nyaman. Lagipula tidak ada yang aneh, hubungan mereka masih dalam batas pertemanan yang wajar. Lain hal jika pertemanan itu terjadi dilingkungan kampus, bisa jadi simpang siur. Lagi, mereka sudah kompak untuk tidak terlalu akrab, simple saja keduanya memang otomatis menyimpan rasa canggung masing-masing. "Kalo boleh tau, ngapain bapak tadi dikampus?" tanya Agnia mengingat sebab sang dokter sampai akhirnya terlibat dalam momen ulangtahunnya. Tanpa banyak drama, Aarav pun memberitahu keperluannya berada disana hingga tanpa sengaja bertemu lagi dengan Agnia dimomen spesial tersebut. Obrolan berlanjut makin hangat dan seru, mengiringi adegan demi adegan dilayar sana membawa mereka ke titik ending cerita yang plot twist. Berbeda dengan Agnia dan Aarav yang nampak menikmati moment nobar, Anggara dan Jesika yang ternyata duduk dibelakangnya nampak sedang tidak baik-baik saja, terlihat dari raut wajah Jesika yang nampak ditekuk, serta Anggara yang terus memegang pelipis frustasi dan saling diam seribu bahasa. Sampai-sampai Anggara tidak menyadari bahwa dua orang yang duduk didepan sana adalah istri dan teman karibnya sendiri. Daripada menanggapi ambekan sang sugar baby, Anggara memilih sibuk dengan ponsel ditangan tanpa menikmati film sama sekali, apalagi gendre romance komedi dicampur action yang dibintangi sederet artis muda itu tak sesuai dengan seleranya. Perkara Jesika yang merajuk, pasti bisa terselesaikan dengan hadiah, maka itu Anggara tak terlalu ambil pusing. Ditambah lagi, urusan bisnisnya tentu lebih penting dari rengekan Jesika. "Om, filmnya belum selesai, kok kita keluar duluan!" protes Jesika lagi, padahal ia sedang tegang menunggu detik-detik terakhir penutupan cerita film, tapi ia terpaksa mengikuti Anggara yang tiba-tiba menarik tangannya. "Kita harus keluar sebelum lampunya nyala, saya gak mau kita ketemu lagi sama teman-teman kamu!" ucap pria itu tegas. "Om, yang kemarin itu gak sengaja, masa sih kebetulan terus!" Jesika menggerutu sebal, ia tak setuju dengan pemikiran Anggara. "Saya juga gak mau siapapun ngeliatin kita." rupanya tatapan sinis dan mode julid orang-orang sekitar sukses membuat Anggara risih. "Ya tapi kan...!" "Gausah berisik bisa gak?" seorang yang mereka lewati ternyata langsung mengultimatum, karena tentu perdebatan keduanya menganggu keseruan orang lain yang ingin menikmati hingga akhir cerita. Terpaksa, Jesika ikut keluar mengikuti Anggara dengan wajah masam. "Udah datangnya telat, gak tau ending, mendingan gausah nonton aja sekalian!" Jesika makin menggerutu tak kenal tempat. Gadis itu sangat kecewa dengan momen yang diciptakan Anggara. "Nanti kita nonton secara privat aja, bisa kok saya booking satu bioskop lain kali." tawar Anggara. "Gak seru! Nonton aja sendiri, saya mau pulang!" ia semakin merajuk. "Hey, hey baby jangan gitu donk, masa kalah sama anak om." Anggara mengejar Jesika yang berjalan cepat. Pria itu sadar betul, kelakuan Jesika sangat berbeda dengan sikap putrinya yang cukup bijak dan tidak merepotkan padahal Hasya masih SD, semua itu tak luput dari panduan kedewasaan tulus yang diajarkan Agnia. "Apa? ... Jangan samain aku dengan bocah SD ya, Om?" Hardik Jesika tak terima. Mereka berangsur turun melewati beberapa toko pakaian, dan ketika Anggara melihat selembar lingerie yang menurutnya cocok dengan si sugar baby, iapun bergerak cepat untuk membelinya. Sementara itu, ia tak menyadari jika seorang Aarav ternyata memperhatikannya dari kejauhan tanpa memberitahu siapapun. "Pak, saya mau langsung pulang!" Agnia ingin pamit. "Udah jam segini, saya harus anterin kamu, takutnya..." Aarav menyela sambil melihat kearah jarum jam tangan. "Nggak usah pak, saya..." "Gaboleh nolak, anak gadis gaboleh jalan sendiri pas magrib gini." tegas Aarav tak terima penolakan. Agnia gusar, namun Aarav terus memaksa bahkan sudah menggenggam ujung hijabnya erat. Disisi lain, Anggara akhirnya tiba diapartemen yang ditempati Jesika, gadis itupun sudah berhenti merajuk setelah melihat betapa indahnya lingerie pemberian lelaki itu. "Malam ini, om nginep aja ya!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN