Tari ke ruang tamu, duduk di sebelah Pandu yang terlihat sangat murung dengan tatapan kosong, tangan Tari menyentuh pundak itu, membuat empunya menoleh ke arahnya. Tari tersenyum, “Aku ambilkan makanan, ya?” ucapnya sambil tersenyum. Pandu menggeleng, dia lebih memilih meraih minuman dingin di depannya, dan berasa teh melati tak terlalu manis. “Aku akan pulang, mama meneleponku tadi.” Pandu meletakkan cangkirnya kembali. “Tapi lukamu? Apa kamu akan pulang dengan keadaan seperti ini? Mama akan kawatir nanti.” Tari mencoba menahan Pandu. “Tidak masalah.” Pandu berdiri, menuju ke dapur, “Bunda, aku pulang dulu.” ucapnya sambil mendekat ke bunda Tari, bersalaman untuk berpamit. “Lukamu? Mamamu kawatir nanti.” Bunda Tari ikut berdiri, bahkan dia juga berjalan karena Pandu terus melangkah ke

