Pandu terengah tepat di sisi Tari, masih mengungkung dengan miliknya yang basah di bawah tubuh Tari setelah muntah, ditatapnya Tari, sama terengah juga seperti dirinya. Pandu tersenyum, meski masih berputar karena pelepasan yang luar biasa, Pandu bisa bangun untuk mengecup kening Tari, cukup lama. Tari tersenyum juga, “Aku ... aku la—par, Pandu.” Ucapannya kalah saing dengan paru-paru yang lebih membutuhkan oksigen. Dadanya naik turun menahan peluh. Pandu terkekeh, duduk di samping Tari, mengusap kening yang berkeringat, menyisikan rambut basah agar tak menghalangi wajah Tari, Pandu melihat Tari yang seperti ini. Pandu berdiri, langsung menggendong Tari, membawanya ke kamar mandi. Pandu tersenyum ke Tari yang menatapnya heran. “Kamu tidak ingin membuang sesuatu? Kita bermain cukup lama.”

