Ada pria mendekat ke meja Pandu dan Tari, membuat ke duanya menoleh dan terheran karena tidak mengenal sosok itu. Ditambah dengan pria itu yang tiba-tiba menyodorkan beberapa lembar foto, Pandu pun secara reflek berdiri, menarik kerah pria itu, “Lancang sekali kamu!” pekiknya, pasalnya pria itu mengambil foto Tari tanpa permisi, itu adalah foto Tari sedang makan bersamanya, tapi hanya foto Tari yang tertangkap. “Na—namaku Hans, aku seorang fotografer, aku sengaja ke sini dan memamerkan fotoku karena aku melihat Nona ini punya potensi yang besar, Tuan.” Tari juga berdiri tadi, menahan lengan Pandu karena tangan itu sudah mengacung akan memukul pria yang bernama Hans, “Tenang, Pandu.” Seolah tak mau mendengar, “Mana kameramu, akan kuhancurkan sekarang!” bukan hanya ancaman, Pandu tidak pe

