16. Perkara Teh Celup

1104 Kata
"Kamu tinggal disini?" tanya Aarav sambil menepikan mobil tepat didepan gerbang komplek sesuai petunjuk Agnia. "Iy-iya pak, memangnya kenapa?" Agnia ikut bertanya sebab Aarav terus fokus pada tulisan nama komplek yang terpampang cukup besar diatas gerbang tersebut. "Gapapa, cuma kebetulan ada teman saya yang juga tinggal dikomplek ini." jawab Aarav tersenyum kecil. "Iya sih ... ini kawasan elit, tapi saya disini cuma numpang kok !" jelas Agnia lagi, tak ingin Aarav tahu yang sebenarnya. "Oh gitu!" Aarav mengangguk paham. "Sama siapa?" lanjutnya bertanya. "Sama Om!" Agnia terpaksa menjawab dengan penuh keragu-raguan. Bohong kalau Agnia tak tahu tentang dosa saat tidak mengakui telah bersuami, hanya saja ia malas mengumbar latar belakangnya, belum lagi, orang-orang akan mempertanyakan alasan mengapa ia memilih untuk menikah dengan pria dewasa yang sudah punya anak. "Oh ya... Oke." sekali lagi Aarav mengangguk tanpa banyak bertanya. Iapun mempersilakan Agnia untuk keluar mobil. "Makasih ya pak!" seru gadis itu menunduk disamping jendela yang terbuka. "Sama-sama, sayang!" balas Aarav ikut menganggukkan kepala. "Hemmm...!" gadis itu mengeram. Agnia tidak tuli, ia mengerutkan kening sangat dalam menyadari ujung kalimat pria itu. Ini tidak lucu, apa kata orang nanti? Namun bukannya meralat, Aarav malah sedikit salting lalu menyembulkan sebelah tangan dan kepalanya keluar jendela demi mempertegas ucapannya. "Sayang aja, kita gak sempet makan-makan, padahal lagi rayain ulangtahun." iapun menuntaskan potongan kalimat yang sempat membuat Agnia risih. Mendengar itu, Agnia menghela napas lega dan membuang jauh pikiran negatifnya, lalu menanggapi Aarav dengan kekehan kecil. "Ya ampun pak, diajak nobar aja saya udah seneng loh, soal acara makan-makan bisa lain kali." "Oke, besok-besok saya mau ngajak kamu makan. Tapi aman kan, gak ada yang bakal marah?" introgasi ala buaya tipis-tipis, Aarav sengaja memancing kejelasan status Agnia. "Aman kok, cuma perlu ngurusin Tiara." kekeh Agnia sembari mengacung jari jempol. "Oh, oke... soal dia, serahkan sama saya!" Aarav ikut mengacungkan jempolnya keluar mobil. Agnia pun melambaikan tangan, disusul Aarav yang membalasnya. Tapi tunggu, Agnia kebingungan saat Aarav tanpa berminat menutup jendela mobil bahkan menjalankannya. "Kenapa gak langsung balik, pak?" Gadis itupun berbalik dan menghampiri pria itu lagi. Aarav terkekeh sambil memindai sekeliling. "Saya cuma mau mastiin kamu sampai rumah, kalau udah PAP baru saja cuss!" kata Aarav mendelik. "Mode tor monitor ya ketua?" gadis itu ikut terkekeh. "Haha... enggak juga kok!" balas Aarav terkekeh malu. "Yaudah, saya masuk dulu!" Agnia kembali pamit melambaikan tangan. "Silakan, hati-hati!" balas Aarav mengangguk. "Bapak yang hati-hati, jangan sampai diculik kuntilanak genit." canda Agnia sambil melangkah mundur. Karena ia memaksa untuk diturunkan disana, terpaksa Aarav mengalah dan memastikan gadis sampai kerumah dengan menunggu didepan komplek tersebut. Beberapa menit berlalu, wujud imut dan menggemaskan si gadis muda sudah menghilang ditelan jarak, tak lama, bunyi denting ponsel milik Aarav akhirnya meminta perhatian, layar pada benda tipis itu memperlihatkan sepatu Agnia yang sudah nangkring dirak, menandakan bahwa gadis yang ia tunggu telah sampai dirumahnya dengan selamat. Aarav tersenyum menikmati interaksi kecil bersama Agnia, namun sejurus kemudian ia tiba-tiba membuka room chat dikontak yang lain, dilanjutkan dengan mengetik sebuah pesan singkat. [Temui gue di klinik!] *** Cup "Om pergi dulu ya cantik!" ucap Anggara menurunkan Jesika dari pangkuannya setelah mencium bibir ranum itu sekilas. "Loh, emang kita gak jadi?" Jesika kembali merasa dikecewakan. "Lain kali kan bisa!" elak Anggara memasang lagi kancing bajunya yang sempat dilepas gadis itu. "Oomm.. tapi aku kan udah-" "Sabar, nanti saya balik kesini lagi!" ujar Anggara, ia tahu kondisi libido Jesika yang sudah naik, hanya saja sebagaimanapun gadis itu merayunya, ia sama sekali tak cukup gairah untuk melakukan hal yang ditunggu-tunggu itu sekarang. Entah dimana kurangnya, padahal penampilannya sudah sangat cantik, seksi dan panas saat mengenakan lingerie pemberiannya. "Sekali lagi om gostingin aku, ponsel ini aku sita!" Menyadari kepergian Anggara disebabkan sebuah pesan yang baru masuk, iapun mengancam akan mengambil sikap tegas. "Beb, om bener-bener ada urusan mendadak." jelas Anggara meski hanya mendapatkan punggung menawan sugar babynya. Sang gadis membuang muka membelakangi tanpa bersedia mendengarkan. "Sibuk aja terus!" rengek Jesika. "Yang penting kan uangnya buat kamu, gak kemana-mana!" kata Anggara merasa menang. Karena memang, setelah itu Jesika benar-benar bungkam dan tidak banyak protes lagi, iapun bisa melenggang leluasa meninggalkan apartemen itu demi menemui teman SMAnya. "Bukannya fokus memperbaiki hubungan sama istri, malah main sugar baby!" Anggara langsung dihadang sindiran menohok dari Aarav saat baru selangkah memasuki ruangannya. Anggara mendengkus, ia melirik tajam pada Aarav yang duduk disofa dengan kedua kaki yang sudah nongkrong diujung atas meja. Pria itu kemudian mendekati Aarav mengambil posisi duduk diseberangnya. "Lu beliin dia lingerie, trus apa udah bisa dicelup?" introgasi berlanjut. "Maksud lu apa, lu buntutin gua!" sinis Anggara menyelidik. "Bukan sengaja, tapi sialnya gua malah ditunjukin pemandangan perselingkuhan yang merusak suasana." balas Aarav seraya menurunkan kaki lalu menyatukan jari-jari kedua belah tangan didepan lutut. Dari situ, Anggara sudah bisa menilai bahwa kebersamaannya dengan Jesika sudah terbogkar. Kemungkinan besar Aarav melihatnya dimall setelah nonton bioskop. "Gua cuma lagi menikmati hidup, gua kaya, gua punya uang, gua oke, daur muda itu duluan yang nempelin gua, mubazir disia-siain." seru Anggara tak merasa bersalah. "Oke ... oke, gua ngerti maksud lo, lagian gua juga sedang kasmaran sama yang namanya sugarbaby." balas Aarav sembari tersenyum kecut yang disambut Anggada dengan alis menukik dan tatapan penuh tanda tanya. "Jadi lu ngajak gue ketemuan cuma mau pamer, atau minta tips dari gua yang udah berpengalaman ini?" Anggara memegang kedua sisi jasnya dengan raut angkuh. "Oh sorry, kita beda level. Punya gua sugarbaby versi syar'i, mahal, kalau kita udah cocok tinggal gua halalin." Aarav lekas mengelaknya. "Lo tenang aja, gua gak bakalan ngerepotin, apalagi sampai minta jurus stecu-stecu versi lo yang gak banget itu." sambungnya lagi. "Yaudah, tapi gua juga gak butuh omelan lo, gua punya taste sendiri bro, lo gausah ikut campur." Anggara mengultimatum teguran Aarav. "Hehehe.. emang ini gak penting juga buat gua, hanya saja gua butuh lo buat jadi bahan analisa." kekeh Aarav meremehkan. Untuk kesekian kali, Anggara kembali mengerutkan keningnya. Ia memilih tak menyahut dan memberi kesempatan untuk Aarav lanjut bicara. "Permainan kalian udah sampai sesi celap celup?" tanya Aarav to the poin. "Hah...!" kini, Anggara lah yang dibuat oleng karena pertanyaan itu. "Pertanyaan macam apa ini?" Anggara terkekeh mencoba menutupi kecanggungannya. "Gua tahunya kemarin lo belum bisa naklukin istri sendiri, makanya gua sekarang nanya, apa mungkin sekarang lo udah sering bikin teh celup sama baby lo!" Sayangnya, Anggara tak bisa bersandiwara terlalu lama didepan Aarav, apalagi setelah pertanyaan itu leluasa terlontar, yang sukses memancingnya untuk berkata jujur. "Gak ada!" tutur Anggara singkat, padat dan mendengkus frustasi. "Kalau belum, jadi fungsi lingerie buat apa, pajangan?" goda Aarav begitu puas. "Aakhh berisik...!" . . . Keesokan hari dipagi buta, Agnia mengendap-endap menuruni tangga seorang diri ia pergi menuju garasi. "Ohhh... swety yellowku, Iam cooming!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN