5. Hati Yang Berdebar

997 Kata
Rambut panjang Agnia yang jarang terlihat akhirnya terurai bebas meggetarkan hati Anggara. Walau dalam keadaan setengah sadar, namun gadis itu tetap mempesona saat bergeleng tipis-tipis sembari mengibaskan mahkota indahnya didepan sang suami. Anggara mematung ditempat, ia tidak tahu mengapa kakinya begitu berat melangkah dan malah pandangan matanya seolah terkunci untuk terus menatap kearah sang istri. Bagai orang yang sedang terhipnotis, Anggara terus menyoroti Agnia yang membelai leher hingga tengkuk. Parahnya lagi, pose sang istri malah terlihat sangat s*****l dan menggetarkan melebihi pose Jesika. Sementara itu Agnia makin gerah, terlebih mendengar bisikan bak perintah dari seseorang barusan membuatnya merasa ingin benar-benar mandi. Namun, kepala gadis itu kembali lunglai dan malah kehilangan kesadaran saat salah satu kancing bajunya sulit dilepas. Tubuh Agnia miring kesisi ranjang, tubuhnya hampir terjatuh jika Anggara tak lekas menarik dan menjatuhkan setengah tubuhnya ketengah tempat tidur. Duugh Karena gerakan reflek itu ia jadi tak seimbang, membuat tubuh Anggara malah menindih tubuh Agnia bahkan wajahnya tepat menempel pada bagian kancing baju yang sudah terbuka. Karena merasa sesak dan sulit bernapas, Agnia pun perlahan membuka mata dan menemukan sang suami sudah berada diatas tubuh. Aaaaaaaaa.... Pasangan suami itu sama-sama berteriak dengan mata melotot dan langsung membubarkan tubuh yang tadinya tumpang tindih. Bugh Bugh Bantal empuk melayang kearah Anggara, disusul pentalan guling yang juga nyaris mendarat diwajah, andai Anggara tidak sempat mengeluarkan jurus "Om jangan macam-macam, atau saya panggil damkar!" ancam Agnia dengan rambut acak-acakan sambil heboh dan repot sendiri dengan kancing bajunya itu. "Gausah rusuh, bisa kan? gak ada kebakaran disini!" sentak Anggara kesal. "Dih gak nyadar tadi itu apa? bukannya om lagi terbakar birahhhmmmmpppp." Daripada ada yang mendengar kehebohan Agnia lalu akhirnya berpikir yang bukan-bukan seperti bi Ita, Anggara pun memilih jalan pintas untuk membungkam istri kecilnya itu. "Kebiasaan, dikit-dikit tantrum!! Dengerin dulu penjelasan saya!" Anggara balas mengomel. Hmmmppt Karena mulut masih dibekap tangan suaminya yang besar, otomatis Agnia hanya bisa protes dengan mengaum dalam. Tapi, bukan Agnia namanya kalau tidak cepat bertindak. Happ Awwwhhh Anggara lagi-lagi dibuat meringis setelah salah satu jarinya kena gigitan musang betina, ngilu sebatang-batang cuy. "Ishh, Mana ada maling ngaku, trus tadi Om ngapain endus-endus anunya saya!" cecaran Agnia memekikkan telinga. "Siapa yang endus anunya kamu, kecil gitu mana bisa dimainin!" balas Anggara telak. "Eh, malah body shiming!" Agnia membelalak tak terima. "Habisnya ...!" "Papa ngapain!" Panggilan Harsya diambang pintu memangkas perdebatan. "Eh enggak sayang, nih papa mau bukain sepatunya bunda dulu!" kekehan Anggara sangat canggung. Agnia pun sama, ia reflek melemaskan kepala diatas bantal berpura-pura tidur dan membiarkan Anggara melepas alas kakinya. "Oh yaudah Caca tidur duluan, selamat malam papa!" "Malam Sweetheart!" Braak pintu kembali ditutup. Mengusir suasana canggung dan sungkan ditinggalkan Harsya, Agnia langsung mendorong kasar tubuh Anggara hingga keluar pintu lalu menutupnya cepat. Agnia kembali menghempas tubuh diatas kasur sambil mengusap wajahnya kasar. Sementara Anggara pun ternyata tak jauh beda, ia bergegas pergi kekamar dan menutup pintu rapat-rapat, pria itu berdiri didepan cermin sambil mengamati apa yang terjadi padanya, apakah wajahnya merah? Ia juga memeriksa leher dan kedua tangannya yang ternyata mengeluarkan keringat dingin. Anggara mengerang kesal, ia bingung pada dirinya sendiri, mengapa setiap terjadi phisical touch dengan Agnia, ia selalu mengalami hal serupa. Tiba-tiba saja jantungnya berdebar kencang, aliran darah terasa begitu deras dan kulitnyapun jadi panas dingin, tak pernah Anggara mengalami reaksi sengatan listrik itu dari siapapun. Tanpa mau berlarut pada suasana hati yang tak menentu, Anggara memilih pergi ke walkin closet dan membuka seluruh pakaian, ia mandi dengan shower guna mengusir perasaan aneh. *** "Pakeeettt!" Pagi-pagi diwaktu sarapan, mendadak suara panggilan kurir turut menyapa, membersamai Anggara dan Caca yang sedang mengobrol dimeja makan. "Kaka pesan apa?" tanya Anggara lembut menyadari ada orang diluar rumah, sementara bi Ita sudah tergopoh-gopoh keluar menghampiri. "Kaka gak ada cek out barang, mungkin bunda!" jawab gadis remaja itu, ia bergeleng kepala dengan mulut penuh setelah baru saja memasukkan sesendok nasi goreng kemulut. Anggara pun mengerutkan kening seraya mengangkat kedua bahu. "Paket punya siapa bi?" Bi Ita yang melengos langsung ditanyai Anggara. "Paket non Agni pak!" beritahunya sembari meletakkan paket itu diatas meja makan. "Udah dibayar?" tanya Anggara. "Kayaknya udah deh, soalnya saya tinggal terima aja pak, gak ada tagihan COD!" terang bi Ita. Helaan napas Anggara terdengar, pria itu berpikir keras, bagaimana bisa uang sang istri yang hanya menerima lima puluh ribu perhari, bisa cukup digunakan lagi untuk memesan barang dan keperluan lain. Baginya uang lima puluh ribu bahkan hanya berguna untuk membeli selembar kanebo. "Kaka panggilin bunda dulu ya pa!" selesai makan, Harsya pamit. "Sekalian bawain paket punya bunda!" dengan ramah pria itu memberikan milik Agnia yang berada disamping piring makannya. Ia sendiri tak ingin kepo untuk melihat apa isinya. "Oke pa!" Harsya menyambut dengan riang. Gadis kecil mengetuk pintu kamar dan memanggil pelan. "Masuk aja Ca!" "Bunda, kok masih tidur?" tampilan Agnia yang kucel mengundang Harsya menghampiri kesisi ranjang. "Iya nih, bunda kayaknya gak bisa kemana-mana, perut bunda sakit." keluh Agnia tapi masih berusaha tersenyum mencium lengan Harsya. "Bun, ini apa?.." melihat ada bercak merah pada sprei, remaja itu menunjuk polos memberitahu. "Eh, ya ampun tembus!" Agnia yang langsung melihat kebawah tubuh segera melompat turun dan menuju kekamar mandi, karena panik, ia langsung membersihkan tubuhnya yang terkena rembesan darah didalam kamar mandi tanpa persiapan apapun. Sementara itu, Harsya yang menyaksikan sang ibu sambung mendadak ikut sakit perut, tapi sakit perutnya bukan perkara menstruasi melainkan karena panggilan alam. Tanpa sepengetahuan Agnia, Harsya meninggalkan kamar itu dengan pintu sedikit terbuka, sedangkan dirinya bergegas mencari toilet. Anggara baru saja tiba di ujung tangga, ia terpaksa kembali ke lantai dua untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Karena kamarnya yang bersebelahan, pria itu tentu melewati kamar sang istri. Namun, kamar Agnia yang terbuka membuatnya bisa mendengar teriakan Agnia dari dalam kamar mandi. "Kak... tolong ambilin punya bunda dilaci bawah lemari!" teriak Agnia karena menganggap putrinya masih berada disana, tidak disangka posisi Harsya telah digantikan Anggara. "Caca gak ada, memangnya mau diambilin apa?" ucap Anggara dengan nada sedang, tapi rupanya Agnia masih belum menyadari itu, lalu ia malah membuka pintu dan menyembulkan kepala. "O... om!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN