Rizky ikut mendekat, “Sudah, pulang saja, aku tidak suka ada yang membuat keributan di kafeku. Bukan hanya kamu, kamu pun juga pergi saja.” Rizky mengatakan ke kedua pembeli yang bertengkar itu. Satunya hanya mengangguk dan pergi, sedangkan yang lainnya malah terkekeh, “Kafemu masuk daftar hitamku, Tuan. Jangan sombong!” menepis semua tangan yang sedari tadi mencoba menyentuh kulitnya, meludah ke sembarang tempat, dan ke luar dengan wajah seolah tak bersalah. Hendra menoleh ke Rizky, “Apa sering kejadian seperti ini di sini?” menggeleng, dia tidak akan tahan kalau harus berhadapan dan ikut menahan emosi setiap waktu. Rizky terkekeh, mengajak Hendra kembali ke ruangannya, “Bagaimana dengan yang tadi, apa aku perlu ke sana?” duduk di kursinya lagi, ada hal yang lebih penting untuk dibahas

