Bibir lain Tari

1962 Kata

“Pandu.” Tari menyentuh pundak Pandu. Pandu kaget, segera membuka mata dan menoleh, Tari di belakangnya tiba-tiba, “Ada apa?” tanyanya segera menjaga jarak, ternyata apa yang baru saja dia lakukan hanya dalam angannya saja. Tari mengembalikan ponsel Pandu, “Terima kasih.” Pandu menerimanya, meletakkan di meja, kembali melihat jalanan di bawah sana. “Kapan kamu pergi belanja semua makanan di kulkas?” tanyanya ke Tari. “Tadi pagi, ada super market dekat sini, aku bisa menemukan apa pun di sana.” “Kamu ke sana dengan baju seperti itu?” Tari melihat dirinya sendiri, dari ujung kaki hingga sebatas pandangan mata teratas, “Aaaa, ini?” tersenyum sambil menggaruk kepalanya, “Bajuku yang kemarin kucuci dan bersih, jadi aku memakai yang itu, sekarang masih dijemur setelah kucuci tadi.” “Kenap

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN