Tari mengangguk, anggap saja dia gila, lebih ke rasa apakah Pandu benar-benar bisa melakukan apa yang dilakukan pria dan wanita jika sudah dalam keadaan yang seperti ini? Saat Pandu tersenyum, Tari menunduk, menutup kemeja yang dia kenakan tapi tak ada yang terkancing, agar menutupi permukaan kulitnya yang tiba-tiba dingin. Pandu masih memijat miliknya, tapi Tari merasa tak senikmat yang tadi, ada malu ketika melihat Pandu tersenyum seperti itu. Pandu menghentikan pijatannya, “Aku tidak bisa berhenti kalau kita sudah memulainya.” Meletakkan tangan di sisi kanan dan kiri tubuh Tari, “Apa kamu berani mengambil semua risikonya?” Pandu tersenyum kembali, menarik dagu Tari agar menatapnya, ingin membaca arti dari tatapan mata Tari. Tari menelan ludah, dia juga tidak tahu akan melakukan apa, “

