6. Teman Makan

1256 Kata
"Bi... Caca udah berangkat?" keluar dari kamar, Agnia mampir dimeja makan sembari memegang tas dan ponsel seraya meminum segelas s**u. Ia menyapa bi Ita yang sedang mencuci piring sementara keadaan rumah sudah sepi yang menandakan jiwa ceria dikediaman itu telah berangkat kesekolahnya. "Udah, sama Pak Purnomo!" Namun bukan bi Ita yang menyahut, melainkan Anggara. Gadis berhijab itu menoleh, ia sedikit terjengkit mendapati keberadaan sang suami yang entah datang dari mana, pikirnya Anggara sudah berangkat kekantor sejak tadi, lebih tepat setelah pria itu keluar dari kamarnya. "O...om!" pekik Agnia kaku. "Ayo berangkat, katanya udah telat!" setelah mengajak sang istri, Anggara berlalu begitu saja dengan wajah datar. "Oke, om duluan!" Agnia mengekor seperti anak ayam. Daripada tugas kuliah jadi menumpuk dan rencana wawancara jadi berantakan, apa boleh buat Agnia akhirnya membulatkan tekad dan menahan rasa seorang diri demi hari yang panjang ini. Lagipula, Agnia tetap tidak akan bisa istirahat dengan nyaman kalau chat spam dan kolling-kolling dari teman sekelompok masih berkelanjutan. Its oke, Bismillah saja! Hampir setengah perjalanan, tak ada interaksi. Anggara terlihat fokus mengemudi sambil menyesap kopi, sementara disampingnya Agnia sibuk mencebik dan berkomat-kamit tidak jelas, melirik Anggara sinis. Sesekali ia mendengkus dan menggembungkan pipi seperti menahan sesuatu, sungguh rasa malu membuatnya ingin sekali mencakar apa saja yang bersangkutan dengan Anggara. "Ekhem... Caca bilang kamu sakit perut, kok malah ngampus!" ucap Anggara membuka obrolan. "Udah mendingan, lagian tugas wawancara gak ada yang mau gantiin!" sahut Agnia dingin, dengan sebelah sudut bibir tertarik cuek. Anggara mengangguk paham, lalu ia kembali membujuk pelan. "Nanti kalau ada apa-apa, kabarin saya ya!" kata Anggara tanpa menoleh kesamping, berdalih fokus pada kemudi. Sementara itu Agnia melirik waspada, ia dibuat makin risih bercampur bingung. What the? Tuh kan aneh. Kedua matanya menyipit bisa-bisanya Om cuek ini berubah jadi mode aselole. Bukankah dia selalu sibuk dengan dunianya. Lagipula, untuk apa sok dekat begini, pun obrolan mereka selalu bertabrakan dan tidak singkron. "Om...!" Agnia mencicit pelan namun Anggara dengan cepat menyahutnya. "Ya...!" "Boleh Nia cek sebentar!" tanpa menunggu persetujuan gadis itu merangkak menaikkan kakinya kekursi lalu mencondongkan tubuh untuk lebih dekat, tangannya terulur menyentuh kening Anggara. "Ini kenapa, kamu ada apa?" pria itu heboh memprotes namun tak bisa kemana-mana. Yah kalau mau kabur setidaknya mobil harus diberhentikan. "Om gak salah minum obat, kan? Om baik-baik aja, kan?" Agnia juga memberondong. "Kamu apa-apaan, saya gak kenapa-napa!" tegas Anggara, menepis. "Terus kenapa om kayak gini?" tanya Agnia tanpa berbasa basi. "Gimana maksud kamu?" Anggara mengernyit. "Om ngapain dari kemarin suka banget antar jemput, biasanya aku sama pak Purnomo, kan?" "Emang kamu lebih suka dianterin Purnomo dibanding saya, suami kamu? Atau kamu malu sama temen dikampus kalau ketahuan udah punya suami?" jawaban Anggara sontak membuat Agnia langsung terbungkam. Sekali lagi, sikap Anggara benar-benar diluar prediksi. Penting banget validasi. "Tapikan gak gini-gini juga, bukannya om yang selalu sibuk kerja... workaholic!" sanggah Agnia. "Saya ini suami kamu, apa salahnya kalau sesekali anterin istri, mau kamu apasih? kok saya yang jadi serba salah." potong Anggara tak membiarkan istrinya mengoceh panjang lebar. Degh Lagi-lagi, Anggara menyinggung perkara status suami-istri, membuat Agnia semakin overthingking. Apakah Anggara sedang menuntut haknya? Jujur saja, saat ini ia sama sekali belum siap andai Anggara mulai menginginkan dirinya. Agnia yang terdiam jadi tak berani menyahut lagi, ia bergegas kembali ke posisi semula dan memilih untuk mengarahkan pandangan keluar, ia juga membuka setengah kaca jendelanya agar udara diluar dapat membantu menyegarkan suasana gerah didalam mobil. "Nia, maafin sikap saya selama ini!" kata Anggara menyela sang istri yang bersiap keluar mobil sesampainya digerbang kampus. "Saya cuma pengen memperbaiki diri, tidak seharusnya saya berbeda sikap, kamu seorang istri pantas diperlakukan selayaknya istri-istri lain!" ungkap Anggara panjang lebar. Hening sejenak... Agnia menggigit bibir bawah namun masih bersandar nyaman. "Om gak perlu minta maaf, aku paham kok, para lelaki b******n selalu melakukan hal ini supaya kebohongan mereka gak terbongkar." Dorrr Anggara kaget, tidak menyangka dirinya akan kena ulti. Lah, arah pikiran Agnia jauh dari espektasinya. "Kok kamu malah nuduh gitu!" Anggara nge-gas. Suasana hati yang tadinya syahdu, malah dirusak. Asem! "Om tenang aja, aku gak bakal cemburu kok. Tapi perlu ditegaskan, tak ada perselingkuhan yang dibenarkan!" Double kill Bungkamlah Anggara seketika, nyalinya menciut, tak berani melihat ke arah Agnia lagi. Dalam hati ia menduga, mungkinkah Agnia memiliki kemampuan membaca pikiran, atau menerawang kegiatannya selama ini. Tanpa sempat pamit mencium tangan suami seperti biasa dirumah, otomatis Agnia gagal menerima sepeserpun uang jajan dari Anggara, pria itu sempat ingin menyusul dan masuk kedalam area gedung fakultas demi memberikan jatah yang menjadi hak istrinya. Tapi, mendadak Anggara mengalami penurunan rasa percaya diri saat melihat siapa saja yang mengelilingi sang istri. Sekelompok muda mudi sedang bicara dengan bahasa modern, gaya dan penampilan kekinian, setidaknya disekitar Agnia tak ada yang seusia dirinya. Ia jadi berpikir dua kali, bagaimana nanti andai saja ada yang menanyakan tentang siapa dia, Anggara pasti keberatan kalau Agnia mengakui dirinya sebagai orangtua, wali atau sebagai paman didepan mereka. Dengan sendirinya, Anggara kembali kemobil dengan mulut mengamit tak karuan, kesal pada keadaan. Beberapa waktu telah berlalu, Agnia baru saja menyelesaikan kelas, iapun bersiap dengan jadwal selanjutnya yaitu wawancara, apalagi mereka sudah membuat janji. Awalnya, semua rencana berjalan lancar, pertemuan dengan Dokter Aarav diisi wawancara singkat perkara trik-trik jitu menenangkan pasien dibawah umur, untuk kalangan dokter gigi umumnya pasti kerap bersinggungan dengan hal serupa, maka dari itu, Agnia dan teman-teman menelitinya langsung dengan seorang psikolog. "Oke ... Ada yang mau ditanyakan lagi?" Aarav baru saja menyelesaikan penjabarannya dan kini terlihat sekelompok mahasiswa itu mengangguk paham. Jadi, sebelum menyelesaikan pertemuan, ia dengan baik hati memberi kesempatan untuk bertanya. "Sepertinya sudah cukup pak!" ujar salah satu teman lelaki Agnia yang juga seorang mahasiswa. "Hemm, kalau kamu Agnia ada yang mau ditanyakan?" tawaran Aarav tiba-tiba tertuju pada Agnia yang sibuk dengan catatan. Agnia bingung, mengapa Aarav masih bertanya padanya padahal sudah jelas sejak tadi dirinyalah yang lebih banyak bertanya, menunjukkan jika Agnia tak akan sungkan jika memang butuh penjelasan. "Engg...gak pak, cukup!" Setelah prosesi tanya jawab berakhir, teman-teman Agnia membubarkan diri didepan klinik, bahkan Tiara juga ikut-ikutan meninggalkan gadis itu padahal sebelumnya ia tahu jika Agnia tidak pernah punya kendaraan sendiri. "Hai... belum pulang?" tanya Aarav saat tak sengaja menemukan Agnia dipinggir jalan. "Iya nih pak, masih nunggu jemputan!" kilahnya. Sejak tadi, ia menghubungi pak Purnomo, namun alih-alih dapat jawaban, Agnia malah tak bisa menghubungi sang sopir pribadi sama sekali, oleh karena kehabisan data. "Owh, udah ada yang jemput!" sindir Aarav mengedarkan pandangan kelain arah, kedua tangannya disembunyikan kebelakang. "Entahlah pak, dari tadi gak bisa dihubungi!" saking gusarnya, ia bahkan tak segan berkeluh kesah. "Oh ya!!" sela Aarav. "Eh maaf pak, kok saya malah curhat!" Agnia mengangguk segan salah tingkah sadar pada sikap yang tak semestinya. Ingin mengisi data, tentu Agnia kepikiran soal. Akan tetapi, sialnya Agnia tak memegang uang sepeserpun, sisa uang dari Anggara kemarin sudah dimasukkan kedalam celengan, ia hanya punya lima ribu itupun dari Tiara yang baru melunasi sisa bayar bakso yang kurang kemarin. Aarav melirik Agnia yang memajukan bibir. "MAU SAYA ANTER?" "PAK, BOLEH MINTA HOTSPOT? Kecanggungan berubah konyol ketika keduanya sama-sama saling bertanya. "Lucu banget, kenapa gak bilang dari tadi!" kata Aarav terkekeh sembari mengetikkan nomer password wifi diklinik itu. "Gak enak pak!" ungkap Agnia malu-malu. Ia berhasil mendapatkan sinyal setelah menerima ponselnya kembali. Akan tetapi, belum sempat ia menghubungi pak Purnomo, suara perutnya yang lapar tidak bisa diajak berkompromi. Krook Aarav lekas menoleh dan mengerucutkan kening lalu melihat kearah jam tangannya. "Kamu belum makan?" pria itu terlihat sangat peduli. Hehe... Agnia hanya bisa cengengesan malu dan mengangguk pelan dengan wajah merah seperti kepiting rebus. "Yaudah, jangan telpon jemputan dulu, temani saya makan!" "Eh.."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN